Intervensi Bersama AS-Jepang Bayangi Dolar, Yen Diproyeksi Terus Menguat



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Keputusan Federal Reserve (The Fed) menahan suku bunga acuan di level 3,50%–3,75% menandai fase transisi penting yang mulai mengikis dominasi dolar AS.

Melansir data Trading Economics pada Senin (3/8/2026) pukul 15.08 WIB, Indeks Dolar AS (DXY) melandai ke level 99,796 atau melemah 0,12% harian dan terkoreksi 1,05% secara bulanan.

Pada saat yang sama, pasangan mata uang USD/JPY berada di level 156,750 atau melemah 0,43% harian, sementara USD/CHF tercatat di level 0,80824 atau menguat 0,09% harian.


Kondisi melandainya DXY ini mencerminkan berkurangnya daya tarik imbal hasil (yield advantage) aset berdenominasi hijau.

Baca Juga: IHSG Terkoreksi 0,03% ke 6.234 pada Senin (3/8), INDY, CPIN, SCMA Top Losers LQ45

Analis sekaligus Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, menilai penahanan suku bunga Fed berhasil menahan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Menurut Wahyu, kondisi ini menyempitkan selisih imbal hasil antara obligasi AS dan obligasi pemerintah Jepang, sehingga tekanan beli pada dolar AS mereda.

Sebaliknya, pasangan USD/CHF masih mencatatkan kenaikan tipis akibat kebijakan Swiss National Bank (SNB) yang cenderung mempertahankan suku bunga rendah.

Kebijakan SNB tersebut dilakukan guna mencegah penguatan franc Swiss yang berlebihan agar tidak mengganggu sektor ekspor manufaktur mereka.

Di tengah dinamika tersebut, Wahyu memandang yen Jepang (JPY) sebagai mata uang safe haven yang jauh lebih menarik dibandingkan franc Swiss.

Keunggulan yen didukung penuh oleh aksi intervensi mata uang terkoordinasi yang langka antara Kementerian Keuangan Jepang dan Departemen Keuangan AS.

"Koordinasi intervensi mata uang AS–Jepang menjadi sinyal politik dan moneter terkuat yang menahan spekulasi pelemahan JPY lebih lanjut," ujar Wahyu kepada Kontan, Senin (3/8/2026).

Selain itu, langkah Bank of Japan (BoJ) yang terus menaikkan suku bunga acuan secara bertahap memberikan dorongan fundamental riil.

Melihat kuatnya katalis positif tersebut, Wahyu menyarankan pelaku pasar untuk mulai melakukan penyesuaian posisi portofolio.

Investor direkomendasikan mengalihkan sebagian porsi kas berdenominasi dolar ke aset berdenominasi yen guna memanfaatkan tren penyempitan selisih suku bunga.

“Strategi yang tepat adalah buy on dips untuk yen atau sell on strength untuk USD/JPY,” jelas Wahyu.

Langkah ini dinilai paling ideal mengingat posisi short yen saat ini memiliki rasio risk-reward yang sangat buruk akibat intervensi bersama.

Hingga akhir tahun 2026, Wahyu memproyeksikan Indeks Dolar AS (DXY) akan bergerak melandai di kisaran 97,00–99,50 seiring penurunan yield US Treasury.

Untuk pasangan USD/JPY, Wahyu memprediksi pergerakan melandai ke kisaran 152,00–160,00, bahkan tidak menutup kemungkinan menguji level 148,00.

Sementara itu, pasangan USD/CHF diproyeksikan bergerak stabil di rentang 0,7900–0,8300 dengan potensi menguji area 0,7700.

Pergerakan franc Swiss diperkirakan lebih banyak mengekor dinamika umum dolar AS.

Baca Juga: Yield US Treasury Tertinggi Sejak Januari 2025, Investor Tunggu Data Ekonomi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News