Intiland Development (DILD) Absen Bagi Dividen 2025, Ini Alasannya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Intiland Development Tbk (DILD) absen membagikan dividen dari buku tahun 2025.

Hal itu disetujui para pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2025.

Theresia Rustandi, Sekretaris Perusahaan Intiland, mengatakan perseroan tercatat membukukan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp64,26 miliar.


“Dari jumlah tersebut, sebesar Rp2 miliar digunakan sebagai dana cadangan wajib dan sisanya Rp62,26 miliar dicatat sebagai saldo laba,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (10/6/2026).

Theresia mengatakan persetujuan pemegang saham terhadap seluruh agenda RUPS menjadi sinyal positif terhadap arah kebijakan perseroan. Selain memperkuat tata kelola, DILD juga berkomitmen menjaga akuntabilitas serta melanjutkan strategi pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan.

Baca Juga: Momentum Penguatan Indeks LQ45 Berlanjut, Investor Perlu Cermati Deretan Saham Ini

"Perseroan selalu memastikan setiap kebijakan dan langkah strategis dijalankan secara hati-hati, terukur, dan berorientasi pada penciptaan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,” katanya.

Direktur Utama Intiland, Archied Noto Pradono, mengungkapkan strategi utama perseroan tahun ini masih terfokus pada upaya menurunkan jumlah utang atau deleveraging.

Strategi ini menjadi bagian penting dari kebijakan perseroan untuk mengurangi beban keuangan, menjaga efisiensi operasional, dan memperkuat fundamental usaha.

Pada tahun 2025, Intiland berhasil menurunkan jumlah utang sebesar 25% menjadi Rp3,08 triliun dari Rp4,11 triliun pada tahun 2024.

Penurunan tersebut dilakukan melalui restrukturisasi utang, percepatan pelunasan, penjualan aset non-inti, serta pelunasan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Intiland Development Tahap II Tahun 2022 dan Tahap III Tahun 2022 Seri B.

“Penurunan jumlah utang menjadi salah satu pencapaian penting. Langkah ini membantu kami mengendalikan beban keuangan, memperkuat struktur permodalan, dan memberikan ruang yang lebih baik bagi perseroan untuk menjaga stabilitas usaha sekaligus menangkap peluang pertumbuhan ke depan,” katanya.

Baca Juga: IHSG Masih Berpotensi Naik, Meredanya Foreign Outflow Jadi Katalis Positif

Mempertimbangkan tantangan dan risiko usaha ke depan, DILD juga menempuh langkah strategis dengan memperkuat efisiensi pada proses operasional dan keuangan.

Langkah ini merupakan upaya menjaga stabilitas usaha, meningkatkan kualitas profitabilitas, memperkuat struktur keuangan, serta melanjutkan transformasi bisnis secara terukur.

“Tahun ini, kami masih cenderung konservatif dengan mengandalkan proyek-proyek yang ada. Pengembangan proyek baru tetap kami siapkan, tetapi dilakukan sangat hati-hati dengan mencermati peluang, momentum yang tepat, serta daya serap pasar," ungkapnya.

Pada kuartal I 2026, DILD membukukan pendapatan usaha sebesar Rp619,8 miliar atau turun 3,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pendapatan pengembangan memberikan kontribusi sebesar Rp387,1 miliar, sedangkan pendapatan berulang (recurring income) tercatat sebesar Rp232,6 miliar.

Kontribusi pendapatan terbesar pada kuartal I 2026 berasal dari recurring income sebesar Rp232,6 miliar atau 37,5%, diikuti segmen kawasan industri sebesar Rp227,4 miliar atau 36,7%, perumahan sebesar Rp121,9 miliar atau 19,7%, dan high-rise residential sebesar Rp37,9 miliar atau 6,1%.

Perseroan memproyeksikan pasar properti tahun 2026 masih bergerak selektif, namun tetap memiliki peluang pertumbuhan terutama dari segmen perumahan dan kawasan industri. Perseroan menargetkan marketing sales tahun 2026 sebesar Rp1,95 triliun, lebih tinggi dibandingkan realisasi tahun 2025 sebesar Rp1,61 triliun.

 
DILD Chart by TradingView

“Tahun ini kami masih cenderung konservatif dengan mengandalkan proyek-proyek yang telah berjalan. Pengembangan baru tetap kami siapkan, tetapi pelaksanaannya akan sangat selektif dengan mempertimbangkan kesiapan produk, momentum pasar, dan daya serap konsumen,” katanya.

Archied mengatakan perseroan saat ini menyiapkan sejumlah strategi untuk pengembangan proyek baru. Selain rencana pengembangan kawasan industri baru di Jawa Timur, perseroan juga menyiapkan peluncuran Tower E apartemen SQ Res pada semester II 2026.

Strategi lainnya adalah meningkatkan kinerja penjualan dan keuangan melalui strategi yang lebih terarah. Fokus utama diarahkan pada optimalisasi proyek berjalan, penjualan stok siap jual, penguatan segmen perumahan dan kawasan industri, serta pengembangan program pemasaran yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

DILD juga melihat peluang pertumbuhan masih terbuka, terutama pada segmen yang memiliki kebutuhan nyata dan daya serap pasar yang lebih kuat.

“Strategi pemasaran dan pengembangan kami jalankan secara lebih terukur agar dapat mendukung pencapaian target kinerja sekaligus menjaga fundamental perseroan tetap sehat,” paparnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News