Intiland (DILD) bakal utamakan natural growth kawasan industri



KONTAN.CO.ID -JAKARTA. PT Intiland Develpoment Tbk (DILD) bakal mengutamakan pertumbuhan kawasan industri secara organik di tahun ini. Artinya, upaya penambahan lahan industri bakal berfokus pada lahan industri yang sudah eksisting.

Sekretaris Perusahaan DILD Theresia Rustandi menjelaskan, Intiland selalu menekankan strategi yang disebutnya ‘natural growth’ untuk kawasan industri. “Misalnya, apa yang kita punya di Ngoro itu pasti akan kita tambah sekitarnya untuk naikin lahan, itukan akuisisi lahan,” katanya pada Kamis (15/8).

Baca Juga: Wow, Empat Bulan Mendekap Saham DILD, Komisaris Intiland Ini Untung Rp 25 Miliar


Daerah mana yang akan diakuisisi untuk kawasan industri sayangnya belum bisa diungkapkan Theresia. Sejauh ini, DILD terbuka untuk beberapa opsi skema pengembangan kawasan industri baik akuisisi maupun kerja sama.

Adapun DILD menyiapkan belanja modal sebesar Rp 1,2 triliun tahun ini. Jumlah belanja modal itu, kata Theresia bakal lebih banyak dialokasikan di proyek yang sedang dalam tahap konstruksi atau proyek yang pembangunannya baru dimulai tahun ini.

Catatan Kontan.co.id, kawasan industri baru akan melengkapi Ngoro Industrial Park di Ngoro, Mojokerto, Jawa Timur seluas 500 hektare (ha). Intiland sudah mengembangkan lahan seluas 400 ha. Mengintip materi paparan publik pada Mei 2019, beberapa penyewanya seperti Unicharm, Mitsui, Hitachi, HB Fuller, Yakult, Roman Ceramic, Mulia Ceramic, Cort Indonesia dan Toyota Astra Motor.

Baca Juga: Antisipasi lonjakan penduduk Jakarta, Intiland siapkan lahan 1.000 ha di Maja

Adapun tahun ini, lahan siap jual di Ngoro Industrial Park seluas 60 ha. Sejumlah perusahaan dari sektor konsumsi sudah mengajukan minat. Intiland menawarkan harga jual lahan senilai Rp 2 juta per meter persegi (m²)-Rp 2,3 juta per m². Harga tersebut kurang lebih masih sama dengan tahun lalu.

Hingga akhir 2019 nanti, Intiland berharap kawasan industri menyumbang 10% terhadap total target marketing sales atau pendapatan pra penjualan sebesar Rp 2,5 triliun. Kembali mengintip materi paparan publik, kawasan industri belum mendatangkan marketing sales sampai 31 Maret 2019.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Azis Husaini