KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Sariguna Primatirta Tbk (
CLEO) terus memperkuat fondasi pertumbuhan bisnis pada 2026 melalui ekspansi kapasitas produksi, perluasan jaringan distribusi, serta peningkatan efisiensi operasional. Produsen air minum dalam kemasan (AMDK) ini menyiapkan belanja modal atau
capital expenditure (capex) sekitar Rp 700 miliar untuk mendukung ekspansi tersebut. Presiden Direktur CLEO Melisa Patricia mengatakan, mayoritas capex tahun ini akan dialokasikan untuk ekspansi pabrik, penambahan kapasitas produksi, dan penguatan jaringan distribusi. “Untuk tahun 2026, CLEO menganggarkan belanja modal (capex) sekitar Rp700 miliar yang mayoritas akan difokuskan untuk ekspansi pabrik, penambahan kapasitas produksi, serta penguatan jaringan distribusi,” kata Melisa kepada Kontan, belum lama ini.
Baca Juga: Rupiah Menguat ke Rp 17.836 Per Dolar AS di Tengah Hari Ini (14/8), Asia Perkasa Selain ekspansi kapasitas, capex tersebut juga digunakan untuk mendukung otomasi dan meningkatkan efisiensi operasional. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat produktivitas perusahaan seiring dengan pertumbuhan permintaan AMDK di berbagai wilayah Indonesia. CLEO saat ini telah memiliki 32 pabrik yang tersebar di berbagai daerah. Pada 2026, perusahaan menambah tiga fasilitas produksi baru yang berlokasi di Palu, Pontianak, dan Pekanbaru. Pabrik di Palu ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal III-2026. Sementara itu, fasilitas di Pontianak dan Pekanbaru ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal IV-2026. Melisa mengatakan penambahan pabrik tersebut dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan potensi permintaan di setiap wilayah. Menurutnya, CLEO tidak hanya mengejar peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga memastikan tambahan kapasitas dapat terserap oleh pasar. “Penambahan pabrik baru akan meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperkuat jangkauan distribusi, sehingga memberikan ruang bagi pertumbuhan volume penjualan ke depan,” ujarnya. Dengan tambahan fasilitas produksi tersebut, CLEO memiliki fleksibilitas lebih besar untuk memenuhi pertumbuhan permintaan di berbagai wilayah. Keberadaan pabrik yang lebih dekat dengan konsumen juga diharapkan dapat memperpendek jarak distribusi.
Strategi tersebut menjadi penting mengingat karakteristik geografis Indonesia sebagai negara kepulauan. Dengan membangun fasilitas produksi lebih dekat dengan pasar, CLEO dapat menekan biaya logistik sekaligus mempercepat layanan kepada pelanggan. “Pembangunan pabrik mendekati konsumen dapat mengurangi biaya logistik mengingat Indonesia adalah negara kepulauan. Diharapkan strategi ini juga akan menambah margin keuntungan perusahaan,” jelas Melisa. Selain memperluas kapasitas produksi, CLEO juga terus memperkuat jaringan distribusi. Perusahaan menargetkan jumlah jaringan distribusi internal dapat mencapai 500 titik hingga akhir 2026. Hingga kuartal I-2026, CLEO telah memiliki lebih dari 450 jaringan distribusi internal serta lebih dari 11.000 mitra distribusi. Jaringan tersebut menjadi salah satu penopang ekspansi perusahaan untuk memperluas jangkauan produk ke berbagai wilayah. Pertumbuhan kinerja CLEO sendiri mulai menunjukkan momentum yang positif. Pada semester I-2026, perusahaan membukukan penjualan Rp1,7 triliun, tumbuh 23,8% secara tahunan atau year-on-year (YoY) dibanding Rp1,36 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan penjualan tersebut diikuti kenaikan laba bersih sebesar 27% YoY menjadi Rp262,5 miliar dari Rp206,6 miliar pada semester I-2025. Pertumbuhan laba yang lebih tinggi dibandingkan penjualan menunjukkan adanya perbaikan profitabilitas melalui efisiensi operasional. Dari sisi produk, segmen botol masih menjadi kontributor terbesar terhadap pendapatan CLEO. Penjualan produk botol tumbuh 28,8% YoY, sedangkan segmen nonbotol meningkat 20,1% YoY pada semester I-2026.
Baca Juga: IHSG Menguat 0,56% ke 6.337 Sesi I, Top Gainers LQ45: INCO, EXCL, ADMR, Jumat (14/8) Kinerja tersebut turut ditopang oleh rantai pasok yang terintegrasi. Dengan jaringan pabrik yang tersebar di berbagai wilayah, CLEO dapat mendekatkan fasilitas produksi dengan pasar sekaligus mengoptimalkan biaya distribusi dan transportasi. Melisa optimistis tren pertumbuhan tersebut dapat berlanjut pada paruh kedua tahun ini seiring mulai beroperasinya sejumlah pabrik baru. Manajemen tetap mempertahankan target pertumbuhan pendapatan dan laba bersih dua digit hingga akhir 2026. “Kami tetap menargetkan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih dua digit, didukung oleh peningkatan kapasitas produksi, perluasan distribusi, serta efisiensi operasional,” katanya. Meski demikian, ekspansi kapasitas juga membawa konsekuensi berupa tambahan beban operasional dan depresiasi. Beban tersebut terutama akan muncul ketika fasilitas produksi baru mulai beroperasi. Melisa mengatakan perseroan telah memperhitungkan dampak tersebut dan berupaya mengelolanya melalui ekspansi yang dilakukan secara terukur dan disesuaikan dengan kebutuhan pasar. “Ekspansi tentunya akan membawa tambahan beban operasional dan depresiasi, terutama ketika fasilitas baru mulai beroperasi,” ungkapnya. Namun dalam jangka panjang, manajemen berharap peningkatan kapasitas produksi dan efisiensi distribusi dapat memberikan kontribusi positif terhadap profitabilitas. Dengan demikian, tambahan biaya pada tahap awal ekspansi diharapkan dapat dikompensasi oleh pertumbuhan volume dan efisiensi operasional. Dari sisi pendanaan, CLEO akan memprioritaskan penggunaan kas internal untuk membiayai ekspansi. Strategi tersebut didukung oleh kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas operasional yang kuat serta margin EBITDA yang tetap sehat. Di sisi lain, perusahaan tetap memanfaatkan fasilitas perbankan secara selektif untuk menjaga fleksibilitas struktur pendanaan.
Baca Juga: Segera Right Issue 2 Miliar Saham Baru, Cek Profil EURO dan Kinerja Terbarunya Selain ekspansi pabrik dan distribusi, CLEO juga terus menyiapkan inovasi produk untuk menjaga pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan. Perusahaan memperkuat kualitas kemasan, memperluas kanal distribusi modern dan tradisional, serta meningkatkan penetrasi pasar di wilayah yang memiliki potensi pertumbuhan tinggi.
Strategi pemasaran juga terus diperkuat melalui aktivitas
below the line dan
digital marketing untuk meningkatkan
brand awareness dan memperluas jangkauan konsumen. Melisa menegaskan, ekspansi CLEO tidak hanya berfokus pada penambahan kapasitas, tetapi juga pada kemampuan perusahaan membaca kebutuhan pasar. Dengan kombinasi ekspansi pabrik, penguatan distribusi, inovasi produk, dan efisiensi operasional, CLEO optimistis dapat mempertahankan pertumbuhan kinerja dalam jangka panjang. “Selain inovasi produk, CLEO juga terus meningkatkan kualitas kemasan, memperluas kanal distribusi modern maupun tradisional, serta memperkuat penetrasi pasar di wilayah-wilayah dengan potensi pertumbuhan tinggi,” tutup Melisa. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News