Intip Kinerja Bisnis Perbankan Milik Taipan, Mana yang Paling Unggul?



KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Bisnis para Taipan di sektor industri perbankan terlihat cukup baik melihat kinerja laba bersih tahun buku 2023 lalu. Bahkan di antara bank milik konglomerat tersebut telah mengumumkan besaran dividen yang akan dibagikan tahun ini.

Hartono Bersaudara menjadi konglomerat paling cuan dari pembagian dividen PT Bank Central Asia Tbk (BCA) senilai  Rp 33,2 triliun, atau setara dengan 68,4% dari laba bersih tahun buku 2023 yang senilai Rp 48,6 triliun.

Kinerja laba bersih BCA tahun lalu tumbuh 19,4% secara tahunan. Pencapaian ini ditopang peningkatan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) BCA yang tumbuh 17,5% YoY menjadi Rp 75,4 triliun di sepanjang 2023.


Baca Juga: Perbankan Mulai Turunkan Bunga Deposito, Kapan Giliran Bunga Kredit?

Penyaluran kredit BCA juga naik 13,9% YoY menjadi Rp 810,4 triliun, diiringi dengan himpunan Dana pihak ketiga (DPK) yag meningkat 6,0% YoY mencapai Rp1.102 triliun pada tahun lalu.

Selain BCA, ada PT Bank Mega Tbk (MEGA) milik konglomerat Chairul Tanjung, yang telah memutuskan membagikan dividen senilai Rp 2,45 triliun, atau setara 70% dari perolehan laba bersih tahun buku 2023 yang sebesar Rp 3,5 triliun.

Laba bersih Bank Mega tahun lalu tercatat menurun 13,37% YoY dari sebelumnya Rp 4 triliun pada 2022. Penurunan laba bersih tersebut seiring dengan menurunnya kinerja bank di setiap segmen, baik dari pendapatan bunga bersih, kinerja kredit hingga himpunan dana DPK.

Sebelumnya Wakil Direktur Utama Bank Mega Diza Larentie menyebut, penurunan laba bersih disebabkan oleh kenaikan biaya dana. Selain itu penyaluran kredit juga menjadi tantangan di tengah suku bunga tinggi. 

Bank lainnya milik Chairul Tanjung yang berkongsi dengan Grup Salim dan dan Bukalapak (BUKA), yakni PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) justru mencatatkan kinerja laba bersih yang tumbuh 64,64% YoY menjadi Rp444,57 miliar pada 2023. 

Pertumbuhan laba tersebut ditopang pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) yang meningkat 65,29% YoY menjadi Rp 1,04 triliun sepanjang 2023.

Namun jika melihat dari sejumlah bank milik taipan, PT Bank Jago Tbk (ARTO) milik Jerry Ng, menjadi bank yang mencatatkan pertumbuhan laba bersih paling moncer pada tahun 2023. Sesuai dengan namanya, Bank ini menjadi paling jago mencatat pertumbuhan laba besih tertinggi, berhasil tumbuh 355% YoY menjadi Rp 72 miliar dibanding tahun sebelumnya yang sebesar Rp16 miliar.

Capaian positif tersebut ditopang oleh pendapatan bunga bersih sebesar Rp 1,6 triliun. Angka tersebut tumbuh 15,7% YoY dari periode sama tahun lalu sebesar Rp1,35 triliun.  

Baca Juga: Menilik Tren Cadangan Emas Sejumlah Bank Sentral Dunia Hingga Maret 2024

Dari sisi pendanaan Bank Jago juga alami pertumbuhan, di mana pada akhir 2023 jumlah DPK mencapai Rp12,1 triliun atau tumbuh 46% dibandingkan dengan perolehan pada akhir 2022 yang sebesar Rp8,3 triliun.

Bank milik milik konglomerat bos Lippo Group James Riady, PT Bank National Nobu Tbk (NOBU) juga masih mampu mencetak kinerja laba bersih sepanjang 2023 yang tumbuh 36% YoY menjadi Rp 141,5 miliar. 

Naiknya laba bersih tersebut ditopang pendapatan bunga bersih sebesar Rp 735,79 miliar pada tahun 2023, naik dari pendapatan bunga bersih tahun sebelumnya Rp 659 miliar.

Kinerja kredit dan DPK juga tercatat meningkat, masing-masing menjadi Rp 15,13 triliun dan Rp15,28 triliun pada tahun lalu.

Di sisi lain, PT Bank Pan Indonesia Tbk (PNBN) dan PT Bank Panin Dubai Syariah (PNBS) milik Mu'min Ali Gunawan tercatat mengalami penurunan kinerja, meskipun kedua bank ini masih mampu mendulang laba bersih menutup tahun buku 2023.

Panin Bank misalnya, tercatat meraup laba bersih konsolidasi sebesar Rp 3 triliun, menurun 8,34% YoY dari Rp 3,27 triliun pada tahun 2022 lalu. Penurunan laba tersebut disebabkan oleh pendapatan bunga bersih (NII) yang menurun 7,48% yoy dari Rp 10 triliun menjadi Rp 927 triliun pada tahun 2023. 

Senada, penurunan laba bersih Panin Dubai Syariah sebesar 2,33% YoY menjadi Rp 244,69 miliar pada tahun 2023, disebabkan pendapatan bagi hasil yang menurun sebesar 14,58% YoY dari Rp 551,88 miliar menjadi Rp 481,63 miliar pada tahun 2023.

Melihat kinerja bank milik para Taipan tersebut, para analis saham merekomendasikan saham bank dengan kapitalisasi besar seperti bank KBMI IV yang masih menjadi pilihan utama dalam berinvestasi jangka menengah dan panjang. Maklum saja selain rajin bagi dividen, bank-bank besar ini juga mampu menjaga pendapatan bunga bersih (NIM) yang tinggi saban tahun.

Analis Saham Sekuritas BCA Achmad Yaki menyebut selain rajin bagi dividen, investor perlu melihat pergerakan harga saham rata-rata bank dalam tiga hingga lima tahun terakhir, terutama jika harga saham dalam periode tersebut dapat tumbuh di atas 5%-6%.

Baca Juga: Kredit Kendaraan Bermotor Diproyeksi Meningkat pada Momen Ramadan Hingga Lebaran 2024

Meski begitu bagi bank-bank lainnya yang bukan masuk dalam KBMI IV, Analis Saham Sekuritas BCA Achmad Yaki menyebut penyaluran kredit bank tahun ini masih diproyeksi tumbuh sejalan dengan perbaikan kinerja perbankan di 2024.

“Selain itu, saham bank lainnya lebih cocok untuk trading,” kata dia. 

Sementara itu, untuk bank digital, Senior Investment Information Mirae Asset Nafan Aji Gusta menyebut hampir semua saham bank digital sedang mengalami downtrend pada pergerakan sahamnya, seperti BBHI, BBYB, AGRO, AMAR.

Sementara itu dari sisi kinerja, rata-rata bank-bank digital yang menawarkan bunga yang tinggi tentunya memiliki beban biaya yang tinggi, sejalan dengan itu rasio kredit bermasalah (NPL) juga ikut tinggi, mengingat saat bank digital memberikan bunga simpanan yang tinggi, tentunya bank juga akan mengimbangi dengan memberikan bunga kredit yang tinggi, sehingga rasio NPL bank ini juga bakalan ikut tinggi.

Di sisi lain bank konglomerat lainnya seperti PT Bank Mayapada International (MAYA) milik Dato Sri Tahir, PT Bank MNC Internasional Tbk (BABP) milik Hary Tanoesoebidjo, diketahui belum merilis laporan kinerja untuk tahun buku 2023.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Handoyo .