KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Laju konsumsi masyarakat mulai melandai pada kuartal II-2026. Berdasarkan data Mandiri Spending Index (MSI), rata-rata pertumbuhan belanja tercatat sebesar 6,1% secara tahunan (year on year/YoY) pada periode kuartal II-2026. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 6,4% YoY yang dibukukan pada kuartal I-2026. Nah, melemahnya belanja masyarakat tersebut dinilai akan membawa dampak bagi emiten yang bergerak di sektor konsumer. Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama mengatakan pelemahan laju konsumsi secara kuartalan memang menunjukkan adanya normalisasi daya beli, namun belum mengindikasikan kontraksi konsumsi. Dampaknya terhadap emiten konsumer akan berbeda di tiap segmen.
Baca Juga: Belanja Masyarakat Melandai, Investor Perlu Cermati Dampaknya ke Emiten Konsumer Emiten yang bergerak di produk kebutuhan pokok atau
consumer staples cenderung lebih defensif karena permintaannya relatif stabil, sedangkan emiten yang bergantung pada
discretionary spending berpotensi menghadapi tekanan volume penjualan dan margin jika konsumen semakin selektif dalam berbelanja. "Secara keseluruhan, saya memperkirakan pertumbuhan laba sektor konsumer masih positif hingga akhir 2026, meski tidak seagresif ekspektasi awal tahun. Fokus investor kemungkinan akan lebih tertuju pada kemampuan emiten menjaga volume penjualan, efisiensi biaya, dan mempertahankan margin," kata Elandry kepada Kontan, Selasa (7/7/2026). Elandry juga menerangkan peluang perbaikan kinerja pada sektor konsumer masih terbuka pada semester II, khususnya kuartal IV. Sentimen pendorong berasal dari potensi peningkatan belanja menjelang akhir tahun, musim liburan, promosi berbagai platform ritel, serta apabila inflasi tetap terkendali dan daya beli masyarakat membaik. Di sisi lain, faktor pemberat masih berasal dari perlambatan pertumbuhan ekonomi, ketidakpastian global yang memengaruhi sentimen pasar, serta tekanan terhadap biaya bahan baku apabila nilai tukar rupiah kembali melemah. Maka dari itu, pemulihan sektor konsumer kemungkinan berlangsung bertahap, bukan dalam bentuk lonjakan yang signifikan.
Baca Juga: Masyarakat Mulai Hati-hati dalam Belanja, Emiten Konsumer Bakal Terimbas Dari sisi saham pilihan, Elandry masih melihat emiten yang memiliki fundamental kuat, pangsa pasar besar, dan kemampuan menjaga profitabilitas di tengah perlambatan konsumsi tetap prospektif, di antaranya adalah PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Mayora Indah Tbk (MYOR) dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT). ICBP dan INDF relatif defensif karena portofolio produknya merupakan kebutuhan sehari-hari serta memiliki diversifikasi bisnis yang baik. MYOR berpotensi mendapat dukungan dari pertumbuhan ekspor sekaligus pasar domestik. Sementara AMRT masih menarik didukung ekspansi gerai yang konsisten dan jaringan distribusi yang luas sehingga mampu menjaga pertumbuhan penjualan meskipun konsumsi melambat.
Rekomendasi Saham Untuk target investasi hingga akhir 2026, Elandry merekomendasikan buy saham ICBP, INDF, MYOR dan AMRT di target harga masing-masing Rp 9.000, Rp 8.000, Rp 2.250, dan Rp 2.000 per saham. "Secara umum, saya masih melihat sektor konsumer layak dicermati sebagai sektor defensif. Namun, saya lebih selektif pada emiten yang memiliki pricing power, neraca keuangan yang sehat, serta mampu mempertahankan pertumbuhan volume penjualan di tengah kondisi daya beli yang belum sepenuhnya pulih," tambah Elandry.
Baca Juga: Cermati Rekomendasi Saham Emiten Konsumer yang Tertekan Pelemahan Rupiah Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News