KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja operasional dan finansial PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) berpeluang kuat membaik pada kuartal III-2026 setelah sempat melambat di awal tahun. Penurunan pendapatan sebesar 4,9% YoY menjadi Rp 2,5 triliun serta laba bersih yang terkoreksi 8,1% YoY menjadi Rp 767 miliar pada kuartal I-2026 lebih disebabkan oleh pergeseran siklus produksi musiman, bukan akibat masalah struktural operasional perseroan. Prospek pemulihan kinerja perseroan pada paruh kedua tahun ini bakal ditopang oleh potensi peningkatan volume panen Tandan Buah Segar (TBS) serta tren penguatan harga minyak kelapa sawit global.
Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori Ester Mulyani menilai prospek positif tersebut juga tercermin dari efisiensi pengolahan pabrik TAPG yang tetap terjaga dengan baik di tengah tantangan volume produksi pada awal tahun.
Baca Juga: Prospek Saham Triputra Agro (TAPG) Masih Menarik Meski Harga CPO Bergejolak "Bahkan, tingkat ekstraksi minyak atau oil extraction rate masih meningkat sekitar 1 poin persentase menjadi 24,1%, yang menunjukkan efisiensi pengolahan tetap cukup baik di tengah penurunan volume produksi," ungkap Ester kepada Kontan, Rabu (29/7/2026). Ester menjelaskan bahwa pemulihan kinerja TAPG pada semester II-2026 didukung oleh pola panen yang secara historis lebih tinggi dengan porsi distribusi produksi sekitar 48% di semester I dan 52% di semester II. Selain itu, target pertumbuhan produksi TBS tahunan sebesar 6% hingga 10% diyakini dapat tercapai berkat profil usia tanaman TAPG yang berada pada masa produktif. Dari sisi komoditas, pergerakan harga CPO acuan yang telah menguat ke kisaran MYR 4.642 per ton per 28 Juli 2026 turut menjadi pendorong utama pendapatan perseroan. Namun, Ester mengingatkan bahwa TAPG masih menghadapi sejumlah tantangan operasional hingga kuartal III-2026, terutama risiko kenaikan biaya pupuk yang menekan marjin produksi.
Baca Juga: Kinerja TAPG Tertekan Cuaca dan Produksi, Cek Rekomendasi Sahamnya "Tantangan kedua adalah faktor cuaca, di mana kemungkinan kondisi yang lebih kering pada semester II dapat mengganggu aktivitas panen, meningkatkan risiko kebakaran, dan memengaruhi pembentukan buah," ujar Ester. Kenaikan harga CPO yang terlalu tinggi juga berpotensi mengurangi daya saing ekspor serta mendorong konsumen beralih ke minyak nabati pesaing seperti minyak kedelai. Dalam mencermati prospek TAPG, investor perlu memantau realisasi produksi harian, average selling price, serta efektivitas penyerapan alokasi belanja modal 2026 yang diperkirakan mencapai Rp 920 miliar. Angka belanja modal tersebut dialokasikan untuk pembangunan pabrik kelapa sawit baru berkapasitas 45 ton per jam serta program replanting rutin seluas 4.000 hektar per tahun guna menjaga keberlanjutan produksi jangka panjang. Dari sisi sentimen eksternal, rencana perluasan mandatori biodiesel B50 pada semester II-2026 dipandang sebagai pendorong utama permintaan CPO domestik. Kementerian ESDM memperkirakan program B50 membutuhkan pasokan biodiesel sebesar 16,7 juta hingga 18 juta kiloliter atau menyerap sekitar 15,2 juta hingga 16,3 juta ton CPO. Peningkatan campuran bahan bakar dari B40 menjadi B50 ini berpotensi menyerap pasokan CPO pasar domestik sehingga mengurangi porsi yang tersedia untuk pasar ekspor. "Kondisi ini berpotensi menciptakan price floor yang lebih kuat bagi CPO, khususnya ketika produksi tidak tumbuh secepat peningkatan permintaan biodiesel," ungkap Ester.
Baca Juga: Prospek Triputra Agro (TAPG) Positif di 2026, Ditopang Harga CPO dan Program B50 Sebagai produsen yang berorientasi pada pasar domestik, TAPG bakal memperoleh manfaat terbesar dari dorongan B50 melalui kenaikan harga jual rata-rata CPO. Mempertimbangkan kombinasi pemulihan fundamental dan penguatan harga komoditas, pergerakan saham TAPG dinilai mulai menunjukkan sinyal teknikal yang positif. Ester merekomendasikan Buy on Weakness untuk saham TAPG dengan cermat memperhatikan area batas akumulasi. Secara teknikal, saham TAPG baru saja menembus area konsolidasi di kisaran Rp 1.650–Rp 1.680 dan diperdagangkan di atas indikator Moving Average MA50 serta MA200. Ester menilai area Rp 1.680–Rp 1.700 menjadi level yang menarik untuk akumulasi apabila terjadi koreksi sehat. Sementara itu, target resistance terdekat saham TAPG berada pada rentang Rp 1.850–Rp 1.900.
Apabila level resistance tersebut berhasil ditembus dengan dukungan volume transaksi yang meningkat, peluang penguatan saham TAPG menuju level psikologis Rp 2.000 akan semakin terbuka lebar. Adapun risiko utama terhadap rekomendasi ini meliputi potensi penurunan harga CPO, kenaikan biaya pupuk, cuaca ekstrem, serta dinamika implementasi B50.
Baca Juga: Produksi di Awal Tahun Rendah, Triputra Agro (TAPG) Ditopang Tingginya Harga CPO Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News