Intip Prospek Surya Semesta (SSIA) Pasca BYD Resmikan Pabrik di Subang Smartpolitan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) tersengat sentimen peresmian pabrik BYD di wilayah Subang Smartpolitan.

Peresmian pabrik BYD itu dijadwalkan pada 3 September 2026. Nilai investasi pembangunan pabrik di lahan seluas 126 hektare tersebut sebesar Rp 11,7 triliun, dengan kapasitas produksi hingga 150 ribuan unit setahun.

Per semester I 2026, SSIA mencatatkan pendapatan prapenjualan alias marketing sales lahan industri sebesar 9,4 hektare (ha) sepanjang semester I-2026. 


Luasan marketing sales sepanjang semester I-2026 tersebut setara Rp 195,9 miliar. SSIA juga mencatatkan backlog penjualan lahan seluas 4,1 hektare yang senilai Rp 84,3 miliar di paruh pertama 2026.

Baca Juga: Prospek Emiten Alat Berat Diproyeksi Masih Menantang, Simak Rekomendasi Analis

Nama besar konglomerasi lain pun ikut berinvestasi di kawasan SSIA, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sebut saja, Grup Prajogo Pangestu, Grup Djarum, dan Grup Henan Putihrai.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand melihat, peresmian pabrik BYD di Subang Smartpolitan menjadi katalis yang sangat positif dan konkret. 

Peresmian pabrik BYD senilai Rp11,7 triliun di Subang, ditambah masuknya konglomerat besar seperti Grup Prajogo, Djarum, dan Henan Putihrai, mengkonfirmasi Subang Smartpolitan sebagai magnet investasi manufaktur kelas dunia. 

“Ini bukan sekadar sentimen jangka pendek, melainkan validasi nyata bahwa positioning SSIA sebagai kawasan industri strategis untuk otomotif dan EV sudah terbukti menarik investor kaliber besar, memperkuat visibility marketing sales dan recurring income jangka menengah,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (2/9/2026).

Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi melihat, peresmian pabrik BYD menjadi bukti bahwa komitmen investor asing sudah termaterialisasi, bukan sekadar rencana atau MOU.

Baca Juga: Prospek ELSA Makin Positif dari Katalis Pengeboran Sumur, Cek Rekomendasi Sahamnya

“Melihat kawasan Subang SSIA juga sudah dimasuki beberapa konglomerat besar, dengan permintaan lahan broad-based dan tidak bergantung pada single investor, ini secara struktur lebih sehat,” ujarnya kepada Kontan, Rabu.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan, peresmian tersebut menjadi validasi bahwa Subang Smartpolitan mulai berhasil menarik investasi manufaktur berskala besar. 

BYD dengan nilai investasi sekitar Rp11 triliun menjadi salah satu anchor tenant penting bagi kawasan tersebut. Kehadiran BYD berpotensi memberikan efek domino karena perusahaan otomotif besar biasanya diikuti oleh pemasok komponen, baterai, logistik, packaging, hingga berbagai industri pendukung lainnya. 

“Katalis bagi SSIA bukan hanya berasal dari penjualan lahan kepada BYD, tetapi juga dari potensi terbentuknya ekosistem industri baru di Subang,” ujarnya kepada Kontan, Rabu.

Menurut Hendra, yang membuat prospek SSIA semakin menarik adalah masuknya sejumlah investor besar ke kawasan Subang. Kehadiran nama-nama grup konglomerasi yang berinvestasi juga menunjukkan bahwa Subang Smartpolitan mulai mendapatkan kepercayaan dari investor berskala besar. 

Dalam bisnis kawasan industri, keberhasilan menarik anchor tenant sangat penting karena dapat meningkatkan kepercayaan investor lain untuk ikut masuk. 

Ketika perusahaan besar sudah membangun fasilitas di suatu kawasan, calon investor berikutnya akan melihat bahwa infrastruktur, utilitas, akses logistik, dan prospek kawasan tersebut sudah semakin teruji. 

“Posisi Subang juga strategis karena berada di koridor industri Jawa Barat dan memiliki akses terhadap jaringan tol serta pengembangan Pelabuhan Patimban, sehingga dalam jangka panjang berpotensi menjadi salah satu pusat industri baru di Jawa Barat,” ungkapnya.

Dari sisi kinerja, SSIA sedang berada dalam fase transformasi. SSIA kini tidak hanya mengandalkan bisnis properti, tetapi memiliki mesin pertumbuhan baru melalui Subang Smartpolitan.

Ketika penjualan lahan industri meningkat, dampaknya terhadap pendapatan dan laba dapat cukup besar karena bisnis kawasan industri memiliki karakter margin yang menarik. 

“Karena itu, pertumbuhan SSIA ke depan sangat bergantung pada seberapa cepat kawasan Subang mengkonversi minat investor menjadi transaksi lahan dan kemudian menjadi pendapatan serta laba bagi perseroan,” paparnya.

Abida melihat, prospek kinerja SSIA hingga akhir 2026 bisa semakin solid dengan kombinasi turnaround fundamental yang sudah terkonfirmasi dua kuartal berturut-turut. 

Selain itu, juga ada momentum investasi besar seperti BYD yang mempercepat realisasi target marketing sales sebesar 135 hektare di tahun 2026. 

“Dibanding peers seperti DMAS dan BEST yang lebih dulu mendapat validasi dari data center, SSIA kini memiliki katalis serupa dari sektor otomotif dan EV yang mengurangi ketertinggalan dari sisi diversifikasi tenant,” katanya.

Wafi bilang, investasi BYD dan beberapa konglomerasi lain pada SSIA menunjukkan diversifikasi permintaan yang kuat dan tidak bergantung satu sektor. 

Peluang untuk kinerja SSIA di paruh kedua 2026 berasal dari momentum foreign direct investment (FDI) riil, posisi Subang sebagai lokasi strategis untuk automotive/EV, serta jejaring konglomerasi.

“Sementara tantangan berasal dari realisasi revenue recognition penjualan lahan yang masih butuh waktu lantaran konstruksi pabrik BYD perlu waktu untuk selesai dan dukungan aktivitas ekonomi yang berkelanjutan,” katanya.

Hendra berpandangan, peluang perbaikan kinerja SSIA hingga akhir tahun masih terus terbuka. Pertumbuhan akan ditopang oleh penjualan lahan industri, masuknya tenant baru, pengembangan kawasan, serta pemulihan bisnis properti dan hospitality. 

Namun, investor juga perlu memahami bahwa bisnis kawasan industri memiliki siklus yang panjang. Penjualan lahan tidak selalu langsung tercermin menjadi pendapatan pada periode yang sama karena terdapat proses pembangunan, serah terima, dan pengakuan secara akuntansi. 

“Yang harus diperhatikan bukan hanya jumlah nilai investasi BYD, tetapi juga realisasi marketing sales SSIA, jumlah hektare lahan yang terjual, harga jual rata-rata lahan, serta kemampuan perseroan mengubah backlog menjadi pendapatan dan laba,” ujarnya.

Jika dibandingkan dengan emiten kawasan industri seperti DMAS, KIJA maupun BEST, SSIA memiliki karakter yang lebih growth oriented. 

Misalnya, DMAS relatif lebih matang dengan ekosistem industri yang sudah terbentuk, sedangkan SSIA menawarkan cerita pertumbuhan yang lebih agresif melalui Subang Smartpolitan. 

“Ini membuat SSIA memiliki potensi rerating valuasi yang lebih besar apabila Subang benar-benar berkembang menjadi kawasan industri baru,” paparnya.

Namun, konsekuensinya adalah risikonya juga lebih tinggi. Tantangan utama SSIA adalah bagaimana mempertahankan momentum akuisisi tenant, memastikan pembangunan infrastruktur berjalan sesuai kebutuhan investor, menghadapi persaingan antar kawasan industri, serta menjaga kondisi keuangan di tengah kebutuhan investasi yang besar. 

“Faktor makro seperti suku bunga, pertumbuhan ekonomi, kebijakan pemerintah dan kondisi investasi global juga tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan,” ungkapnya.

Hendra pun merekomendasikan speculative buy untuk SSIA dengan target harga di Rp 2.320 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News