KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lonjakan harga minyak mentah dunia dengan Brent yang terus bertahan di atas US$ 100 per barel diproyeksikan bakal menekan biaya perolehan (
landed cost) BBM non subsidi di dalam negeri. Berdasarkan data Bloomberg, Senin (28/9/2026) pukul 12.50 WIB, harga minyak Brent untuk kontrak pengiriman November 2026 melonjak 3,39% ke US$ 107,86 per barel. Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman November 2026 naik 2,33% menjadi US$ 94,56 per barel.
Jika dibandingkan dengan bulan lalu, maka Brent sudah melonjak 19,19% dan WTI melesat 12,49% sepanjang bulan September 2026. Pengamat Energi Universitas Padjadjaran (Unpad) Yayan Satyakti mengatakan, kondisi ini memicu tekanan yang cukup besar terhadap harga keekonomian BBM non subsidi di tanah air.
Baca Juga: idEA: Pertumbuhan E-Commerce Indonesia Mulai Bergeser ke Kualitas Menurutnya, sejak jendela harga Oktober, biaya mendatangkan dan menyalurkan Pertamax sudah melampaui uang yang diterima oleh penjual. Biaya perolehan tercatat naik sekitar 11% dari September ke Oktober, dan melonjak hingga mencapai sekitar 16% bila menggunakan acuan harga pasar pada hari ini. Berdasarkan perhitungannya, harga Pertamax saat ini sudah berada sekitar 15% hingga 20% di atas harga yang berlaku di SPBU. Dengan harga saat ini sebesar Rp 15.950 per liter atau setara Rp 13.750 setelah pajak dikeluarkan, setiap liter Pertamax di Oktober 2026 diperkirakan dijual sekitar Rp 1.250 di bawah biaya perolehannya. "Karena Pertamax termasuk BBM umum yang tidak mendapat kompensasi APBN, selisih terhadap harga formula ditanggung Pertamina sekitar Rp 1,06 triliun per bulan bila (harga) ditahan lagi pada Oktober (volume sekitar 14.200 kiloliter per hari)," ujarnya kepada Kontan.co.id, Senin (28/9/2026). Yayan menuturkan, dengan melihat kondisi lonjakan harga pasar saat ini, potensi beban yang harus ditanggung Pertamina diperkirakan dapat membengkak hingga menyentuh Rp 1,4 triliun per bulan. Sementara untuk produk non subsidi lainnya seperti Pertamax Green 95, Pertamax Turbo, Dexlite, serta Pertamina Dex diproyeksikan mengalami kenaikan harga pada periode 1 Oktober.
Baca Juga: Pemerintah Mendorong Industri Telekomunikasi dan Digital Memperluas Konektivitas "Mengapa tekanannya lebih besar daripada kenaikan Brent? Karena yang melonjak adalah harga BBM olahan, bukan hanya minyak mentah. Selisih harga bensin olahan di Singapura terhadap Brent kini sekitar US$ 25 per barel, hampir tiga kali kondisi normal sebelum perang (sekitar US$ 9)," tuturnya. Terkait prospek harga hingga akhir tahun, Yayan memproyeksikan harga BBM non subsidi pada Oktober hampir pasti mengalami penyesuaian kenaikan untuk produk yang ketat mengikuti formula. Meski pada November dan Desember trennya diperkirakan cenderung mereda perlahan, Yayan memproyeksikan harga formula Pertamax diprediksi akan tetap bertahan di atas Rp 15.950. "Maka gambaran yang paling mungkin pada 1 Oktober, Green 95, Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex naik, sedangkan Pertamax kemungkinan besar ditahan di Rp 15.950. Pada November dan Desember, produk yang mengikuti formula turun sedikit dari puncak Oktober, tetapi tidak kembali ke harga September," ungkapnya.
Guna menjaga kelangsungan industri sekaligus kestabilan harga di dalam negeri, Yayan menegaskan, acuan ideal harga minyak dunia sangat bergantung pada dinamika pasar BBM olahan.
Baca Juga: PRISM Gandeng BNPB Perkuat Kesiapsiagaan Bencana di Hotel Dia bilang, selama selisih harga bensin olahan masih lebar, Pertamax di harga Rp 15.950 per liter baru bisa mencapai titik impas apabila Brent berada di kisaran US$ 80–US$ 85 per barel. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News