KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah diproyeksi masih berada dalam tekanan pada perdagangan hari ini (19/10/2026). Tekanan rupiah berlanjut setelah ditutup melemah tajam hingga tembus ke level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (16/10/2026). Sekedar mengingatkan, Jumat (16/10/2026), rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,50% ke Rp 18.027 per dolar AS. Dalam sepekan, kurs rupiah spot melemah total 0,71% dari posisi Rp 17.899 per dolar AS pada Jumat (9/10/2026). Kurs rupiah Jisdor bahkan melemah 0,58% dalam sehari menjadi Rp 18.052 per dolar AS pada akhir pekan lalu. Pelemahan kurs rupiah Jisdor mencapai 0,94% dari posisi Rp 17.884 per dolar AS pada pekan lalu. Baca Juga: BEI Pangkas Batas ARB Saham Jadi 7% hingga Akhir Tahun, Batas ARA Tetap Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, rupiah masih dalam tekanan walau tidak setajam akhir pekan lalu. Mengingat, tekanan terhadap rupiah pada perdagangan Jumat (16/10/2026) murni dipengaruhi sentimen negatif domestik. Di sisi lain, indeks dolar AS justru terpantau melemah seiring meredanya aksi jual di pasar obligasi global. Saat ini indeks dolar AS (DXY) berada di level 101,8 atau melemah 0,7% secara harian. “Rupiah diperkirakan masih dalam tekanan meskipun mungkin tidak akan melemah setajam Jumat,” jelas Lukman kepada Kontan, Minggu (18/10/2026). Menurut Lukman, langkah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menjatuhkan sanksi dengan akumulasi Rp 2,1 triliun kepada pihak-pihak terkait transaksi saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dapat membantu memulihkan kepercayaan investor. Pemeriksaan awal juga menemukan indikasi potensi pelanggaran pada 31 dari 61 saham High Shareholding Concentration (HSC). Meski demikian, dampak langkah tersebut terhadap pergerakan rupiah diperkirakan tidak akan langsung terasa. Investor masih akan mencermati konsistensi penegakan aturan dan perbaikan transparansi pasar, sesuai dengan kekhawatiran yang disoroti MSCI. Baca Juga: Prospek AMMN, ANTM, BRMS, dan INCO hingga 2027, Mana yang Menarik? Di sisi lain, Analis Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi bilang, untuk perdagangan di awal pekan, pelaku pasar akan mencermati perkembangan sentimen MSCI, juga menantikan pernyataan Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh dalam pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) di Bangkok. Lukman bilang, tidak ada data ekonomi penting dari luar negeri yang menjadi perhatian utama pada Senin (19/10/2026). Sementara itu, dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) diharapkan menaikkan suku bunga acuan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Oktober untuk meredam gejolak nilai tukar rupiah. Lukman memperkirakan, rupiah akan bergerak di kisaran Rp 17.950–Rp 18.150 per dolar AS pada hari ini (19/10/2026). Sementara Ibrahim memproyeksi, rupiah di rentang Rp 18.020-Rp 18.070 per dolar AS untuk hari ini. Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Intip Proyeksi Pergerakan Rupiah Hari Ini (19/10)
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah diproyeksi masih berada dalam tekanan pada perdagangan hari ini (19/10/2026). Tekanan rupiah berlanjut setelah ditutup melemah tajam hingga tembus ke level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (16/10/2026). Sekedar mengingatkan, Jumat (16/10/2026), rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,50% ke Rp 18.027 per dolar AS. Dalam sepekan, kurs rupiah spot melemah total 0,71% dari posisi Rp 17.899 per dolar AS pada Jumat (9/10/2026). Kurs rupiah Jisdor bahkan melemah 0,58% dalam sehari menjadi Rp 18.052 per dolar AS pada akhir pekan lalu. Pelemahan kurs rupiah Jisdor mencapai 0,94% dari posisi Rp 17.884 per dolar AS pada pekan lalu. Baca Juga: BEI Pangkas Batas ARB Saham Jadi 7% hingga Akhir Tahun, Batas ARA Tetap Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, rupiah masih dalam tekanan walau tidak setajam akhir pekan lalu. Mengingat, tekanan terhadap rupiah pada perdagangan Jumat (16/10/2026) murni dipengaruhi sentimen negatif domestik. Di sisi lain, indeks dolar AS justru terpantau melemah seiring meredanya aksi jual di pasar obligasi global. Saat ini indeks dolar AS (DXY) berada di level 101,8 atau melemah 0,7% secara harian. “Rupiah diperkirakan masih dalam tekanan meskipun mungkin tidak akan melemah setajam Jumat,” jelas Lukman kepada Kontan, Minggu (18/10/2026). Menurut Lukman, langkah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menjatuhkan sanksi dengan akumulasi Rp 2,1 triliun kepada pihak-pihak terkait transaksi saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dapat membantu memulihkan kepercayaan investor. Pemeriksaan awal juga menemukan indikasi potensi pelanggaran pada 31 dari 61 saham High Shareholding Concentration (HSC). Meski demikian, dampak langkah tersebut terhadap pergerakan rupiah diperkirakan tidak akan langsung terasa. Investor masih akan mencermati konsistensi penegakan aturan dan perbaikan transparansi pasar, sesuai dengan kekhawatiran yang disoroti MSCI. Baca Juga: Prospek AMMN, ANTM, BRMS, dan INCO hingga 2027, Mana yang Menarik? Di sisi lain, Analis Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi bilang, untuk perdagangan di awal pekan, pelaku pasar akan mencermati perkembangan sentimen MSCI, juga menantikan pernyataan Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh dalam pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) di Bangkok. Lukman bilang, tidak ada data ekonomi penting dari luar negeri yang menjadi perhatian utama pada Senin (19/10/2026). Sementara itu, dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) diharapkan menaikkan suku bunga acuan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Oktober untuk meredam gejolak nilai tukar rupiah. Lukman memperkirakan, rupiah akan bergerak di kisaran Rp 17.950–Rp 18.150 per dolar AS pada hari ini (19/10/2026). Sementara Ibrahim memproyeksi, rupiah di rentang Rp 18.020-Rp 18.070 per dolar AS untuk hari ini. Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News