Intip Rekomendasi Emiten Petrokimia: Harga Minyak Turun Hingga Insentif Impor LPG



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten-emiten produsen petrokimia mulai dapat bernapas lega. Hal ini seiring adanya sentimen positif seperti penurunan harga minyak dunia yang disertai pemberian insentif untuk bahan baku alternatif petrokimia.

Mengutip Bloomberg, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Agustus 2026 ditutup naik 11 sen atau 0,16% menjadi US$ 68,69 per barel pada Kamis (2/7/2026).

Bersamaan dengan itu, harga nafta selaku bahan baku petrokimia yang terbuat dari minyak bumi mengalami penurunan 19,04% ke level US$ 613,74 per ton.


Tak hanya itu, pertengahan Juni 2026 lalu pemerintah mengumumkan pemberian insentif bea masuk 0% untuk impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) untuk industri petrokimia dan bahan baku plastik.

Baca Juga: Terus Tertekan, Intip Valuasi Saham Bluechip Saat IHSG Terkoreksi di Paruh Pertama

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, penurunan harga nafta seiring koreksi harga minyak dunia dan pembebasan bea masuk impor LPG menjadi katalis positif bagi sektor petrokimia.

Dengan adanya LPG impor yang tidak dikenakan bea masuk, ini akan menciptakan diversifikasi bahan baku sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap nafta yang kebetulan harganya sudah turun. Emiten petrokimia pun berpeluang memperbaiki margin laba, terutama jika spread harga LPG dan nafta kompetitif. 

"Utilisasi pabrik berpotensi naik, tapi butuh 1 kuartal–2 kuartal untuk tercermin dampaknya di laporan keuangan," kata dia, Kamis (2/7/2026).

Pengamat Pasar Modal sekaligus Co-Founder AP Trading Insight Singapore Kiswoyo Adi Joe menilai, tren penurunan harga minyak dunia tidak langsung dirasakan dampaknya bagi emiten petrokimia dalam waktu dekat. Sebab, mayoritas pengguna minyak mentah biasanya melakukan pembelian bahan baku melalui kontrak jangka waktu tertentu.

Dengan kata lain, emiten masih dapat menggunakan persediaan yang dibeli ketika harga minyak berada di level lebih tinggi, sehingga penurunan biaya produksi baru akan terasa setelah kontrak lama selesai dan stok bahan baku baru dengan harga lebih murah mulai digunakan. 

 
TPIA Chart by TradingView

"Besarnya manfaat juga bergantung pada siklus pembelian bahan baku, frekuensi pengadaan, serta kapasitas penyimpanan masing-masing emiten," kata dia, Kamis (2/7/2026).

Terlepas dari itu, Kiswoyo menyatakan momen pelemahan harga minyak dunia dapat dijadikan kesempatan bagi emiten petrokimia untuk mengamankan kontrak pasokan bahan baku dengan harga murah.

Memasuki semester II-2026, prospek emiten di sektor petrokimia cukup positif, namun tetap ada sejumlah tantangan yang mengintai.

Wafi menyebut, tantangan utama bagi sektor ini antara lain ancaman banjir impor produk petrokimia dari China yang menekan harga jual produk lokal, pelemahan kurs rupiah yang menaikkan biaya impor dan beban utang valas, hingga gangguan pasokan gas industri. Hal ini bisa mereduksi efek dari sentimen positif seperti pelemahan harga minyak dunia dan insentif impor LPG.

Untuk itu, emiten-emiten produsen petrokimia tetap perlu aktif melakukan diversifikasi bahan baku yang dibarengi oleh efisiensi biaya operasional. Dukungan pemerintah berupa kebijakan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) juga diperlukan untuk membendung maraknya produk impor dari China.

Baca Juga: Simak Rekomendasi Saham dan Prospek PGN (PGAS) Setelah Harga LNG non-HGBT Turun

Kiswoyo menimpali, berkaca dari gejolak geopolitik yang membuat harga minyak dunia melonjak tajam dan pasokan terganggu, upaya peningkatan kapasitas tangki penyimpanan bahan baku sama pentingnya dengan peningkatan kapasitas produksi.

Dengan begitu, pihak emiten bisa menampung lebih banyak volume bahan baku yang dibeli ketika harga rendah.

Dari sekian emiten petrokimia, Kiswoyo menyebut PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) masih menjadi unggulan sekalipun harga sahamnya tampak terpuruk sepanjang tahun ini. TPIA memiliki keunggulan berupa skala bisnis petrokimia yang sudah matang dan terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Lantas, saham TPIA tetap layak dicermati investor dengan target harga wajar di kisaran level Rp 7.000 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News