KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Baramulti Suksessarana Tbk (
BSSR) berpotensi pemulihan, seiring stabilisasi harga batubara global dan efisiensi operasional yang dilakukan. Senior Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas mengatakan, prospek kinerja BSSR masih ditopang oleh harga batubara yang bertahan di atas US$ 65 per ton serta permintaan dari kawasan Asia yang relatif solid. “Kami melihat pemulihan kinerja BSSR berpotensi berlanjut didukung stabilisasi harga batubara, permintaan Asia yang masih solid, serta efisiensi operasional yang menjaga profitabilitas,” ujar Sukarno kepada Kontan, Kamis (18/6/2026).
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa harga batubara belum kembali ke level siklus puncak. Namun, struktur biaya yang kompetitif membuat kinerja BSSR tetap relatif resilien.
Baca Juga: Cek Rekomendasi Saham Danantara: ANTM, TINS, BBRI, TLKM Bisa Jadi Pilihan Senada, Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menjelaskan, keberlanjutan pemulihan sangat bergantung pada pergerakan harga batubara ke depan. “Pemulihan bisa berlanjut jika harga batubara masih bertahan di atas US$ 65 per ton. Efisiensi menjadi buffer tambahan, namun penurunan permintaan dari China dan India tetap menjadi risiko utama,” jelasnya. Dari sisi investasi, BSSR telah merealisasikan belanja modal (capex) sebesar US$ 26,3 juta yang difokuskan untuk akuisisi lahan serta pengembangan eksplorasi melalui anak usaha PT Antang Gunung Meratus (AGM). Sukarno bilang, akuisisi lahan tersebut merupakan langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan cadangan dan memperpanjang umur tambang. “Selain menopang produksi jangka panjang, langkah ini juga memberikan fleksibilitas operasional dan peluang penambahan sumber daya baru,” tambahnya. Sementara itu, Wafi melihat dampak capex terhadap peningkatan cadangan masih memerlukan waktu. “Capex ini berpotensi memperpanjang mine life AGM jika eksekusinya tepat. Namun, dampaknya terhadap reserve base baru akan terlihat setelah hasil eksplorasi terkonfirmasi, sehingga masih terlalu dini untuk sepenuhnya tercermin dalam valuasi,” ujarnya. Dari sisi eksplorasi, AGM dinilai menjadi salah satu katalis jangka panjang bagi BSSR. Sukarno menyebutkan, keberhasilan eksplorasi berpotensi meningkatkan cadangan dan memperpanjang umur tambang. Adapun Wafi mengatakan, kontribusi AGM masih bersifat jangka panjang. “AGM menarik sebagai exploration vehicle, namun ini merupakan optionality jangka panjang dengan horison 3 tahun-5 tahun sebelum berkontribusi ke produksi dan kinerja,” katanya.
Di sisi regulasi, kebijakan ekspor satu pintu dinilai tidak akan berdampak signifikan terhadap fundamental BSSR dalam jangka panjang. Namun, Wafi mengingatkan adanya potensi hambatan dalam jangka pendek.
“Kebijakan ini berpotensi menambah friksi administratif dan risiko keterlambatan volume penjualan pada semester II. Kepastian regulasi juga masih belum sepenuhnya tuntas,” jelasnya. Meski begitu, Sukarno menilai kebijakan tersebut justru dapat meningkatkan transparansi dan efisiensi tata niaga ekspor dalam jangka panjang. Untuk rekomendasi, Sukarno memberikan rating
trading buy pada saham BSSR dengan target harga di kisaran Rp 4.900 hingga Rp 5.000 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News