KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja emiten sektor konsumer diproyeksi tetap mengalami pertumbuhan volume penjualan di tengah tekanan daya beli masyarakat. Prospek kinerja diharapkan lebih positif di semester II-2024 yang didukung program bantuan sosial, Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak, serta pemangkasan suku bunga. Analis Bahana Sekuritas Christine Natasya mencermati, di dalam negeri, kinerja emiten konsumer pada kuartal II-2024 yang kuat diatribusikan pada belanja prapemilu, serta periode Ramadan bersamaan dengan Lebaran. Misalnya, volume penjualan PT Mayora Indah Tbk (MYOR) tumbuh 12% YoY di kuartal II-2024, dan penjualan Mi Instan domestik PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) juga meningkat sebesar 12% YoY..
Pertumbuhan pendapatan emiten Fast Moving Consumer Goods (FMCG) terlihat lumayan juga berkat dukungan penjualan ke luar negeri. Penjualan internasional telah didukung oleh dolar AS yang lebih kuat dan permintaan yang pulih. Bahana Sekuritas mencatat bahwa pendapatan luar negeri ICBP tumbuh sebesar 17,6% YoY dengan pertumbuhan volume rata-rata 9% YoY, sementara penjualan luar negeri MYOR tumbuh 24,7% YoY di kuartal II-2024. Baca Juga: Saham-Saham Big Caps Ini Masih Terus Diborong Asing Meski IHSG Memerah “Perusahaan FMCG mengalami pertumbuhan volume pada tahun 2024 setelah tahun 2023 yang lambat karena kenaikan harga. Ini mendukung peningkatan leverage operasi dan margin yang berkelanjutan,” ungkap Christine kepada Kontan.co.id, belum lama ini. Di semester kedua 2024, Christine mempertahankan mayoritas Gross Profit Margin (GPM) atau margin laba kotor emiten konsumer tidak berubah karena harga komoditas masih stabil seperti gandum dan Crude Palm Oil (CPO). Meskipun memang GPM bisa terancam lebih rendah khususnya untuk MYOR karena harga kakao dan kopi yang lebih tinggi. Selain itu, perpanjangan program bantuan beras oleh pemerintah hingga Desember dan dukungan belanja terkait pemilihan daerah (pilkada) akan memberikan dukungan penyeimbang dikala potensi penghapusan harga bahan bakar bersubsidi pada kuartal keempat 2024 dapat berdampak negatif pada daya beli domestik. Christine menilai, guna mendukung pertumbuhan volume di masa mendatang, beberapa perusahaan FMCG telah berinvestasi dalam perluasan kapasitas. Misalnya ICBP menambah kapasitas untuk mi, susu, dan makanan ringan dengan rencana belanja modal sebesar Rp3,5 triliun untuk tahun ini. Kemudian, Cisarua Mountain Dairy (CMRY) meningkatkan kapasitas di segmen Consumer Foods karena kapasitasnya akan digunakan sepenuhnya tahun depan. Selain itu, dua pabrik baru MYOR untuk biskuit dan wafer akan dibuka pada kuartal ketiga dan kuartal keempat 2024. “Perluasan kapasitas biasanya menimbulkan biaya overhead yang lebih tinggi pada tahun pertama. Namun kami percaya bahwa pertumbuhan pendapatan FMCG yang kuat dari tahun ke tahun akan membantu mendukung kinerja operasional,” imbuh dia. Baca Juga: Saham-Saham yang Banyak Diborong Investor Asing di Awal Pekan Ini Analis Mirae Asset Sekuritas Abyan Yuntoharjo menyebutkan, terdapat beberapa faktor-faktor utama yang akan menentukan prospek kinerja emiten konsumer di semester kedua 2024. Mulai dari program bansos, pilkada, transisi kepemimpinan Prabowo, potensi penerapan pajak cukai minuman manis (MBDK), PPH 12%, hingga arah suku bunga Bank Indonesia (BI). Abyan memaparkan bahwa kinerja emiten konsumer di sisa tahun ini akan terdampak positif program bantuan sosial pemerintah, dengan fokus pada rumah tangga berpenghasilan rendah. Di mana, Pencairan bansos ini dijadwalkan dua bulan sekali pada bulan Agustus, Oktober, dan Desember 2024. Pilkada yang berlangsung serentak di November, persiapannya diharapkan dapat dimulai pada akhir kuartal ketiga 2024. Katalis dari momentum pilkada ini dapat memberikan angin segar dalam jangka pendek, namun manfaatnya mungkin terbatas karena sebelumnya tingkat konsumsi pada pemilihan presiden (pilpres) menunjukkan ketidakpastian. Kemudian, pelantikan presiden baru akan dilakukan pada bulan Oktober. Pelantikan ini dapat menanamkan kepercayaan di antara investor asing, sehingga berpotensi menarik masuknya kembali investasi ke Indonesia karena lingkungan ekonomi yang lebih stabil dan menjanjikan. Namun di sisi lain, Abyan mengantisipasi, kinerja emiten konsumer dapat terdampak negatif potensi penerapan pajak cukai minuman manis (MBDK). Penerapan cukai MBDK dapat meningkatkan implisit dalam pajak yang dikenakan pada produksi dan/atau penjualan. Intervensi ini bertujuan untuk mencegah konsumsi minuman manis yang berlebihan, sehingga dapat merugikan margin perusahaan konsumen jika biaya tidak dibebankan kepada pelanggan. Adapun pemerintah berpeluang menerapkan cukai MBDK di tahun 2025. “Mengingat daya beli yang lemah saat ini, kami percaya bahwa penerapannya (cukai minuman manis) perlu dipantau secara ketat,” jelas Abyan dalam riset 9 Agustus 2024. Selain itu, Abyan menambahkan, Indonesia telah mempertimbangkan cukai gula selama bertahun-tahun untuk mengatasi masalah kesehatan masyarakat yang terkait dengan konsumsi gula yang tinggi dan untuk menghasilkan pendapatan tambahan. Pemerintah juga berencana menerapkan kenaikan PPN dari 11% menjadi 12% yang akan mulai berlaku pada awal tahun 2025. Kenaikan ini diperkirakan dapat meningkatkan biaya bisnis, sehingga berpotensi mengakibatkan harga yang lebih tinggi bagi konsumen untuk berbagai barang dan jasa. Namun demikian, Abyan menuturkan bahwa dampak penuh berbagai kebijakan pemerintah tersebut diharapkan baru akan terwujud pada tahun 2025. Oleh karena itu, Mirae Asset Sekuritas mempertahankan sikap netral untuk sektor konsumer karena tidak ada katalis substansial.
INDF Chart by TradingView