Intip Rekomendasi Saham XLSMART (EXCL) yang Tanggung Rugi Usai Merger



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kendati mengalami kerugian bersih pada 2025, kinerja keuangan PT XLSMART Telecom Indonesia Tbk (EXCL) diperkirakan akan tumbuh lebih baik memasuki tahun 2026.

Sebagaimana diketahui, pendapatan EXCL mengalami kenaikan 23,44% year on year (yoy) menjadi Rp 42,45 triliun pada akhir 2025. Di sisi lain, EXCL mengalami rugi bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 4,43 triliun pada 2025, padahal tahun sebelumnya mereka mampu mencetak laba bersih Rp 1,82 triliun.

Di samping itu, EXCL mencatatkan pertumbuhan EBITDA yang dinormalisasi (normalized EBITDA) sebesar 13% yoy menjadi Rp 20,1 triliun pada 2025 dengan normalized EBITDA margin sebesar 47%. Kontribusi pendapatan layanan data dan digital terhadap total pendapatan EXCL juga mencapai lebih dari 90% pada akhir tahun lalu.


Presiden Direktur & CEO XLSMART Rajeev Sethi menyatakan, pihaknya bersyukur atas hasil pencapaian perusahaan dari fase awal merger hingga sepanjang akhir 2025. Di tengah tantangan industri yang dinamis dan konsolidasi yang dilakukan, EXCL tetap berhasil meraih pencapaian yang baik. 

Baca Juga: Komisaris Triputra Agro (TAPG) Borong Saham di Harga Rp 1.490

"Merger yang kami lakukan berjalan dengan sukses dan tahapan-tahapan integrasi bisa diselesaikan lebih cepat dari yang direncanakan, kemudian target sinergi efisiensi yang lebih besar juga berhasil kami capai sehingga bisa memberikan ruang untuk meningkatkan margin pertumbuhan di tahun berikutnya," ungkap dia dalam keterangan resmi, Jumat (13/2/2026).

Rajeev menambahkan, XLSMART juga berhasil meningkatkan pertumbuhan pendapatan serta meningkatkan pertumbuhan average revenue per user (ARPU) yang disertai dengan meningkatnya pengalaman pelanggan. 

EXCL pun sukses mewujudkan konsolidasi dan integrasi jaringan secara solid, sehingga bisa menciptakan fondasi untuk menyediakan infrastruktur jaringan yang lebih kuat.

Hal ini termasuk dengan diluncurkannya cakupan jaringan dan layanan 5G di berbagai kota/kabupaten di Indonesia beberapa waktu lalu dan akan terus bertambah secara bertahap ke depannya. Ke depannya, EXCL masih akan terus fokus untuk meningkatkan pertumbuhan yang berkualitas dan berkelanjutan.

EXCL juga menyebut, aksi merger yang dilakukan perusahaan membuatnya berhasil merealisasikan sinergi US$ 250 juta pada tahun pertama. Lebih penting lagi, EXCL mampu menjaga stabilitas layanan dan mempertahankan pertumbuhan bisnis di tengah transformasi besar ini, sehingga membuktikan ketangguhan operasional dan komitmen memberikan nilai berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan.

Secara terpisah, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, rugi bersih yang dialami EXCL lebih bersifat pada kerugian akuntansi sebagai dampak pasca merger dengan Smartfren.

Usai merger, EXCL harus menanggung depresiasi dipercepat, peningkatan biaya integrasi, dan impairment aset. Jika faktor non-tunai ini dikeluarkan, bukan tidak mungkin EXCL mampu membukukan laba.

 
EXCL Chart by TradingView

Peluang EXCL untuk segera memulihkan kinerjanya pada 2026 terbuka lebar, utamanya jika target pertumbuhan EBITDA EXCL sebesar dua kali lipat dari pertumbuhan pendapatan bisa tercapai. Hal ini bisa dipenuhi seiring rampungnya integrasi EXCL pasca merger pada semester I-2026. 

"Sehingga, beban depresiasi dipercepat akan terhenti dan perusahaan bisa memulai sinergi efisiensi biaya," ujar dia, Jumat (13/2/2026).

Maka dari itu, EXCL mesti bisa memastikan eksekusi sinergi merger yang ditargetkan mencapai US$ 250 juta-US$ 300 juta berjalan lancar. Emiten ini juga perlu terus disiplin mengelola capital expenditure (capex) sekaligus menjaga beban bunga. 

Wafi pun merekomendasikan hold saham EXCL dengan target harga di level Rp 2.800 per saham.

Selanjutnya: Ketegangan Taiwan vs China: Siapa Sebenarnya Pemilik Kedaulatan Sah?

Menarik Dibaca: Samsung Galaxy A36: HP 4 Jutaan dengan Janji Update Android Hingga 6 Tahun!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News