JAKARTA. Para kontraktor mulai berpikir keras untuk bisa menego ulang nilai proyek konstruksi yang tengah dikerjakan. Rupanya, kondisi rupiah yang saja loyo membuat beban kontraktor makin membengkak. Terutama berasal dari pembelian peralatan proyek yang memakai dollar Amerika Serikat (AS). Biasanya, kondisi ini banyak terjadi di proyek terpadu bidang minyak dan gas (migas). Atau juga memang butuh bahan baku yang berasal dari luar negeri. Kondisi ini terjadi pada Bangun Total Persada. Alhasil, Total ingin mereview nilai kontrak dengan para pemilik kontrak. Rencana ini bakal berlangsung awal tahun depan. Sedangkan bagi perusahaan kontraktor plat merah seperti Wijaya Karya mengaku masih mencari solusi terhadap beberapa proyek yang mengalami penggelembungan nilai. Adapun Waskita Karya mengaku belum mengalami soal efek pelemahan rupiah. Perusahaan ini mengaku punya cadangan dollar AS yang cukup sebagai hasil dari mendapat proyek dari Timor Leste.
Intisari info infrastruktur pagi ini
JAKARTA. Para kontraktor mulai berpikir keras untuk bisa menego ulang nilai proyek konstruksi yang tengah dikerjakan. Rupanya, kondisi rupiah yang saja loyo membuat beban kontraktor makin membengkak. Terutama berasal dari pembelian peralatan proyek yang memakai dollar Amerika Serikat (AS). Biasanya, kondisi ini banyak terjadi di proyek terpadu bidang minyak dan gas (migas). Atau juga memang butuh bahan baku yang berasal dari luar negeri. Kondisi ini terjadi pada Bangun Total Persada. Alhasil, Total ingin mereview nilai kontrak dengan para pemilik kontrak. Rencana ini bakal berlangsung awal tahun depan. Sedangkan bagi perusahaan kontraktor plat merah seperti Wijaya Karya mengaku masih mencari solusi terhadap beberapa proyek yang mengalami penggelembungan nilai. Adapun Waskita Karya mengaku belum mengalami soal efek pelemahan rupiah. Perusahaan ini mengaku punya cadangan dollar AS yang cukup sebagai hasil dari mendapat proyek dari Timor Leste.