KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kesiapan data menjadi salah satu tantangan utama bagi perusahaan yang ingin memperluas pemanfaatan kecerdasan buatan atau
artificial intelligence (AI). Data yang tidak akurat, tidak konsisten, atau belum dikelola dengan baik berisiko membuat implementasi AI gagal menghasilkan keputusan bisnis yang optimal. PT Virtus Technology Indonesia (Virtus), penyedia solusi infrastruktur digital yang merupakan anak usaha CTI Group, menyoroti persoalan tersebut dalam konferensi tahunan Virtus Showcase 2026 di Jakarta, Selasa (13/10/2026).
Baca Juga: Harga Minyak Mentah RI Naik, Ini Strategi Pertamina Jaga Stok dan Harga BBM Direktur Virtus Technology Indonesia Christian Atmadjaja mengatakan, keberhasilan implementasi AI tidak hanya bergantung pada kemampuan model yang digunakan, tetapi juga kualitas data dan kesiapan infrastruktur pendukungnya. “Kalau fondasinya tidak siap, kemampuan AI yang semakin tinggi belum tentu menghasilkan keputusan yang semakin baik,” ujar Christian dalam keterangannya, Selasa (13/10/2026). Virtus mengutip prediksi Gartner yang menyebutkan bahwa hingga akhir 2026, organisasi akan menghentikan 60% proyek AI yang tidak didukung data siap pakai atau AI-ready data. Prediksi tersebut menyoroti pentingnya perusahaan membenahi pengelolaan data sebelum memperluas investasi AI.
Baca Juga: Penerbangan Umrah Terganggu, AMPHURI Minta Travel Siapkan Mitigasi Perusahaan perlu memastikan data yang digunakan memiliki kualitas, konsistensi, dan keterlacakan yang memadai. Pengelolaan tersebut mencakup penetapan standar dan kepemilikan data, perlindungan informasi, serta pemantauan kualitas sepanjang siklus hidup data. Tanpa fondasi yang memadai, hasil analisis AI berisiko tidak mencerminkan kondisi bisnis yang sebenarnya. Presiden DAMA Indonesia Alex Budiyanto mengatakan, kesiapan data perlu dinilai berdasarkan tujuan penggunaannya. Sejumlah indikator yang perlu diperhatikan antara lain akurasi, kelengkapan, konsistensi, validitas, tingkat duplikasi, dan ketepatan waktu pembaruan data. Perusahaan juga perlu memastikan data yang digunakan cukup mewakili kondisi sebenarnya, memiliki tingkat bias yang dapat diterima, serta dapat ditelusuri asal-usulnya.
Baca Juga: Gangguan Penerbangan ke Arab Saudi Ancam Bisnis Travel Umrah Dengan demikian, hasil analisis AI dapat lebih relevan dengan kebutuhan bisnis dan dipertanggungjawabkan. Dari sisi bisnis, Chief Technology Officer DANA Indonesia Norman Sasono menilai, kemampuan mengelola dan memanfaatkan data menjadi faktor pembeda di tengah semakin luasnya penggunaan AI oleh perusahaan. Menurut Norman, setiap perusahaan memiliki karakteristik data yang berbeda. Karena itu, nilai bisnis dari pemanfaatan AI tidak hanya ditentukan oleh teknologi yang digunakan, tetapi juga kemampuan mengolah data internal menjadi informasi yang relevan untuk pengambilan keputusan. “Di tengah semakin luasnya pemanfaatan AI oleh perusahaan, data menjadi pembeda yang lebih penting. Setiap perusahaan memiliki data yang berbeda, dan bagaimana data tersebut dikelola menjadi kunci untuk menciptakan nilai bisnis. Bukan AI-nya,” kata Norman. Selain tata kelola data, kesiapan infrastruktur digital juga menjadi faktor penting dalam penerapan AI. Infrastruktur pusat data, komputasi, penyimpanan, dan konektivitas perlu terintegrasi untuk mendukung pengelolaan beban kerja AI.
Baca Juga: INACA Sebut Karhutla Tekan Pendapatan Maskapai, Biaya Operasional Tetap Berjalan Director of ICT Strategy & Business Huawei Indonesia Mohamad Rosidi mengatakan, integrasi data, jaringan, komputasi, dan aplikasi menjadi bagian dari pendekatan All Intelligence yang dikembangkan Huawei untuk mendukung pemanfaatan AI di berbagai industri. Menurut Rosidi, integrasi infrastruktur digital dapat membantu perusahaan meningkatkan produktivitas, mengoptimalkan operasional, dan mempercepat inovasi melalui pemanfaatan data untuk menghasilkan informasi yang relevan. Virtus Showcase 2026 turut menghadirkan pembicara dari Dell Technologies dan Huawei untuk membahas dukungan infrastruktur terhadap kebutuhan AI perusahaan.
Forum tersebut juga didukung sejumlah perusahaan teknologi global, termasuk Arista, Forcepoint, Hikvision, dan Red Hat. Melalui forum ini, Virtus menekankan bahwa pemanfaatan AI di lingkungan bisnis perlu diiringi penguatan tata kelola data dan infrastruktur digital. Kesiapan kedua aspek tersebut menjadi salah satu faktor yang menentukan apakah investasi AI dapat memberikan manfaat nyata bagi operasional dan pengambilan keputusan perusahaan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News