KONTAN.CO.ID - JAKARTA.
Investasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di kawasan Asia Pasifik diperkirakan terus meningkat pada 2026. Berdasarkan Lenovo CIO Playbook 2026 – The Race for Enterprise AI, sebanyak 96% organisasi di Asia Pasifik berencana menaikkan belanja AI dalam 12 bulan ke depan, dengan rata-rata pertumbuhan investasi mencapai 15%. Riset yang dikembangkan Lenovo bersama IDC tersebut menunjukkan bahwa peningkatan investasi mencakup berbagai area, mulai dari Generative AI (GenAI) dan Agentic AI, layanan AI berbasis
public cloud, infrastruktur AI on-premise, hingga solusi keamanan AI. Kawasan ASEAN+ yang mencakup Indonesia, Singapura, Thailand, Malaysia, Filipina, Hong Kong, dan Taiwan menunjukkan tren serupa. Sebanyak 96% organisasi di kawasan ini juga berencana meningkatkan investasi AI, menegaskan peran AI sebagai pendorong utama daya saing dan pertumbuhan bisnis.
Baca Juga: IBM:AI Dorong Modernisasi Utilitas Asia Tenggara demi Capai Target Energi Bersih 2030 “Ketika 96% organisasi merencanakan peningkatan rata-rata investasi AI sebesar 15%, hal ini menunjukkan bahwa keputusan terkait AI kini telah menjadi inti dari strategi perusahaan,” ujar Sumir Bhatia, President, Asia Pacific, ISG, Lenovo di Jakarta, Selasa (13/1/2026). Menurutnya, pembeda utama ke depan terletak pada kemampuan perusahaan mengintegrasikan AI ke dalam infrastruktur, operasional, dan keamanan agar nilai bisnisnya terus berkembang. Playbook 2026 juga mencatat pergeseran pendekatan perusahaan dari sekadar uji coba menuju adopsi AI berbasis hasil (
outcomes-led AI). Sebanyak 88% organisasi di Asia Pasifik menargetkan ROI positif dari AI pada 2026, dengan rata-rata proyeksi pengembalian mencapai 2,8 kali lipat dari nilai investasi. Namun, tantangan utama masih terletak pada kemampuan perusahaan untuk memperluas implementasi AI dari tahap
proof-of-concept ke produksi. Tata kelola, model operasional, serta manajemen siklus hidup AI menjadi faktor krusial dalam memastikan keberlanjutan investasi. Baca Juga: TenEleven–Microsoft Perkuat Infrastruktur Adopsi AI di Pasar Enterprise Indonesia Adopsi AI juga semakin meluas ke luar departemen teknologi informasi. Di Asia Pasifik, 66% organisasi telah melakukan uji coba atau mengadopsi AI secara sistematis, sementara 19% masih dalam tahap evaluasi. Di kawasan ASEAN+, proporsinya relatif serupa, dengan 67% organisasi telah berada pada tahap adopsi atau uji coba. AI kini dimanfaatkan di berbagai fungsi bisnis seperti layanan pelanggan, pemasaran, operasional, hingga keuangan. Bahkan, sekitar separuh organisasi melaporkan bahwa unit non-IT turut mendanai inisiatif AI, memperkuat peran CIO sebagai penggerak strategis lintas fungsi. Laporan ini juga menyoroti meningkatnya minat terhadap Agentic AI, yang diperkirakan akan tumbuh dua kali lipat dalam 12 bulan ke depan. Saat ini, 21% organisasi di Asia Pasifik telah menggunakan Agentic AI secara signifikan, sementara hampir 60% lainnya masih dalam tahap eksplorasi atau penerapan terbatas. “Agentic AI merepresentasikan pergeseran fundamental dalam cara kecerdasan ditanamkan ke dalam perusahaan,” ujar Fan Ho, Executive Director & General Manager, Asia Pacific, Solutions & Services Group, Lenovo. Menurutnya, pendekatan bertahap yang dipilih mayoritas perusahaan mencerminkan kebutuhan akan AI yang terintegrasi dengan alur kerja inti, sekaligus memenuhi standar keamanan dan tata kelola. Dari sisi infrastruktur, hybrid AI kian menjadi arsitektur standar. Sebanyak 86% organisasi di Asia Pasifik kini mengombinasikan sistem
on-premise, edge, dan cloud dalam implementasi AI mereka. Di kawasan ASEAN+, angka ini mencapai 81%, didorong oleh kebutuhan akan keamanan data, kepatuhan regulasi, serta efisiensi biaya. “Organisasi di kawasan ASEAN+, termasuk Indonesia, telah beralih dari sekadar uji coba AI ke penerapan dalam skala besar. Fokusnya adalah menanamkan AI ke lingkungan kerja yang sudah berjalan untuk menghasilkan nilai bisnis dengan cepat,” ujar Budi Janto, President Director Lenovo Indonesia.
Ke depan, Lenovo CIO Playbook 2026 menggarisbawahi tiga prioritas utama CIO, yakni optimalisasi AI dalam operasional, peningkatan produktivitas karyawan melalui perangkat berbasis AI, serta kemampuan menskalakan AI secara berkelanjutan. Temuan ini menegaskan bahwa AI tidak lagi diposisikan sebagai proyek eksperimental, melainkan telah menjadi bagian dari infrastruktur inti bisnis.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News