Investasi Asing Ogah Masuk Ke Negara Tetangga RI Ini, Tanam Modal Anjlok Ke Terendah



KONTAN.CO.ID  - JAKARTA. Arus investasi asing langsung atau *foreign direct investment* (FDI) ke Filipina merosot tajam pada Mei 2026. Penurunan ini terjadi di tengah meningkatnya kehati-hatian investor terhadap kondisi ekonomi dan ketidakpastian geopolitik.

Mengutip Philstar.com, Selasa (11/8/2026), berdasarkan data awal Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP), FDI neto Filipina pada Mei 2026 tercatat sebesar US$ 210 juta atau sekitar Rp 3,75 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.834 per dolar AS.

Nilai tersebut anjlok 64,7% dibandingkan FDI pada Mei 2025 yang mencapai US$ 595 juta atau sekitar Rp 10,61 triliun.


FDI Filipina pada Mei 2026 juga turun 16% dibandingkan April 2026 yang mencapai US$ 250 juta atau sekitar Rp 4,46 triliun.

Dengan capaian tersebut, arus FDI Filipina pada Mei 2026 menjadi yang terendah sejak Maret 2015. Kala itu, FDI neto Filipina hanya mencapai US$ 200 juta.

Tonton: China Siapkan Kanal Pinglu Rp191 Triliun, Hubungkan Langsung ke Asia Tenggara

Investasi utang anjlok

Penurunan FDI Filipina pada Mei 2026 terutama dipicu oleh merosotnya investasi neto dalam instrumen utang. Komponen ini mencerminkan antara lain pinjaman antara investor asing dengan anak perusahaan atau perusahaan afiliasinya di Filipina.

Menurut data BSP yang dikutip BusinessWorld, investasi neto dalam instrumen utang anjlok 92,1% secara tahunan menjadi hanya US$ 35 juta pada Mei 2026. Setahun sebelumnya, nilainya masih mencapai US$ 440 juta.

Penurunan tersebut cukup dalam untuk mengimbangi kenaikan pada dua komponen FDI lainnya, yakni investasi modal ekuitas dan reinvestasi laba.

Investasi modal ekuitas neto justru tumbuh 24,5% menjadi US$ 77 juta pada Mei 2026, dari US$ 62 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, reinvestasi laba meningkat 5,7% menjadi US$ 98 juta dari sebelumnya US$ 93 juta.

Meski investasi ekuitas neto meningkat, kenaikan tersebut bukan disebabkan oleh peningkatan penempatan modal baru. Penempatan ekuitas bruto justru turun sekitar 19% menjadi US$ 87 juta dari US$ 108 juta.

Namun, penarikan modal juga mengalami penurunan signifikan menjadi US$ 10 juta dari US$ 46 juta. Kondisi tersebut membuat investasi ekuitas neto tetap tumbuh meskipun penempatan modal bruto mengalami penurunan.

Tonton: Ojol Bersiap! Perpres Baru Segera Berlaku

FDI Januari-Mei 2026 turun 33,4%

Penurunan pada Mei turut menekan kinerja investasi asing Filipina sepanjang lima bulan pertama 2026.

Berdasarkan data BSP, FDI neto Filipina sepanjang Januari-Mei 2026 mencapai US$ 2,18 miliar atau sekitar Rp 38,88 triliun.

Angka tersebut turun 33,4% dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang mencapai US$ 3,27 miliar atau sekitar Rp 58,32 triliun.

BSP menyebut penurunan FDI sepanjang Januari-Mei 2026 terutama disebabkan oleh merosotnya investasi neto dalam instrumen utang dan reinvestasi laba. Penurunan kedua komponen tersebut lebih besar dibandingkan kenaikan investasi modal ekuitas.

Dalam lima bulan pertama 2026, investasi neto dalam instrumen utang turun 49,5% menjadi US$ 1,25 miliar dari US$ 2,48 miliar.

Reinvestasi laba juga turun 9,7% menjadi US$ 383 juta dari US$ 424 juta.

Sebaliknya, investasi modal ekuitas neto melonjak 48,7% menjadi US$ 541 juta dari US$ 364 juta.

BSP menyebut penempatan modal ekuitas selama Januari-Mei 2026 terutama berasal dari Jepang, Amerika Serikat (AS), dan Singapura.

Investasi tersebut terutama mengalir ke sektor manufaktur, kegiatan keuangan dan asuransi, serta real estat.

Baca Juga: WNI Tewas dalam Serangan Kapal Dagang di Dekat Yaman, Houthi Diduga Pelaku

Investor masih wait and see

Kepala Ekonom Rizal Commercial Banking Corp. (RCBC) Michael Ricafort menilai pelemahan FDI Filipina mencerminkan kombinasi ketidakpastian geopolitik dan domestik yang menekan minat investor.

Menurut dia, pelemahan investasi asing tersebut juga sejalan dengan perlambatan investasi secara keseluruhan serta pertumbuhan ekonomi Filipina pada kuartal II 2026.

Kondisi tersebut menunjukkan investor cenderung mengambil sikap lebih hati-hati sebelum meningkatkan penempatan modal di Filipina.

Selain faktor domestik, ketidakpastian geopolitik juga menjadi salah satu faktor yang membebani arus investasi asing.

Tonton: Trump Media Terpukul! Rugi US$238,1 Juta Akibat Aset Kripto

FDI berbeda dengan persetujuan investasi

BSP menegaskan bahwa data FDI yang mereka catat menggambarkan arus investasi lintas batas yang benar-benar terealisasi.

Data tersebut berbeda dengan angka persetujuan investasi yang dilaporkan oleh lembaga promosi investasi.

Persetujuan investasi pada dasarnya merupakan komitmen penanaman modal yang belum tentu langsung terealisasi pada periode yang sama.

Dengan demikian, data FDI BSP menjadi salah satu indikator yang mencerminkan arus modal asing yang benar-benar masuk ke Filipina.

Penurunan FDI pada Mei 2026 menunjukkan tekanan terhadap arus modal asing Filipina masih cukup kuat. Jika tren tersebut berlanjut, pelemahan investasi asing dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan terhadap prospek pertumbuhan ekonomi Filipina pada paruh kedua tahun ini.

Sumber: https://money.kompas.com/read/2026/08/11/213006626/investasi-asing-ke-filipina-anjlok-647-persen-terendah-dalam-11-tahun?page=all#page2.  

ETF Emas Sudah Meluncur, Aturan Pajaknya Menyusul
© 2026 Konten oleh Kontan