Investasi BP dan Inpex di Blok Migas Bali Sinyal Positif Bagi Industri Migas



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perusahaan energi global British Petroleum (BP) dan Inpex Corporation membagi hak partisipasi (participating interest/PI) masing-masing sebesar 50% di Wilayah Kerja (WK) Migas Agung I dan Agung II di perairan Bali.

Kedua perusahaan tersebut menyiapkan investasi US$ 42,7 juta untuk mengeksplorasi potensi migas di kawasan laut dalam tersebut.

Pengamat Ekonomi Energi Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti, menilai keterlibatan kedua perusahaan menjadi sinyal positif bagi prospek eksplorasi migas di Indonesia.


Baca Juga: Emisi Metana Sektor Migas Belum Diatur, Pemerintah Didesak Susun Regulasi

Namun, keberhasilan proyek tetap bergantung pada potensi cadangan, keekonomian, dan kepastian harga jual gas.

“Perusahaan sebesar ini memilih wilayah dengan hati-hati karena anggaran eksplorasinya diperebutkan oleh puluhan negara,” ujar Yayan, Minggu (18/10/2026).

Berdasarkan keputusan Menteri ESDM pada 7 September 2026, porsi kepemilikan BP dan Inpex di kedua wilayah kerja eksplorasi tersebut kini berimbang, masing-masing 50%.

Keterlibatan kedua perusahaan dinilai strategis karena memiliki pengalaman, kapasitas finansial, dan teknologi untuk mengembangkan proyek migas berskala besar di Indonesia.

BP saat ini menjadi salah satu produsen gas utama di Tanah Air. Berdasarkan data SKK Migas periode Januari–Juli 2026, BP Berau menyumbang sekitar 1.478 juta kaki kubik gas per hari (MMSCFD), setara 28% dari total penyaluran gas nasional. Sebagian besar pasokan tersebut berasal dari fasilitas Tangguh LNG di Teluk Bintuni, Papua Barat.

Baca Juga: Kejar Target Produksi, SKK Migas Optimalkan Teknologi MSF di WK Rokan

BP juga mengembangkan proyek Ubadari dan fasilitas penangkapan serta penyimpanan karbon (CCUS) dengan nilai investasi sekitar US$ 7 miliar. Proyek tersebut diproyeksikan membuka potensi pasokan tambahan sebesar 3 triliun kaki kubik (TCF) gas mulai 2028.

Sementara itu, Inpex menggarap Proyek Abadi di Blok Masela, salah satu proyek gas besar yang belum dikembangkan.

Proyek dengan nilai investasi sekitar US$ 20,9 miliar tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi 9,5 juta ton LNG per tahun dan pasokan gas pipa sebesar 150 MMSCFD untuk pasar domestik.

Di WK Agung I dan Agung II, BP dan Inpex menjadwalkan survei seismik untuk memetakan potensi cadangan migas. Survei tersebut mencakup seismik dua dimensi (2D) sepanjang 285 kilometer dan seismik tiga dimensi (3D) seluas 3.650 kilometer persegi.

Meski demikian, Yayan mengingatkan bahwa eksplorasi laut dalam memiliki risiko tinggi. Peluang keberhasilan geologi di wilayah perbatasan laut dalam tersebut diperkirakan hanya sekitar 20%.

Karena itu, penemuan cadangan saja belum cukup untuk memastikan proyek berlanjut ke tahap keputusan investasi akhir atau final investment decision (FID).

Kepastian harga jual gas domestik dan kelayakan ekonomi menjadi faktor penting untuk menentukan apakah cadangan yang ditemukan dapat dikembangkan secara komersial.

Yayan juga menekankan pentingnya dukungan pemerintah daerah untuk menjaga kelancaran proyek. Hambatan birokrasi dan persoalan sosial berpotensi menunda kegiatan serta menekan nilai keekonomian proyek.

“Setiap tahun tertunda menggerus sekitar 10% nilai kini penerimaan negara dari proyek ini,” kata Yayan. Ia memperingatkan penundaan hingga empat tahun dapat menghapus sekitar sepertiga nilai tersebut.

Baca Juga: RUU Migas Masuk Tahap Akhir, SKK Migas Diganti Badan Usaha Khusus di Bawah Presiden

Dari sisi manfaat, keberhasilan eksplorasi di perairan Bali berpotensi menambah penerimaan daerah melalui Dana Bagi Hasil (DBH) migas sekaligus memperkuat pasokan energi untuk kebutuhan domestik.

Menurut Yayan, temuan gas dalam jumlah besar juga dapat membantu memenuhi kebutuhan listrik Bali. Saat ini, Pulau Dewata masih bergantung pada pasokan listrik dari Jawa melalui kabel bawah laut sekitar 270–340 megawatt (MW).

Sebelumnya, Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyampaikan bahwa Gubernur Bali I Wayan Koster telah mendukung rangkaian kegiatan eksplorasi dan eksploitasi di WK Agung I dan Agung II.

SKK Migas berharap kolaborasi BP dan Inpex dapat mengoptimalkan potensi migas lepas pantai Bali secara efektif dan aman.

Dengan demikian, investasi US$ 42,7 juta di kedua wilayah kerja tersebut menjadi langkah awal untuk menguji potensi cadangan migas di perairan Bali.

Baca Juga: Inpex Naikkan Proyeksi Laba 2026 hingga 46% Jadi Rekor 510 Miliar Yen

Besarnya manfaat bagi penerimaan negara dan ketahanan energi masih akan ditentukan oleh hasil eksplorasi serta kemampuan mengembangkan temuan migas secara ekonomis.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News