Investasi di Sektor Baja Diprediksi Meningkat pada 2022



KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Berdasarkan Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (IISIA) investasi di sektor baja pada 2021 mencapai US$ 12 miliar, dan diperkirakan naik menjadi US$ 15,2 miliar atau setara Rp 215 Triliun pada 2022.  

Ekonom  Universitas Muhammadiyah Bengkulu, Surya Vandiantara mengatakan, data positif investasi sektor baja ini menunjukkan keberhasilan kebijakan pemerintah dalam mengendalikan impor baja dengan substitusi impor terukur. 

Ia menjelaskan, kinerja investasi di sektor logam dan baja sangat menjanjikan. Menurutnya, tingginya investasi sektor baja didorong demand baja nasional dan ekspor yang terus meningkat terutama di sektor hilir. 


Investasi di sektor logam dan baja tercatat terus tumbuh tiap tahunnya. Dimana pada 2020 nilai invstasinya mencapai Rp 94,85 triliun dan pada 2021 mencapai di atas Rp 114 triliun. Naiknya investasi ini berdampak positif pada pemenuhan bahan baku. 

Baca Juga: Impor Gas Melonjak, Defisit Perdagangan Turki Untuk Bulan Januari Naik 240,7% Yoy

Kendati demikian, suplai bahan baku dari industri hulu baja terutama baja carbon dari dalam negeri jauh dari harapan. Karena itu, untuk menjaga iklim investasi bahan baku ini harus dipenuhi dengan impor.

"Pertumbuhan investasi di sektor baja sama sekali tidak terpengaruh dengan narasi banjir impor baja yang sering muncul entah apa motifnya perlu didalami," ujar Surya dalam keterangan tertulis, Kamis (3/2).

Sebelumnya, pemerhati perumahan alumni Fakultas Teknik UI, Cindar Hari Prabowo menyampaikan data BPS tentang data Baja impor tanpa pengendalian pemerintah (tanpa lartas) seperti slab, bilet dan iron ore mengalami peningkatan dari tahun 2019 sebesar 4,7 juta ton menjadi 5,22 juta ton di tahun 2021. 

Cindar mengartikan investasi yang ada di sektor hulu baja karbon saat ini bahan bakunya juga dipenuhi dari impor bukan mengolah dari dalam negeri karena hambatan teknis dan ekonomis.

Baca Juga: Sejumlah Emiten Besi dan Baja Pacu Penjualan Ekspor di Tahun 2022

Dikatakan juga, bahwa baja yang dilakukan pengendalian pemerintah (dengan lartas) pada tahun 2019 sebesar 7,89 juta ton berhasil dikendalikan sebesar 6,35 juta ton atau turun 19% meskipun industri baja dikatagorikan import processing industry.

Surya melanjutkan, memang persoalan kemajuan di Hilir baja lebih cepat dibanding dengan kemampuan suplai dari hulu baja, ini menjadi PR besar dalam mendukung investasi baja nasional. Untuk menjaga pertumbuhan ekonomi nasional suplai bahan baku baja harus dijaga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Noverius Laoli