Investasi Domestik Masih Lesu, Pelaku Usaha Tahan Ekspansi pada 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelaku usaha domestik dinilai masih memilih menahan ekspansi investasi baru pada tahun 2026  ini.

Kondisi permintaan yang belum pulih, kenaikan biaya pendanaan, hingga tingginya ketidakpastian global membuat dunia usaha belum agresif menambah kapasitas produksi maupun merealisasikan investasi baru.

Sikap kehati-hatian tersebut tercermin dari realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) yang mengalami kontraksi pada kuartal II-2026. 


Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan realisasi PMDN pada kuartal II-2026 turun 7,8% secara tahunan (yoy), dan turun 1,5% yoy pada semester I-2026.

Baca Juga: Apindo: Permintaan Mulai Melemah, Dunia Usaha Tahan Ekspansi dan Rekrutmen

Pelemahan tersebut membuat kontribusi PMDN terhadap total investasi nasional turun dari 57,7% menjadi 49,6% pada Kuartal II-2026, dan turun dari 54,1% menjadi 49,8% pada semester I-2026.

Kondisi ini menunjukkan peran investasi domestik dalam menopang pembentukan investasi nasional mulai melemah.

Lead Economist Bank Danamon Irman Faiz menilai kontraksi PMDN mencerminkan pelaku usaha yang masih berhati-hati dalam mengambil keputusan ekspansi.

"Menurut kami, kontraksi PMDN pada kuartal II-2026 memang mengindikasikan bahwa pelaku usaha domestik cenderung lebih berhati-hati dalam melakukan ekspansi," ujar Faiz kepada Kontan, Jumat (17/7/2026).

Faiz menjelaskan, lemahnya investasi domestik didorong oleh tiga faktor utama.

Pertama, permintaan domestik yang masih lemah.

Baca Juga: Lakukan Penipuan Investasi, Satgas PASTI Stop Usaha CANTVR dan YUDIA Begini Modusnya

Hal tersebut tercermin dari aktivitas manufaktur yang masih berada dalam fase kontraksi berdasarkan Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur selama beberapa bulan terakhir.

Di saat yang sama, tekanan biaya produksi juga mulai meningkat. Sebagian kenaikan biaya input bahkan telah diteruskan ke harga jual, sehingga berpotensi menekan daya beli masyarakat sekaligus membuat perusahaan enggan memperluas kapasitas produksi.

Faktor kedua adalah meningkatnya biaya pendanaan. Kenaikan BI Rate secara kumulatif sebesar 100 basis poin sejak Mei telah diikuti kenaikan suku bunga kredit dan biaya penghimpunan dana perbankan.

"Kondisi ini meningkatkan cost of funding sehingga keputusan ekspansi cenderung ditunda sampai prospek permintaan menjadi lebih jelas," kata Faiz.

Selain itu, ketidakpastian global juga masih menjadi pertimbangan utama dunia usaha.

Baca Juga: Pelaku Usaha Cenderung Tahan Ekspansi, Kebutuhan Pembiayaan Modal Kerja Masih Tinggi

Menurut Irman, tensi geopolitik, perlambatan ekonomi global, dan volatilitas nilai tukar membuat pelaku usaha domestik memilih bersikap wait and see sebelum kembali melakukan ekspansi yang lebih agresif.

Meski demikian, Faiz memperkirakan realisasi PMDN berpotensi membaik secara bertahap pada semester II-2026.

Namun, pemulihan tersebut diperkirakan masih terbatas karena sangat bergantung pada penguatan permintaan domestik, stabilitas nilai tukar, serta arah kebijakan moneter.

Ia menilai stimulus fiskal yang telah disiapkan pemerintah untuk menopang konsumsi rumah tangga pada semester II dapat menjadi katalis bagi peningkatan kepercayaan dunia usaha.

"Apabila stimulus tersebut mampu menjaga daya beli masyarakat dan mendorong aktivitas ekonomi, kepercayaan pelaku usaha domestik juga berpotensi membaik sehingga realisasi PMDN dapat kembali meningkat," ujarnya.

Baca Juga: Gurih Nian Laba dari Pempek Tahan Lama

Karena itu, Faiz belum memperkirakan kontraksi PMDN akan semakin dalam hingga akhir tahun.

Kendati demikian, dunia usaha diperkirakan masih akan mencermati perkembangan permintaan domestik, biaya pendanaan, dan dinamika ekonomi global sebelum kembali melakukan ekspansi investasi secara lebih agresif.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News