Investasi EBT Rp 1.682 Triliun, ACA Bidik Peluang Asuransi Energi Hijau



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan nilai investasi pengembangan energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia mencapai Rp 1.682 triliun dalam 10 tahun ke depan, sejalan dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.

Target investasi jumbo tersebut dinilai membuka peluang besar bagi industri asuransi nasional. PT Asuransi Central Asia (ACA) melihat pengembangan EBT sebagai sinyal positif, sekaligus ladang pertumbuhan baru bagi bisnis asuransi, terutama dari sisi perlindungan risiko proyek.

Baca Juga: Marak Kelompok Gagal Bayar di Fintech Lending, Ini Upaya yang Ditempuh AFPI


Kepala Divisi Asuransi Energi dan Properti ACA Mohamad Baihaqi mengatakan, kebutuhan asuransi pada proyek EBT masih sangat besar, mengingat karakteristik risikonya berbeda dengan sektor energi fosil.

“Peluang asuransi di sektor ini sangat terbuka. Apalagi investor dan lembaga pembiayaan, seperti bank, umumnya mewajibkan adanya proteksi asuransi sebelum menyalurkan pendanaan,” ujar Baihaqi kepada Kontan.co.id, Jumat (6/2/2026).

Ia mencontohkan, asuransi dibutuhkan untuk melindungi risiko pada tahap konstruksi proyek EBT, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB), yang menggunakan peralatan sensitif bernilai tinggi.

Selain itu, asuransi juga berperan penting dalam menanggung risiko gangguan operasional, misalnya akibat cuaca ekstrem atau kegagalan teknis yang dapat menghentikan produksi energi dan berujung pada kehilangan pendapatan bagi pengembang.

Baca Juga: Penyaluran Pembiayaan Industri Pergadaian Tumbuh 48,06% per Akhir 2025

“Asuransi juga bertindak sebagai pendukung investasi. Dengan adanya proteksi, profil risiko proyek menjadi lebih bankable atau layak dibiayai oleh perbankan,” jelasnya.

Melihat peluang tersebut, Baihaqi menyebut ACA berpotensi masuk ke sektor EBT secara selektif.

Menurutnya, perlindungan risiko proyek EBT bernilai triliunan rupiah membutuhkan perusahaan asuransi dengan permodalan yang kuat.

Dalam hal ini, ACA dinilai memiliki kapasitas memadai, tercermin dari tingkat Risk Based Capital (RBC) perusahaan yang mencapai 575,66%, jauh di atas ketentuan minimum regulator.

Masuknya ACA ke sektor EBT juga dinilai sejalan dengan strategi diversifikasi bisnis perusahaan. Baihaqi menuturkan, industri otomotif dan properti yang selama ini menjadi pasar utama ACA kini semakin kompetitif.

Baca Juga: Bisnis Paylater Perusahaan Pembiayaan Tumbuh 75,05% hingga Akhir 2025

“Masuk ke infrastruktur hijau menjadi strategi diversifikasi yang logis untuk menjaga pertumbuhan jangka panjang hingga 2026 dan seterusnya,” ujarnya.

Ia menambahkan, ACA memiliki rekam jejak yang kuat dalam asuransi kerugian korporasi. Mengingat proyek EBT bersifat capital intensive, sektor ini dinilai sangat sesuai dengan keahlian ACA dalam menangani polis komersial berskala besar.

Dari sisi kinerja, hingga kuartal IV-2025 ACA membukukan pendapatan premi asuransi energi sebesar Rp 379,17 miliar, tumbuh 66% secara tahunan (year on year/YoY). Kontribusi lini asuransi energi tersebut mencapai 6,4% dari total premi ACA.

Selanjutnya: Strategi Jeffrey Cheah Bangun Gurita Bisnis: Dari Bekas Tambang Jadi Aset Triliunan

Menarik Dibaca: Diskon 50% CFC Hebat, Promo Paket Ayam Favorit Mulai Rp 26 Ribuan Saja

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News