Investasi EBTKE Indonesia di Tahun 2023 Bakal Capai Titik Terendah Sejak 2017



KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Investasi sub sektor energi baru terbarukan dan konservasi energi (EBTKE) di tahun ini akan menjadi yang terendah dalam 6 tahun belakangan. 

Berdasarkan data Kementerian ESDM, realisasi investasi EBTKE periode Januari-November 2023 baru mencapai US$ 1,17 miliar atau 64,94% dari target yang senilai US$ 1,8 miliar. 

Analis Energi Institute of Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA), Putra Adhiguna menilai bila berdasarkan tren investasi EBTKE sampai dengan November, kemungkinan investasi EBTKE akan berada dalam kisaran US$ 1,3 miliar di 2023. 


“Adapun ini bisa menjadi pencapaian terendah sejak 2017 dan menjadi tanda tanya besar. Semoga ini hanya perlambatan sesaat,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Rabu (6/12). 

Baca Juga: Realisasi Investasi EBTKE Indonesia Mencapai US$ 1,17 Miliar Sampai November 2023

Melansir data realisasi investasi EBTKE Kementerian ESDM di 2022, sejak 2017-2022 tren investasi EBTKE bergerak cukup fluktuatif di kisaran US$ 1,36 miliar sampai US$ 1,96 miliar. 

Perinciannya, realisasi EBTKE di 2017 senilai US$ 1,96 miliar, kemudian 2018 senilai US$ 1,53 miliar, 2019 senilai US$ 1,71 miliar, 2020 senilai US$ 1,36 miliar, 2021 senilai US$ 1,55 miliar, dan 2022 senilai US$ 1,55 miliar. 

Putra berharap, perlambatan investasi EBT ini hanya sesaat karena banyak yang menunggu realisasi program seperti Just Energy Transition Partnership (JETP). 

Namun, menjadi pengingat realisasi investasi EBTKE yang terjadi di tahun ini  menandakan masih jauhnya realisasi dari ambisi. 

Menurut Kementerian ESDM, ada sejumlah hambatan yang membuat investasi EBTKE tidak tercapai, misalnya pemenuhan pendanaan (financial close), mundurnya jadwal proses pengadaan pembangkit EBT oleh PLN, hingga isu sosial di lokasi pembangkit panas bumi. 

Atas beberapa persoalan tersebut, Putra mendorong perlunya mengkategorikan semua proyek berdasarkan ‘confidence level’ yang menandakan seberapa percaya dirinya pihak terkait terhadap realisasi proyek EBT. 

“Hal ini akan membantu membaca rencana realistis dan optimistis, serta menggarisbawahi proyek mana yang memerlukan atensi lebih,” jelasnya. 

Menurutnya tidak ada satu jawaban untuk solusi EBT Indonesia, dan masing-masing akan penanganan berbeda, termasuk perbaikan proses pengadaan EBT. 

Selain itu penanganan isu sosial proyek panas bumi juga membutuhkan pengawalan ketat dalam proyek yang sudah berjalan, jangan sampai ada kejadian yang kembali menimbulkan keresahan. 

Baca Juga: Pensiun Dini PLTU Cirebon 1 Dapat Dorong Upaya Suntik Mati Pembangkit Batubara Lain

Nah di 2024 pemerintah menargetkan investasi sub sektor EBTKE semakin agresif yakni tumbuh 43,19% year on year (yoy) menjadi US$ 2,57 miliar dari rencana 2023 senilai US$ 1,79 miliar. 

Menurut Putra, target investasi EBTKE cukup realistis dan diharapkan bisa didorong lebih agresif dengan bergulirnya JETP. 

“Tahun depan juga akan menjadi ujian pertama apakah Perpres 112 dan JETP berhasil mendorong kepastian investasi EBT,” tandasnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anna Suci Perwitasari