Investasi Gas Global Melonjak ke Level Tertinggi 10 Tahun di Tengah Krisis Timteng



KONTAN.CO.ID - PARIS. Investasi global pada proyek gas alam diperkirakan melonjak lebih dari 10% pada tahun ini menjadi US$ 330 miliar, level tertinggi dalam satu dekade terakhir. Di sisi lain, belanja sektor hulu minyak dunia justru turun untuk tahun ketiga berturut-turut.

Laporan terbaru International Energy Agency (IEA) menunjukkan perubahan besar dalam arah investasi energi global di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik, terutama akibat perang Iran yang mengganggu pasar energi internasional.

Gangguan tersebut telah menghentikan lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz serta memicu penghentian produksi energi di berbagai wilayah Timur Tengah.


Kondisi ini mendorong perusahaan energi mempercepat investasi di kawasan lain sekaligus meningkatkan belanja pada energi terbarukan, liquefied natural gas (LNG), hingga batu bara demi menjaga keamanan pasokan energi.

“Kami sudah melihat upaya yang semakin intensif dari negara produsen maupun konsumen untuk mendiversifikasi jalur perdagangan dan sumber energi,” ujar Direktur IEA Fatih Birol dalam sebuah pernyataan.

Baca Juga: Harga Emas Tergelincir ke Level Terendah dalam Dua Bulan, Ini Penyebabnya

Dalam laporan World Energy Investment 2026, IEA memperkirakan arus modal ke sektor energi global akan tumbuh 5% pada 2026 menjadi mencapai US$ 3,4 triliun, meskipun pasar masih dibayangi gangguan di Timur Tengah.

Dari total investasi tersebut, sekitar US$ 2,2 triliun akan dialokasikan untuk energi terbarukan, penyimpanan energi, jaringan listrik, dan bahan bakar rendah emisi.

Sementara itu, investasi untuk pasokan minyak diperkirakan kurang dari US$ 500 miliar. Penurunan ini menandai semakin berhati-hatinya pelaku industri terhadap prospek jangka panjang sektor minyak di tengah transisi energi global.

IEA menyebut pertumbuhan investasi gas alam sebagian besar didorong proyek LNG di Amerika Serikat. Namun, krisis geopolitik saat ini juga membuat negara-negara importir di Asia menjadi lebih berhati-hati terhadap ketergantungan pada gas.

Di saat yang sama, investasi batu bara justru diproyeksikan mencapai level tertinggi dalam 14 tahun terakhir, yakni sebesar US$ 180 miliar. Lonjakan tersebut terutama dipicu oleh kebutuhan energi di China dan India.

Baca Juga: Harga Minyak Melonjak Lebih dari 2% Usai Iran Serang Pangkalan AS

Energi nuklir juga kembali mendapat perhatian. Belanja global untuk sektor nuklir diperkirakan mencapai US$ 80 miliar tahun ini, menandai kebangkitan kembali investasi pada pembangkit listrik berbasis nuklir.

Investasi Mulai Bergeser dari Timur Tengah

IEA memperkirakan investasi minyak dan gas di Timur Tengah akan turun sekitar 1% pada 2026. Kerusakan infrastruktur, penurunan pendapatan, serta penghentian produksi mengurangi kemampuan negara dan perusahaan di kawasan tersebut untuk menggelontorkan modal baru.

Sebaliknya, investasi hulu migas di Afrika, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan diperkirakan melonjak lebih dari 10% pada 2026 seiring percepatan proyek-proyek yang sudah berjalan.

Meski demikian, investor dinilai belum sepenuhnya berani meninggalkan Timur Tengah. Ketidakpastian mengenai seberapa lama gangguan geopolitik berlangsung membuat pelaku pasar masih menahan diri untuk melakukan pergeseran investasi secara total.