KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Investasi di sektor hilirisasi masih menjadi salah satu motor penggerak penanaman modal di Indonesia. Sepanjang kuartal II-2026, realisasi investasi hilirisasi mencapai Rp 152,7 triliun atau tumbuh 5,7% secara tahunan (
year on year/yoy), dengan kontribusi sebesar 29,8% terhadap total investasi nasional pada periode tersebut. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani mengatakan, investasi hilirisasi masih didominasi sektor mineral. Menariknya, untuk pertama kalinya komoditas bauksit menggeser nikel sebagai tujuan investasi terbesar di sektor hilirisasi. "Kalau kita lihat, biasanya nikel selalu di nomor satu. Nah, kali ini ada shifting. Bauksit menjadi nomor satu karena ada beberapa pembangunan proyek bauksit yang dilakukan investor dalam negeri maupun luar negeri," ujar Rosan dalam konferensi pers di Istana, Kamis (16/7/2026).
Rosan merinci, investasi hilirisasi di sektor mineral mencapai Rp 108,2 triliun atau sekitar 70,9% dari total investasi hilirisasi. Nilai tersebut berasal dari investasi pada bauksit sebesar Rp 40,1 triliun, nikel Rp 29,4 triliun, tembaga Rp 16,7 triliun, besi dan baja Rp 13,2 triliun, pasir silika Rp 4 triliun, serta komoditas lainnya seperti timah, emas, perak, kobalt, mangan, batu bara, dan aspal Buton sebesar Rp 4,7 triliun.
Baca Juga: Baleg DPR Percepat Pembahasan RUU Masyarakat Adat, Pelaku Usaha Beri Masukan Di posisi berikutnya, hilirisasi sektor perkebunan dan kehutanan mencatat investasi sebesar Rp 24,6 triliun. Investasi tersebut didominasi kelapa sawit sebesar Rp 11,2 triliun, disusul kayu log Rp 9,3 triliun, karet Rp 2,6 triliun, serta komoditas lain seperti pala, pinus, kelapa, kakao, dan biofuel senilai Rp 1,5 triliun. Sementara itu, investasi hilirisasi sektor minyak dan gas bumi mencapai Rp 17,7 triliun, terdiri dari minyak bumi sebesar Rp 12,8 triliun dan gas bumi Rp 4,9 triliun. Adapun sektor perikanan dan kelautan menyumbang investasi Rp 2,2 triliun yang mencakup komoditas garam, tuna, cakalang, tongkol, udang, rumput laut, rajungan, dan tilapia. Berdasarkan wilayah, investasi hilirisasi masih terkonsentrasi di luar Pulau Jawa dengan nilai Rp 116 triliun atau setara 75,9% dari total investasi. Sementara investasi di Pulau Jawa tercatat sebesar Rp 36,7 triliun atau 24,1%. Lima daerah tujuan investasi hilirisasi terbesar adalah Maluku Utara sebesar Rp 35,3 triliun, Sulawesi Tengah Rp 32 triliun, Jawa Barat Rp 12,8 triliun, Nusa Tenggara Barat Rp 10,7 triliun, serta Jawa Timur Rp 10,4 triliun. Dari sisi sumber pendanaan, investasi hilirisasi masih didominasi Penanaman Modal Asing (PMA) yang mencapai Rp 114,4 triliun atau sekitar 75% dari total investasi hilirisasi. Sementara Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp 38,3 triliun atau berkontribusi 25%.
Baca Juga: S&P Pertahankan Rating Indonesia di BBB, Pemerintah Wajib Disiplin Fiskal & Konsisten Adapun berdasarkan negara asal investor, Hong Kong menjadi penyumbang investasi hilirisasi terbesar dengan nilai Rp 52,4 triliun. Posisi berikutnya ditempati Singapura sebesar Rp 29,8 triliun, Republik Rakyat Tiongkok (China) Rp 10,7 triliun, Jepang Rp 4 triliun, dan Amerika Serikat Rp 3,9 triliun.
Rosan mengatakan, pemerintah akan terus mendorong agar hilirisasi tidak berhenti pada pengolahan tahap awal, tetapi berlanjut hingga menghasilkan produk bernilai tambah tinggi. Menurutnya, pengembangan ekosistem hilirisasi nikel dapat menjadi model bagi komoditas lainnya. Saat ini, Indonesia telah memiliki rantai pasok yang relatif lengkap, mulai dari bijih nikel, nickel matte, nickel sulfate, katoda, anoda, sel baterai, battery pack, hingga fasilitas daur ulang baterai kendaraan listrik. "Ke depan, kami ingin membangun ekosistem yang sama untuk bauksit, termasuk juga hilirisasi kelapa sawit, karet, kayu, pasir silika, dan komoditas lainnya. Fokus kami adalah komoditas yang memang menjadi keunggulan kompetitif Indonesia dan sudah masuk dalam blueprint hilirisasi nasional," kata Rosan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News