Investasi Hilirisasi Tumbuh 43,3%, Standard Chartered Bidik Peluang Rantai Pasok



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Digitalisasi pembayaran dan perubahan rantai pasok global mendorong perusahaan di Indonesia untuk memperkuat pengelolaan likuiditas, modal kerja, dan mitigasi risiko. Langkah ini diperlukan agar perusahaan tetap efisien sekaligus mampu menangkap peluang di tengah dinamika ekonomi global

CEO Standard Chartered Indonesia Donny Donosepoetro dalam keterangan resmi mengatakan, perkembangan transaksi digital di Indonesia menunjukkan kebutuhan pembayaran yang terus meningkat. Mengacu pada data Bank Indonesia, volume transaksi pembayaran digital pada Agustus 2026 mencapai 6,11 miliar transaksi, tumbuh lebih dari 40% secara tahunan.

Menurut Donny, perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan mata uang digital berpotensi mengubah proses transaksi keuangan perusahaan menjadi lebih otomatis dan terintegrasi.


Baca Juga: Perkuat Layanan Maritim, Pertamina Trans Kontinental Kembangkan Inovasi Digital

Di sisi perdagangan global, laporan Future of Trade 2026 dari Standard Chartered memproyeksikan percepatan digitalisasi perdagangan berpotensi meningkatkan nilai perdagangan global sebesar US$ 2,8 triliun pada 2031, atau 6,9% di atas proyeksi dasar.

“Semakin luasnya penggunaan teknologi seperti AI, dokumen digital, dan otomatisasi proses bisnis dapat membantu perusahaan melakukan perdagangan lintas negara dengan lebih efisien, sekaligus membuka peluang bisnis yang lebih besar,” ujar Donny dalam keterangan resminya, Selasa (13/10/2026).

Forum tersebut membahas dua isu utama, yakni masa depan sistem pembayaran dan perubahan rantai pasok global. Dalam sesi pembayaran, pembahasan mencakup pemanfaatan pembayaran real-time, AI, aset digital, serta konektivitas sistem keuangan. Di sisi lain, perusahaan juga menghadapi kebutuhan memperkuat keamanan siber, mencegah penipuan, dan menjaga ketahanan operasional.

Sementara itu, perubahan geopolitik, kebijakan perdagangan, dan diversifikasi basis produksi menjadi faktor yang mendorong perusahaan meninjau kembali strategi rantai pasoknya.

Perubahan tersebut turut membuka peluang bagi Indonesia untuk menarik investasi dan memperkuat posisi dalam rantai pasok global. 

Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM menunjukkan, realisasi investasi Indonesia pada 2025 mencapai Rp 1.931,2 triliun, tumbuh 12,7% secara tahunan. Adapun investasi hilirisasi mencapai Rp 584,1 triliun, meningkat 43,3% dibandingkan tahun sebelumnya.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) sekaligus CEO Sintesa Group Shinta Kamdani mengatakan, dunia usaha perlu memperhatikan tiga faktor dalam menghadapi perubahan ekonomi global, yakni peluang, daya saing, dan konektivitas.

Baca Juga: Anggota DPR Desak Jaringan Tambang Emas Ilegal Sangihe Dibongkar Usai 3 Warga Tewas

Menurut Shinta, perusahaan perlu memanfaatkan peluang dari perubahan rantai pasok dan perkembangan teknologi, sekaligus meningkatkan produktivitas, mengelola biaya, serta memperkuat kepastian berusaha. Konektivitas melalui rantai pasok, logistik, pembiayaan, dan sistem pembayaran juga diperlukan agar peluang tersebut dapat menghasilkan nilai ekonomi.

“Peluang saja tidak cukup. Dunia usaha membutuhkan daya saing untuk memanfaatkan peluang tersebut, serta konektivitas untuk mengubahnya menjadi nilai ekonomi,” ujar Shinta.

Sejalan dengan kebutuhan perusahaan dalam mengelola transaksi, Standard Chartered Indonesia meluncurkan layanan Payouts-as-a-Service pada awal 2026. Layanan ini memungkinkan nasabah korporasi mengotomatisasi pembayaran dalam jumlah besar dan berulang kepada berbagai pihak berdasarkan parameter bisnis yang telah ditentukan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: