KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai investasi di sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) domestik mencatatkan angka fantastis hingga menembus puluhan miliar dolar. PT Pertamina Hulu Energi (PHE) menilai kucuran modal yang masif tersebut mencerminkan besarnya komitmen para pelaku industri demi menjaga ketahanan energi nasional. Besarnya nilai modal yang digelontorkan para kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) menuntut kepastian hukum serta koordinasi lintas sektor yang solid demi menjamin keberlangsungan proyek.
Direktur Keuangan PT Pertamina Hulu Energi, Bayu Kusuma Dewanto menegaskan besarnya realisasi belanja modal yang telah dikucurkan oleh para pelaku industri hulu migas.
Baca Juga: Sungai Kapuas Surut Imbas El Nino, Biaya Angkut CPO Jalur Sungai Naik "Dari tahun kemarin itu dari kontraktor-kontraktor Hulumigas itu spend sekitar US$ 15,42 miliar untuk investasi di Hulu migas sendiri. Nilai yang sangat-sangat besar untuk ukuran hari ini," ujarnya dalam Konferensi Pers Forum Ekonomi Hulu Migas (FOREK Hulu Migas) 2026, Jakarta, Selasa (20/10/2026). Bayu mengungkapkan, meski membutuhkan modal yang besar, potensi cekungan migas di Indonesia dinilai masih sangat terbuka luas untuk dieksplorasi lebih lanjut oleh para operator. "Nah investasi yang cukup besar ini membutuhkan kepastian, membutuhkan koordinasi dan membutuhkan support dari kita semua. Bagaimana investasi ini bisa kita pertanggung jawabkan, bagaimana investasi ini bisa menghasilkan hal yang bisa kita solusikan untuk permasalahan tadi," ungkapnya. Bayu membeberkan, tantangan dalam pengembangan hulu migas terletak pada panjangnya jangka waktu dari tahap eksplorasi hingga menghasilkan produksi pertama di wilayah kerja baru. Selain itu, pengoperasian lapangan-lapangan tua (
mature field) yang sudah memasuki fase
late life juga membutuhkan teknologi khusus serta penanganan ekstra ketat. "Kalau kita melihat angka di atas, semoga ini tidak menjadi pesimis, kenapa? Karena potensi kita di Indonesia ini masih sangat-sangat besar. Dari 128 cekungan itu baru 20 yang kita kerjakan dari operator-operator Hulu migas. Sebagian besar potensi di Indonesia ini menunggu untuk dikerjakan," jelasnya.
Lebih lanjut, dia menambahkan, kerumitan proses produksi yang mencakup perizinan lahan, izin usaha, hingga tahap pengembangan lapangan mewajibkan adanya sinergi erat antara PHE, SKK Migas, dan seluruh pemangku kepentingan. "Tantangannya besar, di angka tahun lalu sudah ada US$ 15 miliar yang kita spend untuk investasi di hulu migas dan di tahun-tahun berikutnya ini juga pasti akan lebih besar lagi dan ini dibutuhkan tanggung jawab yang jauh lebih besar lagi," pungkasnya.
Baca Juga: Industri Mamin Tumbuh 6,51%, Pasokan Gas dan Bahan Baku Masih Jadi Tantangan Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News