Investasi IT Membayangi Dividen Bank



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta perbankan menyesuaikan pembagian dividen dengan kebutuhan investasi teknologi dan keamanan siber. Bank perlu menyisihkan dana untuk memperkuat sistem Information Technology (IT).

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, penyesuaian dividend payout diperlukan seiring tingginya kebutuhan investasi teknologi perbankan, termasuk untuk menghadapi risiko cyber attack dan scamming.

"Teknologi itu mahal, tentu yang namanya pemegang saham harus ikut memikirkan bagaimana banknya itu bisa diperkuat ke depannya dari cyber attack, scamming dan lain sebagainya," kata Dian, Senin (5/10/2026).


Baca Juga: BTPN Syariah Siapkan Buyback Saham Rp1 Triliun

Sebagai gambaran, sejumlah bank besar telah menetapkan pembagian dividen untuk tahun buku 2025. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk membukukan laba bersih pada 2025 sebesar Rp 56,3 triliun dan menyetujui membagikan Rp 44,47 triliun atau 79%. Sementara PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatat laba bersih sebesar Rp 57,5 triliun dengan dividen Rp 41,30 triliun atau 72%.

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) membagikan Rp 13,03 triliun dari laba Rp 20,04 triliun atau 65%. Sedangkan PT Bank CIMB Niaga Tbk telah menyetujui membagikan maksimal Rp 4,07 triliun dari laba bank-only Rp 6,78 triliun atau 60%.

Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan, investasi teknologi informasi (IT) memang telah diperhitungkan oleh bank.

"Itu sudah selalu kami hitung bahwa kebutuhan investasi utama, termasuk IT, masuk dalam perhitungan yang dibutuhkan," ujar Lani kepada Kontan, Selasa (6/10/2026).

EVP Corporate Communication BCA Hera F. Haryn mengatakan, BCA mencermati arahan dari OJK, termasuk penguatan teknologi sebagai salah satu pertimbangan dalam pembagian dividen.

"BCA senantiasa mengkaji dividend payout ratio untuk menjaga keseimbangan kebutuhan permodalan dalam mengantisipasi kebutuhan pengembangan bisnis Bank maupun entitas anak, inovasi teknologi dan keamanan digital, serta kepentingan pemangku kepentingan," ujar Hera kepada Kontan, Selasa (6/10/2026).

Baca Juga: Amartha Tawarkan Imbal Hasil Sekitar 6%-14% per Tahun untuk Lender

Hera mengatakan BCA berkomitmen mengembangkan layanan digital dan terus melakukan pengamanan dengan standar keamanan berlapis untuk menjaga data dan transaksi nasabah tetap aman.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai, bank dengan payout ratio tinggi berpotensi menahan laba lebih besar, sementara bank dengan payout ratio moderat belum tentu perlu melakukan penyesuaian sebesar itu.

“Yang lebih mungkin berubah adalah kebijakan dividen interim tahun buku 2026 dan dampak penuhnya baru terlihat pada RUPS tahun depan,” kata Yusuf kepada Kontan, Selasa (6/10/2026).

Menurut Yusuf, kebutuhan investasi teknologi terutama keamanan siber semakin besar. Bagi bank besar, menahan sebagian laba dinilai cukup untuk mendukung investasi tersebut. Sementara bagi bank menengah dan kecil, termasuk Bank Pembangunan Daerah (BPD), penahanan dividen perlu dibarengi penguatan infrastruktur bersama atau konsolidasi agar investasi teknologi lebih efisien.

Yusuf mengatakan penahanan laba tetap perlu mempertimbangkan kepentingan pemegang saham karena payout ratio yang terlalu rendah dapat mengurangi daya tarik saham bank sebagai instrumen dividen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News