Investasi Jadi Motor Ekonomi 2026, Insentif Diarahkan ke Penciptaan Lapangan Kerja



KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Pemerintah menempatkan investasi sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi 2026, dengan target realisasi mencapai Rp 2.041,3 triliun dan kontribusi mendekati 30% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Di tengah ketidakpastian global, strategi ini diperkuat lewat perubahan arah insentif fiskal agar lebih berpihak pada penciptaan lapangan kerja dan sektor energi bersih.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani, menyatakan target tersebut merupakan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto sekaligus pengungkit utama ekonomi nasional.


Baca Juga: Potensi Bisa Tembus US$ 9,5 Triliun, B57+ Membidik Indonesia Jadi Motor Ekonomi Halal

Hingga kuartal I-2026, realisasi investasi telah mencapai Rp 498,8 triliun atau 24,4% dari target tahunan, tumbuh 7,2% secara tahunan (yoy).

"Kontribusi investasi ke pertumbuhan ekonomi biasanya 28%–29%, ke depan kami melihat bisa lebih tinggi," ujarnya dalam konfrensi pers Realisasi Investasi Kuartal I 2026 di Jakarta, Kamis (23/4/2026).

Optimisme pemerintah ditopang tingginya minat investor global yang dinilai masih terjaga, seiring stabilitas ekonomi dan politik domestik.

Pemerintah pun aktif menawarkan peluang investasi ke sejumlah negara seperti Jepang, Korea Selatan, China, dan Singapura untuk menjaga momentum masuknya modal.

Sejauh ini, sektor hilirisasi tetap menjadi magnet utama dengan kontribusi sekitar 29%–30% terhadap total investasi, naik dari kisaran 24%–25% dari sebelumnya.

Baca Juga: Pemerintah Klaim Peran KEK Batang dan Kendal Jadi Penggerak Ekonomi di Daerah

Namun, pemerintah mulai mendorong diversifikasi ke sektor yang lebih padat karya seperti perkebunan dan perikanan guna memperluas dampak ekonomi, terutama pada penyerapan tenaga kerja.

Sejalan dengan itu, pemerintah mengubah pendekatan pemberian insentif fiskal. Jika sebelumnya lebih banyak diberikan kepada sektor padat modal seperti industri nikel, kini insentif akan diarahkan ke investasi yang memiliki dampak langsung terhadap penciptaan lapangan kerja dan nilai tambah ekonomi.

“Parameter kita bukan hanya besar investasi, tapi juga penyerapan tenaga kerja,” kata Rosan.

Kebijakan ini akan dijalankan lebih selektif dan berbasis dampak. Pemerintah bahkan membuka peluang insentif bagi proyek dengan nilai investasi relatif kecil, selama mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

Baca Juga: Investasi Belum Bisa Jadi Tumpuan Ekonomi

Salah satu contoh adalah investasi sekitar US$ 100 juta di Morowali yang mampu menyerap hingga 10.000 pekerja.

Data BKPM menunjukkan, realisasi investasi kuartal I-2026 telah menyerap 706.569 tenaga kerja, melonjak 18,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Dari sisi makro, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan investasi akan menjadi motor utama pertumbuhan pada sisa tahun ini, terutama di kuartal II hingga IV.

Pemerintah juga mengandalkan peran BPI Danantara untuk memperkuat pembiayaan dan menambah sumber investasi baru. “Dengan tambahan dari Danantara, target Rp 2.041 triliun ini optimistis bisa dicapai,” ujarnya.

Untuk menopang pertumbuhan ekonomi 5,4% pada 2026, pemerintah juga mendorong investasi di sektor energi, khususnya energi baru terbarukan (EBT).

Salah satu proyek strategis adalah pengembangan pembangkit listrik tenaga surya hingga 100 gigawatt (GW), dengan tahap awal 13,3 GW di wilayah 3T. Saat ini, kapasitas produksi domestik baru mencapai sekitar 5,9 GW.

Baca Juga: Pemerintah Targetkan Investasi Jadi Penggerak Pertumbuhan Ekonomi melalui Danantara

Program ini tidak hanya menjadi bagian dari transisi energi, tetapi juga diharapkan menjadi sumber investasi baru di luar proyek yang sudah berjalan.

Di tengah perlambatan global, prospek ekonomi Indonesia dinilai tetap kuat. Sejumlah lembaga internasional memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 5,2%, sejalan dengan target pemerintah.

Di kawasan, Indonesia juga diperkirakan tumbuh di atas rata-rata ASEAN yang berada di level 4,7%, menjadikannya salah satu motor pertumbuhan regional.

Baca Juga: Kadin Dorong Kemudahan Investasi untuk Angkat Ekonomi di 2026

Dengan kombinasi strategi hilirisasi, diversifikasi sektor, reformasi insentif, dan dorongan energi hijau, pemerintah menargetkan investasi tak hanya mengejar angka, tetapi juga memperluas dampak ekonomi secara lebih inklusif.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: