Investasi Melambat, PMDN Anjlok 7,48% di Tengah Tekanan Dunia Usaha



KONTAN.CO.ID -Ā JAKARTA. Kinerja investasi Indonesia menghadapi tantangan menjelang akhir 2026. Meski realisasi investasi terus meningkat, pertumbuhannya masih terbatas.

Di sisi lain, tekanan pasar keuangan dan pelemahan aktivitas dunia usaha berpotensi menahan ekspansi investasi.

Kementerian Investasi dan Hilirisasi mencatat, realisasi investasi pada kuartal III-2026 mencapai Rp 528,7 triliun, tumbuh 7,59% secara tahunan.


Pertumbuhan ini sedikit lebih tinggi dibandingkan kuartal I-2026 sebesar 7,22% dan kuartal II-2026 sebesar 7,14%.

Secara kumulatif, realisasi investasi sepanjang Januari–September 2026 mencapai Rp 1.539,2 triliun atau 75,4% dari target tahun ini sebesar Rp 2.041,3 triliun.

Baca Juga: Aktivitas Dunia Usaha Masih Ekspansi, Namun Momentum Pertumbuhan Diproyeksi Melambat

Namun, pertumbuhan investasi belum merata. Penanaman modal asing (PMA) mencapai Rp 270,2 triliun atau 51,1% dari total investasi kuartal III-2026, dengan pertumbuhan 27,36% secara tahunan.

Kenaikan ini antara lain dipengaruhi efek basis rendah karena PMA pada periode yang sama tahun lalu terkontraksi 8,9%.

Sebaliknya, penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp 258,5 triliun atau 48,9% dari total investasi justru turun 7,48% secara tahunan. Kondisi ini menjadi sinyal bahwa dorongan investasi domestik masih menghadapi tekanan.

Realisasi investasi kuartal III-2026 menyerap 745.634 tenaga kerja, meningkat 5,1% secara tahunan.

Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani mengatakan, pemerintah berupaya memperkuat kepastian berusaha melalui integrasi sistem perizinan dengan 28 kementerian dan lembaga (K/L).

Integrasi tersebut ditujukan untuk memberikan kepastian kepada investor mengenai proses dan waktu penerbitan izin.

Baca Juga: Ekonom Soroti Dominasi Negara yang Berisiko Tekan Dunia Usaha

Melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28, BKPM juga dapat menerbitkan perizinan jika kementerian atau lembaga terkait tidak memberikan keputusan dalam batas waktu pelayanan yang ditentukan.

Mekanisme fiktif positif tersebut telah digunakan untuk menerbitkan sekitar 328 perizinan.

Tekanan dunia usaha membayangi

Di tengah upaya pemerintah mendorong investasi, kondisi dunia usaha masih menjadi tantangan. Berdasarkan Indonesia CEO Confidence Index (ICCI) Oktober 2027 yang dirangkum KONTAN, optimisme para CEO untuk kuartal IV meningkat.

Namun, ketidakpastian global dan dinamika politik domestik masih berpotensi menghambat perkembangan bisnis dalam tiga bulan ke depan.

Survei Bank Indonesia (BI) juga mengindikasikan perlambatan kegiatan dunia usaha pada kuartal IV-2026, termasuk dari sisi investasi.

Tekanan tersebut tercermin dalam pemantauan aktivitas ekonomi berbasis big data oleh PT Bank Central Asia Tbk. Dari sekitar 500.000 perusahaan yang dipantau, BCA melihat kecenderungan penurunan BCA Income Index.

Baca Juga: Kinerja Dunia Usaha Diprediksi Turun di Kuartal III 2026, Daya Beli Jadi Sorotan

Kepala Ekonom BCA David Sumual menilai, tren tersebut berkaitan dengan persoalan struktural perekonomian, terutama daya beli masyarakat dan kondisi kelas menengah.

Sementara itu, Lead Economist Danamon Indonesia Irman Faiz mengingatkan, gejolak pasar keuangan dapat menambah beban dunia usaha melalui pelemahan rupiah, kenaikan imbal hasil (yield) obligasi, dan meningkatnya ketidakpastian investasi.

Pelemahan rupiah berpotensi menaikkan biaya bahan baku dan barang modal impor, serta beban utang valuta asing bagi perusahaan yang tidak melakukan lindung nilai.

Kenaikan yield juga dapat meningkatkan biaya penerbitan obligasi dan pembiayaan kembali utang (refinancing).

Baca Juga: Kinerja Dunia Usaha Diperkirakan Turun Pada Kuartal III 2026, Ini Penyebabnya

Di sisi lain, ketidakpastian membuat perusahaan cenderung meminta tingkat pengembalian investasi yang lebih tinggi sebelum merealisasikan ekspansi.

"Dampak awalnya kemungkinan lebih terasa pada penundaan ekspansi dan manajemen kas daripada pemangkasan produksi secara langsung," kata Irman.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News