Investasi Pariwisata Tembus Rp39,68 Triliun, Pengamat Soroti Multiplier Effect



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mencatat realisasi investasi sektor pariwisata mencapai Rp39,68 triliun pada semester I-2026. Nilai tersebut tumbuh 16,64% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Investasi tersebut terdiri atas penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp12,19 triliun dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) Rp27,48 triliun. Masing-masing tumbuh 37% dan 9,39% secara tahunan.

Menanggapi hal itu, pengamat pariwisata sekaligus Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI), Azril Azhari, menilai pertumbuhan investasi tersebut perlu dilihat lebih jauh, terutama dari dampaknya terhadap perekonomian. 


Baca Juga: Pemerintah Pastikan Karhutla Bromo Teratasi, Tersisa 1-2 Titik Api

Menurutnya, besarnya nilai investasi belum cukup untuk menunjukkan keberhasilan sektor pariwisata tanpa melihat multiplier effect yang dihasilkan.

Azril mempertanyakan apakah pemerintah sudah menghitung dampak investasi pariwisata secara menyeluruh, mulai dari dampak langsung, tidak langsung, hingga dampak lanjutan terhadap masyarakat.

“Investasi itu bukan hanya jumlah uang. Yang harus dilihat, ada atau tidak efeknya terhadap perekonomian. Multiplier impact dari investasi ini pernah dihitung atau tidak?” kata Azril kepada Kontan, Senin (10/8/3026). 

Menurut Azril, multiplier effect investasi pariwisata dapat muncul melalui berbagai aktivitas ekonomi yang tercipta setelah investasi masuk. Misalnya, pembangunan hotel dapat mendorong permintaan terhadap berbagai kebutuhan operasional dari pelaku usaha lain di sekitar destinasi.

Oleh karena itu, ia menilai pengukuran dampak investasi harus sampai pada peningkatan pendapatan masyarakat di lokasi destinasi. 

Menurutnya, pemerintah perlu mengetahui secara spesifik manfaat ekonomi yang diterima masyarakat, bukan hanya melihat nilai investasi secara nasional.

"Jadi bukan jumlah kalau itu hanya untuk kembali ke investor. Sekarang berapakah bisa meningkatkan pendapatan terhadap masyarakat setempat. Di daerah Sanur, Provinsi Bali, itu berapa bisa meningkatkan pendapatan dari membangun hotel? Itulah yang harus dihitung sehingga multiplier-nya harus dihitung secara jelas," ujar Azril.

Diberitakan sebelumnya, Menteri Pariwisata (Menpar), Widiyanti Putri Wardhana, menyatakan pertumbuhan investasi telah memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi di sektor pariwisata. 

Menurutnya, investasi tidak hanya mendorong pembangunan fasilitas, tetapi juga membuka lapangan kerja, memperkuat rantai pasok lokal, meningkatkan kualitas layanan, serta menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di berbagai destinasi.

"Investasi pariwisata tidak hanya membangun fasilitas, tetapi juga membuka lapangan kerja, memperkuat rantai pasok lokal, meningkatkan kualitas pelayanan, serta menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di berbagai destinasi," kata Widiyanti dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (8/8/2026).

Peningkatan aktivitas pariwisata juga tercermin dari tingkat okupansi hotel yang mencapai 48,20%. Angka tersebut naik 2,48 poin persentase dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Widiyanti mengatakan pertumbuhan pariwisata memberikan dampak berganda terhadap perekonomian nasional. Pada triwulan II-2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,29%, dengan sejumlah sektor yang berkaitan erat dengan pariwisata mencatat pertumbuhan positif.

Lapangan usaha akomodasi dan makan minum tumbuh 10,60%, transportasi dan pergudangan 5,65%, jasa perusahaan 5,08%, serta jasa lainnya 6,36%. Secara keseluruhan, sektor-sektor tersebut menyumbang sekitar 0,86 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Baca Juga: Kemendag dan Akademisi Bahas Intervensi Pemerintah dalam Menjaga Persaingan Usaha

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News