Investasi Petrokimia Asing Terhambat Listrik dan Bahan Baku



JAKARTA. Dua perusahaan petrokimia besar Mitshubishi Petrochemicals dan Samsung Chemicals berminat menjajaki investasi di Indonesia pada tahun ini. Dengan total nilai investasi US$ 1 miliar. Namun, rencana itu tak semulus perkiraan. Sebab, realisasi investasi kedua perusahaan multinasional itu terkendala masalah jaminan bahan baku dan pasokan listrik. Alhasil, realisasi rencana investasi itu akan molor dari jadwal di tahun ini.Seperti diketahui, Mitsubishi Petrochemicals tengah mengkaji kelayakan pembangunan pabrik petrokimia berteknologi gasifikasi batubara senilai US$ 500 juta di Bontang, Kalimantan Timur. Sedangkan Samsung Chemicals menjajaki kerjasama pembangunan pabrik aromatik dengan PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) senilai US$ 500 juta di Tuban, Jawa Timur. ”Memang ada sejumlah investor asing yang sedang menjajaki investasi. Depperin akan mengkoordinasikan kebutuhan bahan baku dan pasokan listrik yang saat ini masih menjadi kendala,” kata Direktur Jenderal Industri Agro dan Kimia Departemen Perindustrian (Depperin) Benny Wachjudi, kemarin (20/8). Padahal, Benny bilang, investasi industri petrokimia sangat menjanjikan. Sebab, kebutuhan produk petrokimia terutama dari hulu masih sangat besar, mengingat keterbatasan pasokannya di dalam negeri. Selama ini, kebutuhan produk petrokimia seperti etilena dan propilena masih dipasok dari impor berbagai negara. Sebab itu, investasi baru di sektor petrokimia hulu sangat menjadi kebutuhan nasional. Pada 2008 nilai investasi sektor petrokimia hulu dan hilir di dalam negeri mencapai US$ 7,4 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News