KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Jadi salah satu kurs yang berkinerja positif di kawasan Asia, rupiah masih dilirik investor awal tahun ini. Mengutip Bloomberg, pada perdagangan Jumat (17/1) rupiah ditutup sedikit koreksi yakni 0,02% di level Rp 13.645 per dolar AS. Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo menjelaskan, penguatan nilai tukar rupiah saat ini sebagian besar didukung oleh sentimen domestik. Antara lain hasil laporan neraca perdagangan Indonesia yang positif dan kehadiran BI di pasar untuk intervensi. "Untuk sementara, rupiah memang yang terbaik di Asia untuk penguatan valas terhadap dolar AS," ungkap Sutopo kepada Kontan, Jumat (17/1).
Menurutnya, investasi valuta asing (valas) bakal tetap menjadi primadona ke depan. Ini karena, tingkat likuiditas di investasi pasar uang yang cukup tinggi. Baca Juga: Rupiah diramal flat setelah menguat sepekan ini Bahkan, Sutopo menekankan bahwa nilai tukar rupiah termasuk mata uang yang memiliki tingkat likuiditas yang baik selama dua tahun berjalan. Selain itu, rupiah juga dinilai memiliki performa yang stabil dibandingkan mata uang Asia lainnya. "Jika dilihat range harga USD/IDR tidak berpaut jauh, atau mengalami turbulensi harga yang melebar, jadi baik buat investasi jangka pendek," ungkapnya. Sementara itu, jika dibandingkan dengan AUD/IDR kondisi nilai tukar sangat dipengaruhi fundamental China. Ini karena, aussie sebagai mata uang proxy sangat bergantung pada kestabilan ekonomi, khususnya terkait aktivitas ekspor ke China. Baca Juga: Perekonomian global membaik, aset berisiko makin menarik