KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Arah suku bunga The Fed akan mempengaruhi pergerakan valuta asing (valas) pada tahun 2026.
Head of Investment & Insurance Product Bank DBS Indonesia Djoko Sulistyo mengatakan, terdapat dua faktor yang akan mempengaruhi pergerakan valas. Antara lain sentimen suku bunga dan sentimen geopolitik. Kedua faktor tersebut diyakini berpengaruh pada gerak valas utama ke depannya. "Tapi yang pasti selalu terjadi di ujung akhirnya itu yang namanya keseimbangan antara risiko yang ada dengan potensi keuntungan yang ada," ucap Djoko ditemui usai acara Bank DBS Indonesia, Senin (19/1/2026).
Djoko melihat dari sisi ekonomi setiap negara akan menjaga nilai tukar mata uangnya tetap stabil dan dapat menarik minat investasi dari investor. Sebab, jika nilai mata uang terlalu mahal, maka minat investor diyakini akan menurun.
Baca Juga: Harga Tembaga Melesat, Begini Efeknya Bagi Emiten Produsen Tembaga Akan tetapi jika harga valas suatu negara relatif bersaing dan bisa memberikan potensi return yang bagus, maka akan bagus buat negara tersebut. "Tapi saya nggak bisa ngomong bahwa mata uang mana yang kira-kira akan terbagus apa gitu saya nggak bisa ngomong sejauh itu," kata Djoko. Djoko melihat bahwa valas terkadang tidak hanya terkait dengan investasi. Tapi juga mengenai masalah kebutuhan. Ada orang yang membeli valas untuk kebutuhan usahanya, ada orang yang mempunyai kebutuhan untuk pendidikan, kesehatan, dan yang lainnya. Yang pasti, Djoko mengatakan bahwa investasi di produk seperti reksa dana, obligasi, maupun valas, prinsipnya mesti rutin. Lalu, jangan melupakan informasi, dan karena adanya rutin tadi maka otomatis akan berkesinambungan dengan yang disebut
dollar cost averaging (DCA). "Tapi apakah
dollar cost averaging itu akan berlangsung terus? Ya kembali kita harus denger informasi saat ini yang lebih cocok mana, mana yang dilihat lebih bagus dan kita investornya merasa yakin ya itulah porsi otomatis yang harus diperbesar. Nah kembali kalau udah kayak gini kembali ke masing-masing individu ya," jelas Djoko. Djoko menilai masyarakat sudah memahami prinsip investasi dalam valas. Sebab instrumen investasi ini sudah ada sejak lama. Menurutnya, baik investasi melalui broker maupun membelinya sendiri, akan sama-sama mempunyai risiko dan potensi keuntungan. "Kalau untung rugi kan lebih kepada titik masuknya ya. Jadi bukan masalah di tempat mana. Tapi dari sisi kami, kami menawarkan kemudahan baik dari sisi informasi maupun channel untuk transaksi," jelas Djoko. Djoko mengatakan, nasabah Bank DBS yang membeli valas didukung informasi dari Relationship Manager atau Foreign Exchange spesialis Bank DBS. Mereka memberikan informasi yang paling update mengenai pergerakan pasar. Djoko menyebut di Bank DBS mempunyai apa yang disebut dengan 'Rekening Valas'. Kelebihan dari Rekening Valas ini adalah sebuah rekening yang cukup dengan satu nomor tapi bisa dipakai oleh langsung beberapa mata uang. Jadi Bank DBS berharap dengan kehadiran rekening valas tersebut dapat membantu memudahkan nasabah/customer dalam bertransaksi valas. "Kemudian jika mau transaksi, nasabah bisa langsung melakukan transaksi kapan pun dia merasa mau untuk transaksi," terang Djoko.
Baca Juga: Cermati Rekomendasi Saham Teknikal RAJA, DSSA, GZCO untuk Selasa (20/1) Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News