KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pesawat Airbus A320 milik Air India yang terbang dari Phuket menuju New Delhi mengalami kejadian serius di ketinggian 36.000 kaki pada 4 Agustus 2026. Pesawat sempat mengalami peringatan stall atau kehilangan daya angkat, sementara sistem hidrolik pesawat kehilangan tekanan dalam waktu singkat. Berdasarkan laporan awal Aircraft Accident Investigation Bureau (AAIB) India yang dirilis Jumat (4/9/2026), kejadian tersebut membuat 24 orang, termasuk penumpang dan awak kabin, terluka setelah pesawat mengalami gerakan pitch atau perubahan sudut hidung secara cepat ke atas kemudian turun. Kondisi itu menyebabkan penumpang dan awak kabin terlempar hingga membentur kompartemen bagasi di atas kepala. Pesawat yang membawa 137 penumpang dan delapan awak tersebut awalnya naik sekitar 372 kaki dari ketinggian jelajahnya, sebelum kemudian turun hingga 292 kaki di bawah ketinggian semula.
Baca Juga: Norwegia Bakal Pangkas US Treasury hingga US$ 80 Miliar, Ini Negara Tujuan Investasi Peringatan stall berbunyi selama sekitar dua detik setelah sistem kendali penerbangan mendeteksi hilangnya tekanan pada ketiga sistem hidrolik pesawat dalam waktu kurang dari empat detik. Kehilangan tekanan tersebut menyebabkan autopilot terlepas dan memicu alarm terus-menerus di kokpit. Sistem hidrolik pesawat menggunakan cairan bertekanan untuk menggerakkan berbagai komponen kendali penerbangan dan peralatan lainnya. Menurut laporan AAIB, sistem hidrolik mulai kembali pulih sekitar sembilan detik setelah sistem pertama kehilangan tekanan. Namun, laporan awal tersebut belum menjelaskan penyebab hilangnya tekanan pada ketiga sistem hidrolik. AAIB menyatakan penyebabnya masih membutuhkan penyelidikan lebih lanjut. AAIB juga meningkatkan klasifikasi kejadian tersebut dari sebelumnya "serious incident" atau insiden serius menjadi "accident" atau kecelakaan. Laporan ini memberikan gambaran mengenai beberapa detik yang berlangsung kacau di dalam pesawat. Saat kejadian berlangsung, pesawat diterbangkan oleh first officer berusia 32 tahun. Setelah itu, kapten berusia 34 tahun mengambil alih kendali pesawat. Keduanya telah diwawancarai sebagai bagian dari penyelidikan. Analisis Airbus dalam laporan internal yang ditinjau Reuters menunjukkan bahwa pesawat A320 tersebut mengalami kehilangan tekanan pada ketiga sistem hidroliknya secara berurutan dalam waktu yang sangat singkat. Kondisi itu sempat membuat sejumlah kendali penerbangan utama tidak responsif.
Baca Juga: Jika Fed Tak Pangkas Suku Bunga, Trump Ancam Stop Perdagangan dengan Sejumlah Negara Selama sekitar empat detik, pilot disebut tidak dapat menggunakan elevator dan aileron. Elevator berfungsi mengendalikan gerakan pitch atau naik-turunnya hidung pesawat, sementara aileron digunakan untuk mengendalikan kemiringan atau banking pesawat. Meski demikian, laporan awal AAIB belum memberikan rekomendasi kepada Airbus. Kejadian ini menambah sorotan terhadap Air India, yang sebelumnya berada di bawah tekanan regulator dan publik setelah kecelakaan Boeing 787 miliknya di Ahmedabad pada Juni 2025. Kecelakaan tersebut menewaskan 260 orang. Dalam kasus terbaru ini, perhatian juga tertuju pada hasil pemeriksaan zat psikoaktif terhadap kapten pesawat. Laporan AAIB menyebut hasil tes konfirmasi terhadap sang kapten menunjukkan hasil "non-negative" untuk zat psikoaktif. AAIB tidak menyebutkan jenis zat yang terdeteksi. Namun, sumber Reuters pada bulan lalu mengatakan zat tersebut adalah marijuana. Air India pada Jumat (4/9/2026) menyatakan telah memberhentikan secara langsung kapten yang bertugas sebagai pilot-in-command dalam penerbangan tersebut setelah hasil tes menunjukkan positif terhadap zat psikoaktif. Maskapai tersebut mengatakan akan bekerja sama penuh dalam penyelidikan dan memberikan akses kepada investigator terhadap catatan operasional, pemeliharaan, serta data teknis yang dibutuhkan.
Setelah kejadian tersebut, Air India juga menerapkan pemeriksaan zat secara wajib satu kali bagi seluruh pilot. Kebijakan ini memperluas pemeriksaan di luar persyaratan regulator yang berlaku. AAIB merekomendasikan regulator penerbangan India mengambil tindakan yang tepat dan menjadi prioritas untuk mencegah penyalahgunaan zat psikoaktif. Investigator menyebut temuan tersebut sebagai "perhatian serius". India juga tengah mempertimbangkan penerapan tes narkoba tahunan bagi seluruh pilot. Saat ini, ketentuan yang berlaku hanya mewajibkan pemeriksaan terhadap 10% pilot setiap tahun. Air India dikendalikan oleh Tata Group, sementara Singapore Airlines memiliki sekitar 25% saham di maskapai tersebut.