Investor asing berburu lahan industri



JAKARTA. Unjuk rasa para pekerja yang menuntut kesejahteraan belum juga mereda. Tapi, kondisi itu tampaknya tak membuat ciut nyali para investor asing. Buktinya, gelombang investor asing yang hendak menanamkan duit di negeri ini tetap mengalir.

Yang terbaru adalah pengembang asal Taiwan, Acquire Universal Advantage Land (AUA) Development yang baru saja membeli lahan industri seluas 216 hektare (ha) di Karawang, Jawa Barat, dari PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) dengan nilai transaksisekitar Rp 1 triliun.

Bagi investor, duit segitu mungkin terbilang kecil. Tapi, bagi Agung Podomoro, angka itu memang cukup besar. Sebab, empat bulan silam, atau pada Juli 2013, pengembang properti itu membeli lahan itu seharga Rp 503 miliar. "Ini kesempatan mendapatkan margin yang baik dalam waktu singkat," kata Trihatma Haliman, Direktur Utama Agung Podomoro dalam rilisnya, Senin (4/11).


Mengutip Want China Times, AUA Development akan menggandeng perusahaan lain asal Taiwan, China Steel Structure Co untuk membangun kawasan industri khusus bagi investor asal Taiwan ke lahan tersebut. Kawasan industri ini diharapkan bisa menarik minat sekitar 120 investor Taiwan dengan nilai produksi tidak kurang dari US$ 30 miliar per tahun.

Adapun jenis industri yang dibidik antara lain: industri mesin, produk tekstil, dan peralatan pertanian. Tapi, ada sebagian lahan industri seluas 50 ha bakal dialokasikan khusus untuk industri berat, seperti percetakan, mesin, dan suku cadang otomotif.

Azhar Lubis, Deputi Pengendalian dan Pelaksanaan Penanaman Modal Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mendengar kabar kedatangan para investor asal Taiwan ini.

Meski begitu, hingga kini, belum ada yang mengajukan secara resmi ke BKPM. "Mudah-mudahan saja berita ini benar," katanya, ke KONTAN, Selasa (5/11). Meski begitu, Azhar memprediksi, investor asal Taiwan ini akan lebih banyak berkecimpung di bidang komponen elektronik. Maklum, bidang itu masih menjadi andalan industri negara ini.

Tak hanya Taiwan, Azhar melihat tahun depan tren investasi dari beberapa negara di Asia Timur semacam Jepang, Korea Selatan, dan China ke Indonesia bakal membesar. Investasi dari Jepang terkait dengan beberapa prinsipal otomotif besar yang telah punya pabrik di sini, seperti Toyota Motor Corp dan Honda Motor Corp.

Kehadiran Posco juga akan mendorong lebih banyak investor Korea Selatan masuk. Investasi China, menurut prediksi BKPM, bakal lebih banyak masuk ke industri pengolahan bahan mentah tambang alias smelter. Meskipun belum terealisasi, tetapi sudah ada beberapa komitmen investasi, seperti pabrik pengolahan bauksit di Kalimantan Barat serta pabrik semen di Kalimantan Selatan dan Papua.

Bagi para investor Asia itu, Indonesia masih menjadi pasar yang menjanjikan. Meski ada tuntutan kenaikan upah minimum pekerja, menurut Azhar, nilainya masih dianggap wajar bagi investor. Nah, kalaupun ada investor asing yang hengkang dari kawasan industri dari kawasan Jabodetabek ke Jawa Tengah atau k e Jawa Timur, menurut Azhar, faktornya bukan semata-mata upah pekerja.

Tapi, "Lahan industri di sekitar Jabodetabek sudah makin sempit," klaimnya. Tapi, Sanny Iskandar, Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) punya data lain. Ada sekitar 20% sampai 30% industri yang berada di koridor Jakarta, Tangerang, Bekasi, Karawang, Purwakarta, Serang, dan Bogor sudah hengkang sejak awal tahun ini.

"Yang sudah ada keluar, yang baru mau masuk pikir-pikir lagi," ujarnya. Industri yang merelokasi bisnisnya didominasi industri padat karya, terutama asal Korea Selatan di Kawasan Berikat Nusantara (KBN) untuk mencari daerah yang upahnya lebih rendah. Namun, Sanny belum bisa memprediksi berapa banyak yang akan keluar tahun depan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie