Investor Asing Borong US$ 103 miliar Surat Berharga AS



KONTAN.CO.ID -​ NEW YORK. Di tengah ketidakpastian arah suku bunga Amerika Serikat (AS) dan kekhawatiran pasar terhadap besarnya kebutuhan pembiayaan pemerintah AS, investor asing justru kembali menambah eksposurnya ke aset-aset Negeri Paman Sam. Data terbaru menunjukkan minat global terhadap surat berharga AS masih terjaga, meski tidak sekuat awal tahun.

Mengutip Reuters (19/6), laporan Treasury International Capital (TIC) yang dirilis Departemen Keuangan AS menunjukkan investor asing membeli sekitar US$ 103 miliar surat berharga jangka panjang AS pada April 2026. Pada saat yang sama, kepemilikan asing atas surat utang pemerintah AS (Treasuries) bertambah US$ 4 miliar menjadi US$ 9,353 triliun. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan Maret, namun masih berada di bawah rekor US$ 9,49 triliun yang tercatat pada Februari lalu.

Data ini menjadi perhatian pasar karena muncul di tengah perdebatan mengenai daya tarik aset AS. Di satu sisi, bank sentral AS masih mempertahankan kebijakan moneter yang ketat untuk mengendalikan inflasi. Di sisi lain, reli saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI) terus menarik arus modal ke pasar keuangan AS.


Jepang tetap menjadi pemegang terbesar obligasi pemerintah AS dengan kepemilikan mencapai US$ 1,21 triliun pada April, naik dari US$ 1,19 triliun pada bulan sebelumnya. Inggris juga meningkatkan kepemilikannya menjadi US$ 938 miliar dari US$ 927 miliar. Sebaliknya, China kembali mengurangi eksposurnya meski tipis, menjadi US$ 651 miliar dari US$ 652 miliar.

Baca Juga: Data Treasury AS: Jepang dan China Kurangi Kepemilikan Surat Utang AS pada Maret

Meski kenaikannya relatif terbatas, data tersebut menunjukkan bahwa kekhawatiran mengenai berkurangnya minat investor asing terhadap utang AS belum sepenuhnya terbukti. Bahkan setelah kepemilikan asing sempat turun pada Maret, posisi April kembali mencatat peningkatan dan secara tahunan masih tumbuh sekitar 4%.

Laporan itu juga mencatat arus masuk bersih modal asing (net TIC inflow) sebesar US$ 26,1 miliar pada April. Menariknya, investor swasta asing justru membukukan arus keluar bersih US$ 23,1 miliar, sementara institusi resmi seperti bank sentral dan lembaga pemerintah mencatat arus masuk bersih mencapai US$ 49,2 miliar. Hal ini mengindikasikan bahwa dukungan terhadap pasar surat utang AS masih banyak berasal dari investor institusional resmi.

Di pasar obligasi, permintaan terhadap instrumen lindung inflasi juga tetap kuat. Reuters melaporkan lelang Treasury Inflation-Protected Securities (TIPS) tenor lima tahun pada Kamis mendapat sambutan positif dari investor. Kondisi tersebut mencerminkan bahwa pasar masih melihat obligasi AS sebagai aset aman, meski risiko inflasi dan ketidakpastian kebijakan moneter belum sepenuhnya mereda.

Bagi pasar global, data ini mengirim sinyal penting. Walaupun muncul wacana diversifikasi investasi keluar dari AS dalam beberapa bulan terakhir, arus dana asing yang terus mengalir menunjukkan bahwa pasar keuangan AS masih menjadi tujuan utama investor dunia. Tantangan berikutnya adalah apakah minat tersebut dapat bertahan jika suku bunga AS tetap tinggi lebih lama atau kebutuhan pembiayaan pemerintah AS terus membengkak.

Baca Juga: Ekonomi Dunia: Rahasia di Balik Pembelian Surat Utang AS oleh China