Investor Asing Cermati Transformasi Bursa, Bagaimana Dampaknya ke Rupiah?



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) belum lama ini bertemu dengan sekitar 100 investor global untuk membahas perkembangan reformasi aturan pasar modal Indonesia. Pertemuan itu disebut menjadi salah satu sentimen yang mempengaruhi pergerakan rupiah. 

Adapun, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah 0,17% secara harian ke level Rp 18.027 per dolar AS. Secara year to date (ytd), rupiah telah melemah 7,78% dari posisinya di level Rp 16.725 per dolar AS pada 2 Januari 2026. 

Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy mengatakan, keraguan investor terhadap keseriusan reformasi bursa dapat menahan dana asing masuk atau mendorong capital outflow, sehingga ikut menekan rupiah. 


Baca Juga: Laba Sido Muncul (SIDO) Anjlok 44% di Semester I, Analis Yakin Ada Sinyal Pemulihan

“Bisa menjadi salah satu faktor, tetapi bukan penyebab utama,” ujar Budi kepada Kontan, Selasa (4/8/2026). 

Namun, Budi menyebut, tekanan rupiah saat ini lebih dominan berasal dari volatilitas global, risiko geopolitik, harga energi, dan penguatan dolar AS. Jadi, reformasi bursa adalah faktor sentimen tambahan yang memperbesar tekanan, bukan faktor utama.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede menjelaskan, terdapat beberapa faktor yang membawa rupiah kembali ke sekitar Rp18.000 per dolar AS. Faktor pertama adalah memburuknya neraca perdagangan. Indonesia mencatat defisit perdagangan untuk bulan kedua berturut-turut pada Juni sebesar sekitar US$450 juta, setelah defisit US$ 1,61 miliar pada Mei. Ekspor Juni mencapai US$25,46 miliar, tetapi impor lebih tinggi sebesar US$25,91 miliar. Yang perlu dicermati bukan hanya besarnya defisit, melainkan kecepatannya: impor meningkat 34,27% secara tahunan, jauh lebih tinggi daripada kenaikan ekspor 8,84%. Impor migas bahkan melonjak lebih dari dua kali lipat. 

“Kondisi ini memperbesar permintaan dolar untuk membayar impor sekaligus menimbulkan kekhawatiran bahwa defisit transaksi berjalan akan melebar,” ujar Josua kepada Kontan, Selasa (4/8/2026). 

Josua bilang, defisit Juni memang lebih kecil daripada Mei, tetapi perbaikannya lebih banyak berasal dari pemulihan ekspor secara bulanan, bukan perubahan mendasar pada struktur perdagangan.

Sepanjang Januari–Juni 2026, impor bahan baku meningkat 18,38% dan barang modal naik 20,50%. Sebagian kenaikan tersebut mencerminkan investasi dan kegiatan produksi, tetapi selama ekspor serta penerimaan devisa tidak meningkat sebanding, kebutuhan dolar akan terus lebih cepat daripada pasokannya. 

Faktor kedua adalah kenaikan harga minyak akibat terganggunya pelayaran di Selat Hormuz. Sebagai negara pengimpor minyak bersih, Indonesia dirugikan ketika harga minyak naik karena tagihan impor energi, subsidi, serta kebutuhan valuta asing bertambah.

Pada perdagangan 4 Agustus, sebagian besar mata uang Asia yang sensitif terhadap harga minyak ikut melemah, dengan harga Brent kembali berada di kisaran US$85–US$89 per barel. Namun, rupiah menghadapi tekanan tambahan karena neraca perdagangan Indonesia sudah berada dalam posisi defisit. 

Faktor ketiga adalah suku bunga dan imbal hasil obligasi Amerika Serikat yang tetap tinggi. Bank sentral Amerika Serikat mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,50–3,75% karena perekonomian masih kuat dan inflasi belum kembali ke sasaran.

Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika juga meningkat cukup tajam sepanjang kurva jatuh tempo. Pasar bahkan memperkirakan peluang 63% bahwa suku bunga berada pada kisaran 3,75% – 4,00% pada pertemuan September. “Kondisi ini membuat aset dolar tetap menarik dan menaikkan tambahan imbal hasil yang harus ditawarkan Indonesia,” terang Josua. 

Baca Juga: Surya Semesta Internusa (SSIA) Catat Kenaikan Kinerja per Semester I-2026

Faktor keempat adalah mutu arus modal masuk Indonesia yang masih rapuh. Sepanjang 2026 hingga Juli, pasar saham mengalami arus keluar sekitar US$4,55 miliar, sementara SBN hanya menerima sekitar US$0,84 miliar. Arus masuk terbesar justru menuju SRBI, yakni sekitar US$9,72 miliar. Secara keseluruhan Indonesia masih mencatat arus masuk bersih sekitar US$5,65 miliar, sehingga belum terjadi pelarian modal secara menyeluruh. 

Namun, ketergantungan pada instrumen BI yang berjangka pendek dan berimbal hasil tinggi membuat dukungan terhadap rupiah mudah berbalik ketika selera risiko global berubah. Posisi SRBI pada akhir Juli telah mencapai sekitar Rp1.059 triliun, meningkat lebih dari Rp328 triliun sejak akhir 2025. Sementara itu, kepemilikan asing atas SBN hanya meningkat sekitar Rp13 triliun sejak awal tahun hingga 29 Juli. Ini menunjukkan bahwa investor asing masih bersedia menempatkan dana di Indonesia, tetapi lebih menyukai instrumen berjangka pendek daripada membuat komitmen jangka panjang di saham atau obligasi pemerintah. 

Faktor kelima adalah kepercayaan terhadap tata kelola pasar modal. Persoalan reformasi bursa bukan penyebab tunggal pelemahan rupiah harian, tetapi memperbesar premi risiko Indonesia. MSCI tetap mempertahankan Indonesia dalam kategori pasar berkembang, tetapi menurunkan penilaian arus informasi dari positif menjadi negatif karena ketidakjelasan struktur kepemilikan saham dan indikasi transaksi terkoordinasi yang dapat mengganggu pembentukan harga. 

“Ketika kepercayaan terhadap pasar saham melemah, arus modal keluar mengurangi pasokan dolar dan dampaknya merambat ke rupiah,” imbuh Josua. 

Josua melihat sebenarnya OJK, BEI, dan KSEI telah menyiapkan penambahan klasifikasi investor, pengungkapan pemegang saham di atas 1%, serta kenaikan bertahap porsi saham beredar publik dari 7,5% menjadi 15%. 

“Masalahnya bukan ketiadaan agenda, melainkan apakah aturan tersebut dilaksanakan cepat, disertai penegakan hukum, dan menghasilkan perubahan nyata yang dirasakan investor. Pengumuman kebijakan tanpa keterbukaan pemilik manfaat akhir dan tindakan terhadap transaksi terkoordinasi belum cukup untuk memulihkan kepercayaan,” jelas Josua. 

Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Muhammad Rizal Taufikurahman mengatakan, pergerakan rupiah selanjutnya akan sangat dipengaruhi arah suku bunga The Fed, perkembangan harga minyak dunia, tensi geopolitik, serta aliran modal asing ke pasar keuangan domestik. Pasar juga akan mencermati kondisi neraca perdagangan, cadangan devisa, kesinambungan kebijakan Bank Indonesia, dan disiplin fiskal pemerintah. 

“Selama faktor-faktor tersebut belum membaik, volatilitas rupiah masih akan tinggi,” ucap Rizal. 

Rizal melihat dalam jangka pendek, rupiah berpotensi tetap bergerak fluktuatif pada kisaran Rp17.800–Rp18.300 per dolar AS. Tekanan global masih cukup dominan, sehingga ruang penguatan cenderung terbatas. Dalam jangka menengah, peluang penguatan tetap ada apabila harga energi turun, surplus perdagangan kembali membesar, dan kepercayaan investor terhadap kebijakan ekonomi domestik membaik. 

Josua melihat dalam jangka menengah, terdapat peluang rupiah menguat secara bertahap, tetapi tidak otomatis kembali cepat ke tingkat sebelum konflik. Cadangan devisa sebesar US$145,6 miliar masih memadai untuk membiayai sekitar 5,5 bulan impor, sehingga BI mempunyai kemampuan intervensi yang cukup. Namun, cadangan tersebut bukan sumber yang tidak terbatas dan sebaiknya digunakan untuk meredam gejolak, bukan mempertahankan satu angka kurs tertentu.

BI perlu mempertahankan suku bunga 5,75% dalam waktu dekat, mengoptimalkan intervensi di pasar tunai dan berjangka, serta memperluas fasilitas lindung nilai. BI juga telah memberi potongan biaya lindung nilai untuk menarik pasokan valuta asing. Strategi ini tepat, tetapi ketergantungan terhadap SRBI perlu dikurangi secara bertahap karena mahal dan menarik dana yang mudah berpindah. 

“Dalam skenario dasar, saya memperkirakan rupiah pada akhir 2026 berada pada kisaran Rp 17.900 – Rp18.200 per dolar AS, dengan titik tengah sekitar Rp18.050,” ucap Josua. 

Josua mengatakan, proyeksi tersebut mempertimbangkan defisit transaksi berjalan yang melebar, harga energi yang masih tinggi, serta suku bunga global yang belum cepat turun. Namun, inflasi domestik yang terkendali, cadangan devisa yang memadai, dan intervensi BI dapat mencegah pelemahan menjadi tidak terkendali.

Baca Juga: Laba CPIN Melonjak 95%, Analis Ungkap Alasan dan Rekomendasi Sahamnya Terbaru

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News