Investor Asing Intip Obligasi Asia Tenggara di Tengah Tekanan Yield



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pasar obligasi di Asia Tenggara tengah menghadapi tekanan permintaan. Kendati demikian, kondisi ini menciptakan peluang masuk bagi manajer investasi asing untuk masuk dan mengunci yield yang lebih tinggi.

Asal tahu saja, lelang obligasi Malaysia tenor 2046 pada akhir Agustus mencatat bid-to-cover sebesar 1,63 kali, yang merupakan level terendah kedua sepanjang tahun ini. Sementara itu, penjualan surat utang Thailand tenor 2036 pada 2 September mencatat bid-to-cover 1,13 kali, terendah untuk obligasi acuan tenor 10 tahun sejak Mei.

Lelang obligasi tenor lima tahun Filipina pada pekan lalu mencatat bid-to-cover terlemah sejak 2013. Di Indonesia, lelang obligasi konvensional pada pekan lalu mencatat total penawaran sebesar Rp 66 triliun (US$ 3,77 miliar), menjadi yang terendah sejak lelang 7 Juli.


Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi mengatakan, kenaikan yield US Treasury menjadi salah satu faktor yang membuat investor meminta premi lebih besar sebelum menambah eksposur pada obligasi negara-negara emerging market. Dicatatnya yield US Treasury 10 tahun masih berada di kisaran tinggi, sekitar 4,8% pada 8 September.

Baca Juga: Laba Bersih Rukun Raharja (RAJA) Melonjak 88% pada Semester I 2026

“Sepinya lelang obligasi Asia Tenggara lebih tepat dibaca sebagai kombinasi repricing global, suplai penerbitan yang besar, dan kehati-hatian investor terhadap tenor panjang,” ujar Syafruddin kepada Kontan, Kamis (10/9/2026).

Di sisi lain, kenaikan harga minyak yang kembali mendekati US$ 100 per barel turut meningkatkan risiko inflasi. Kondisi ini berpotensi mempersempit ruang penurunan suku bunga di negara-negara kawasan Asia Tenggara.

Syafruddin juga mencatat, tekanan permintaan juga terlihat di pasar obligasi Indonesia. Pada lelang Surat Utang Negara (SUN) 1 September 2026, pemerintah menyerap Rp 34 triliun. Namun, total penawaran yang masuk hanya sekitar Rp 65,97 triliun, lebih rendah dibandingkan lelang sebelumnya. Ada pun yield SUN tenor 10 tahun saat ini ada di level 7,1% atau turun 1,03% sepekan.

Kata Syafruddin, pelemahan permintaan tersebut belum dapat diartikan sebagai sinyal memburuknya fundamental Indonesia maupun kawasan Asia Tenggara.

"Ini belum berarti fundamental memburuk. Masalah utamanya ialah harga. Ketika yield global naik dan pasokan obligasi bertambah, investor menunggu valuasi yang lebih menarik," jelasnya.

Menurut Syafruddin, risiko terhadap pasar obligasi baru menjadi lebih serius apabila pelemahan lelang terjadi secara berulang, diikuti tekanan terhadap rupiah dan penurunan permintaan dari investor domestik secara bersamaan.

Baca Juga: Tambah 4 Armada Kapal, MITI Gelontorkan Investasi Senilai Rp 22,75 Miliar

Melansir Bloomberg, sejumlah investor institusi asing seperti Western Asset Management dan Aberdeen Investments masih mempertahankan pandangan positif terhadap kawasan Asia Tenggara. Tak menutup kemungkinan, investor institusi asing mulai melihat peluang untuk masuk ke pasar obligasi Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Syafruddin bilang, langkah tersebut sejalan dengan strategi contrarian yang tetap memperhatikan fundamental. Investor institusi besar umumnya membedakan antara tekanan harga jangka pendek dengan kerusakan fundamental atau solvabilitas suatu negara.

“Potensi masuknya Aberdeen dan investor institusi lain justru konsisten dengan perilaku contrarian yang disiplin: pasar yang melemah menciptakan entry point jika fundamental tetap cukup kuat," katanya.

Namun, investor asing belum menunjukkan sikap risk-on secara penuh. Hal tersebut tercermin dari kecenderungan investor memilih obligasi dengan tenor pendek hingga menengah.

Baca Juga: Harga Minyak Reli, Brent Bertahan di Atas US$ 100 Per Barel: Ini Pemicunya

"Durasi yang lebih pendek mengurangi sensitivitas harga terhadap kenaikan yield global, menekan risiko mark-to-market, dan memberi fleksibilitas untuk reinvestasi jika suku bunga tetap tinggi," tutur Syafruddin.

Di Indonesia, ia mencermati aktivitas perdagangan pada awal September 2026 juga didominasi oleh obligasi dengan sisa umur di bawah lima tahun.

Menurut Syafruddin, strategi tersebut menunjukkan investor masih belum sepenuhnya yakin bahwa siklus kenaikan yield global telah berakhir. Investor cenderung mengejar carry yang menarik tanpa mengambil risiko durasi yang terlalu besar.

"Jadi, arus masuk tersebut positif, tetapi masih selektif, bukan sinyal risk-on penuh," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News