KONTAN.CO.ID - Investor asing mulai mengurangi kepemilikan obligasi di sejumlah negara Asia pada Agustus 2026. Kondisi ini terjadi di tengah aksi jual pasar obligasi global dan ekspektasi bahwa bank sentral utama dunia akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Melansir
Reuters Jumat (18/9/2026), berdasarkan data regulator dan asosiasi pasar obligasi, investor asing mencatat penjualan bersih (
net sell) obligasi sebesar US$457 juta di Korea Selatan, Malaysia, India, Indonesia, dan Thailand. Ini menjadi arus keluar pertama setelah empat bulan berturut-turut terjadi pembelian bersih.
Baca Juga: Fitch Pangkas Rating Pos Indonesia Jadi RD (idn) Usai Gagal Bayar Sukuk Pasar obligasi Amerika Serikat (AS), Jerman, hingga Jepang turut tertekan sepanjang Agustus. Kenaikan utang pemerintah dan kekhawatiran terhadap inflasi mendorong biaya pinjaman jangka panjang di sejumlah negara maju mencapai level tertinggi dalam beberapa dekade. Sentimen terhadap obligasi Asia juga terpengaruh arah kebijakan bank sentral global. European Central Bank (ECB) menaikkan suku bunga menjadi 2,50% dari 2,25%, sementara Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Rabu sehingga berada di kisaran 3,75%-4,00%. Kebijakan tersebut ditempuh ketika tekanan inflasi masih menjadi perhatian, antara lain akibat kenaikan biaya energi yang berkaitan dengan perang Iran. Analis menilai, ekspektasi bahwa bank sentral utama akan mempertahankan kebijakan moneter ketat dalam waktu lebih lama mendorong investor mengurangi eksposur terhadap surat utang negara berkembang. Kekhawatiran mengenai meningkatnya pasokan obligasi pemerintah di sejumlah negara maju juga menjadi faktor yang menekan minat terhadap aset pendapatan tetap di pasar negara berkembang.
Baca Juga: Cermati Saham yang Banyak Diburu Asing Saat IHSG Terkoreksi ke 6.441di Akhir Pekan Korea Selatan catat outflow terbesar Korea Selatan mencatat arus keluar terbesar pada Agustus. Investor asing menjual sekitar US$5,4 miliar obligasi Korea Selatan setelah sebelumnya mencatat pembelian bersih selama empat bulan berturut-turut. Khoon Goh, head of Asia research di ANZ, menilai arus keluar tersebut kemungkinan berkaitan dengan aksi investor yang mulai mengurangi posisi yang sebelumnya dibangun menjelang masuknya obligasi Korea Selatan ke FTSE World Government Bond Index (WGBI).
Baca Juga: Transaksi OTC Tokocrypto Naik 64 Kali Lipat, Pengguna Tembus 5 Juta “Hal ini kemungkinan mencerminkan sebagian aksi pelepasan posisi yang terakumulasi menjelang masuknya WGBI, yang telah mendorong arus masuk secara konsisten sepanjang tahun,” ujar Goh. Thailand juga mencatat arus keluar asing untuk bulan ketiga berturut-turut. Investor asing menjual bersih obligasi Thailand sebesar US$77 juta. Sementara itu, investor asing melepas US$232 juta obligasi India setelah sebelumnya mencatat pembelian bersih selama dua bulan berturut-turut. Berbeda dengan negara-negara tersebut, Malaysia dan Indonesia justru mencatat arus dana masuk. Investor asing membeli bersih obligasi Malaysia sebesar US$3,95 miliar. Sementara itu, obligasi Indonesia mencatat pembelian bersih sebesar US$1,3 miliar. Arus masuk tersebut menunjukkan investor asing masih selektif dalam menentukan pasar obligasi Asia.
Baca Juga: Wall St Dibuka Naik Jumat (18/9), S&P 500 dan Nasdaq Terangkat Penurunan Harga Minyak Pasar dengan tingkat imbal hasil yang relatif menarik dan fundamental domestik yang stabil tetap menjadi pilihan di tengah tekanan pada pasar obligasi global. Dengan demikian, meskipun terjadi aksi jual obligasi Asia secara keseluruhan pada Agustus, Indonesia masih mampu mencatatkan aliran modal asing positif ke pasar surat utangnya, Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News