Investor Asing Masih Agresif, Prospek Bisnis Kawasan Industri Cerah hingga Akhir 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek bisnis kawasan industri dinilai masih menjanjikan hingga akhir tahun 2026. 

Sejumlah pengelola kawasan industri masih mencatat tingginya minat investasi, terutama dari investor asing yang didorong oleh tren relokasi industri, dan ekspansi rantai pasok (supply chain). 

PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST) misalnya, hingga Maret 2026, mencatat pipeline permintaan lahan industri sekitar 72 hektare. Head of Corporate Finance and Investor Relation BEST, Rika Mandasari mengatakan, minat investasi dan penjajakan usaha saat ini terutama berasal dari Jepang dan Indonesia yang secara historis memiliki basis tenant kuat di kawasan MM2100.


Selain itu, perusahaan juga mencatat aktivitas penjajakan dari investor asal sejumlah negara Asia lainnya, mulai dari China, Singapura hingga Thailand.

"Hingga 1Q26, BEST atau dikenal dengan BeFa telah membukukan penjualan lahan industri seluas dua hektare dengan nilai marketing sales sebesar sekitar Rp55 miliar," ungkap Rika kepada Kontan.co.id, Jumat (5/6) lalu. 

Menurut Rika, permintaan investor asing masih lebih dominan dibandingkan investor domestik. Selain itu, tren relokasi industri, ekspansi supply chain serta kebutuhan fasilitas siap pakai juga ikut mendorong permintaan kawasan industri.

Meski belum mengungkapkan target marketing sales secara spesifik, BEST menargetkan pertumbuhan kinerja yang moderat pada tahun ini dengan kenaikan pendapatan dan laba bersih.

Sementara itu, PT Jababeka Tbk (KIJA) juga mempertahankan target marketing sales 2026 sebesar Rp 3,75 triliun. Hingga saat ini, realisasi marketing sales tercatat mencapai Rp 540 miliar atau sekitar 14% dari target tahunan.

Corporate Secretary KIJA Mulyadi Suganda mengatakan, capaian tersebut masih sejalan dengan pola historis penjualan perusahaan. "Walaupun ini bicara secara persen baru 14%, tapi itu tidak menjadi satu patokan. Karena kita lihat historical juga seperti itu," ujarnya.

Menurut Mulyadi, keputusan investasi investor asing sangat dipengaruhi oleh kondisi global dan keputusan principal di negara asal masing-masing perusahaan.

Dari sisi permintaan, kawasan industri Jababeka ditopang oleh investor asing, khususnya dari China dan kawasan Asia lainnya. Adapun sektor yang mendominasi meliputi consumer goods, tekstil, data center, baterai hingga bahan bangunan.

Di sisi lain, PT Suryacipta Swadaya, anak usaha PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA), juga optimistis target penjualan lahan industri tahun ini dapat tercapai. Perusahaan menargetkan penjualan lahan sebesar 14 hektare di Suryacipta City of Industry Karawang dan 60 hektare di Subang Smartpolitan.

Chief Commercial Officer PT Suryacipta Swadaya, Abednego Purnomo mengatakan optimisme tersebut didukung oleh keunggulan strategis kawasan dan efek domino yang tercipta dari ekosistem industri yang berkembang.

"Kami sangat optimis target tahun ini dapat tercapai secara optimal. Keunggulan strategis kawasan dan kuatnya efek domino pada ekosistem menjadi faktor penggerak utama," ungkap Abednego. 

Dari sisi permintaan, sektor otomotif masih menjadi kontributor utama, terutama kendaraan listrik dan industri pendukungnya. Selain itu terdapat permintaan dari sektor heavy machinery, elektronik, data centre, dan pergudangan.

Adapun sekitar 90% inquiry yang masuk berasal dari investor asing. Kontribusi terbesar berasal dari China, Korea Selatan dan Taiwan, sementara minat dari Jepang juga masih positif.

Meski prospek investasi masih positif, para pengelola kawasan industri menilai tantangan utama pada tahun ini terletak pada kecepatan realisasi investasi.

Menurut Rika, sinkronisasi kebijakan antar kementerian dan lembaga, percepatan perizinan, kepastian tata ruang, hingga penyelesaian berbagai hambatan di lapangan menjadi faktor penting agar investasi dapat segera terealisasi.

"Tantangan terbesar kawasan industri pada tahun 2026 bukan berasal dari minat investasi, melainkan dari aspek kepastian dan kecepatan eksekusi," jelasnya.

Senada, Suryacipta menilai investor masih cenderung mengambil sikap hati-hati sebelum merealisasikan investasi. Karena itu, penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dinilai menjadi faktor penting untuk mendorong realisasi investasi hingga akhir tahun.

Baca Juga: Mendag Sebut Minyakita Tak Lagi Disalurkan untuk Bantuan Pangan agar Stok Terjaga

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News