Investor Asing Mulai Cicil Saham Di Tengah Keterpurukan IHSG



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan yang menghantam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belum mereda. Namun, di balik koreksi indeks, diam-diam investor asing justru mencatatkan pembelian bersih atau net buy.

Sudah tiga hari perdagangan terakhir investor asing mencicil saham Indonesia. Dimulai pada Jumat (9/10) lalu, investor asing mencatatkan net buy Rp 30,40 miliar. Kemudian meningkat jadi Rp 142,75 miliar pada Senin (12/10) dan kembali naik jadi Rp 570,40 miliar pada Selasa (13/10).

Ada beberapa saham yang menjadi sasaran beli investor asing pada perdagangan kemarin. Misalnya ENRG sebanyak Rp 592,5 miliar, ASII Rp 44,7 miliar, dan TINS Rp 35,3 miliar.


Mulai masuknya investor asing, terjadi saat pasar saham dalam kubangan sentimen negatif. Pada Senin (12/10), IHSG meninggalkan level 6.000, tepatnya ke 5.936,15. Koreksi indeks berlanjut pada Selasa (13/10) yakni ke level 5.925,98.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai, investor layak mencermati aksi net buy asing di tengah koreksi IHSG. Namun, ia mengingatkan, aliran dana asing tersebut dipengaruhi oleh berbagai sentimen.

Salah satunya, kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang memperluas cakupan saham dalam metodologi kepemilikan saham konsentrasi tinggi atau high shareholding concentration (HSC).

Belakangan, saham dengan kapitalisasi pasar di atas Rp 5 triliun pun dihitung HSC mereka. Dampaknya, saham yang masuk ke kelompok HSC bertambah.

Selain itu, pasar diterpa oleh beredarnya rumor pengenaan sanksi terhadap sejumlah emiten dan perusahaan sekuritas yang diduga melakukan praktik manipulasi harga saham.

Meski masuknya asing ini dianggap sebagai sinyal positif, investor sebaiknya tidak langsung menganggap sebagai konfirmasi IHSG telah mencapai titik terendah atau menjadi waktu untuk memburu. Jadi, masih perlu kewaspadaan tinggi.

"Arus dana harian masih dapat dipengaruhi rebalancing indeks dan strategi jangka pendek," imbuh Nafan, Selasa (13/10).

Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia (UI), Budi Frensidy menimpali, walau investor asing mencatatkan net buy dalam beberapa hari terakhir, aksi jual asing lebih sering terjadi sepanjang 2026. Tren net buy asing belakangan ini perlu pembuktian lebih jauh.

Secara akumulatif, hingga Selasa (13/10), investor asing di 2026 membukukan net sell sebesar Rp 84,28 triliun, Lebih buruk dari tahun 2008 atau ketika krisis keuangan global terjadi. Waktu itu net sell asing tercatat sebanyak Rp 50,17 triliun. "Net sell investor asing sepanjang 2026 merupakan yang terburuk dibandingkan 1998 dan 2008," ujarnya.

Upaya pemulihan

Budi melanjutkan, terdapat beberapa indikator utama agar investor asing kembali lagi ke pasar saham nasional. Di antaranya adalah kombinasi antara stabilitas kurs rupiah, yield US Treasury atau dolar Amerika Serikat (AS) melemah, laba emiten direvisi naik; serta kebijakan fiskal pemerintah yang pro-rakyat.

Sementara itu, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Irvan Susandy mengakui besarnya net sell asing sepanjang 2026 tak terlepas dari faktor eksternal dan internal. BEI berupaya memastikan pasar modal Indonesia semakin transparan, likuid, dan kredibel.

Sehingga mampu menarik investasi yang berkelanjutan, baik dari investor domestik maupun asing. "Hal ini sejalan program Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tentang delapan rencana aksi percepatan reformasi integritas pasar modal Indonesia," imbuh dia.

Nafan menyebut, keberhasilan reformasi tidak cukup diukur hanya dari realisasi net buy asing dalam hitungan harian. "Pasar butuh perbaikan likuiditas, keterbukaan informasi, kepastian regulasi, dan arus modal asing berkelanjutan, tutur dia.

Di tengah tren net buy asing saat pasar tertekan, investor disarankan mulai menyusun akumulasi saham secara bertahap, tanpa terburu-buru melakukan pembelian agresif. Pendekatan buy on weakness dapat dipertimbangkan investor, terutama pada saham berfundamental memadai.

Nafan juga bilang, investor perlu mempertimbangkan prospek pertumbuhan bisnis, likuiditas perdagangan, dan valuasi setelah koreksi. Selain itu, investor perlu memantau volume transaksi serta kemampuan harga saham bertahan di area support.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News