Investor Emas Perlu Cermati Arah Dolar AS hingga Risiko Geopolitik



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Investor perlu mencermati strategi investasi emas di tengah pergerakan harga yang masih fluktuatif.

Penguatan dolar Amerika Serikat (AS), arah suku bunga The Federal Reserve (The Fed), hingga risiko geopolitik menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi pergerakan harga logam mulia.

Melansir Trading Economics pada Senin (12/10/2026) pukul 17.37 WIB, harga emas global berada di level US$ 4.179 per ons troi, terkoreksi 0,35% secara harian.


Meski demikian, harga emas masih menguat 0,95% dalam sepekan, tetapi melemah 2,79% dalam sebulan terakhir.

Baca Juga: Harga Emas Terkoreksi Usai Sentuh Level Tertinggi Sepekan, Cek Pemicunya

Analis komoditas sekaligus Founder Traderindo.com Wahyu Laksono mengatakan, pergerakan harga emas dalam jangka pendek masih dipengaruhi dinamika kebijakan moneter AS dan perkembangan geopolitik global.

Penguatan dolar AS dan ekspektasi suku bunga tinggi dapat menekan harga emas. Sebaliknya, ketidakpastian ekonomi dan meningkatnya risiko geopolitik berpotensi mendorong permintaan emas sebagai aset lindung nilai atau safe haven.

Karena itu, investor perlu mencermati perkembangan inflasi AS dan sinyal kebijakan The Fed untuk mengantisipasi perubahan arah harga emas.

Dari sisi strategi, Wahyu menyarankan investor melakukan pembelian secara bertahap atau dollar-cost averaging (DCA), ketimbang langsung menempatkan seluruh dana di tengah kondisi pasar yang bergejolak.

"Daripada menempatkan seluruh dana dalam satu waktu (lump sum) di tengah pasar yang bergejolak, lakukan pembelian secara bertahap, misalnya setiap bulan secara rutin," ujar Wahyu kepada Kontan, Senin (12/10/2026).

Baca Juga: Harga Emas Diproyeksi Tembus US$ 5.400 per Ons Troi pada 2027

Selain menentukan waktu pembelian, investor juga perlu mengatur alokasi emas dalam portofolio. Wahyu menyarankan agar emas menjadi bagian dari diversifikasi aset, bukan satu-satunya instrumen investasi.

"Jadikan emas sebagai bagian dari diversifikasi portofolio, umumnya disarankan pada kisaran yang wajar sesuai profil risiko, misalnya 10% hingga 20% dari total aset investasi," jelasnya.

Investor juga perlu menyesuaikan instrumen emas yang dipilih dengan kebutuhan, baik berupa emas fisik, emas digital, maupun produk pasar modal seperti exchange-traded fund (ETF) emas.

Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp 2.000 Menjadi Rp 2.594.000 per Gram, Senin (12/10)

Masing-masing instrumen memiliki karakteristik berbeda dari sisi likuiditas, biaya pengelolaan, dan risiko transaksi.

Wahyu bilang, investasi emas sebaiknya diarahkan untuk tujuan jangka menengah hingga panjang. Investor juga perlu memisahkan dana darurat dari dana investasi agar tidak terpaksa menjual emas ketika harga sedang terkoreksi.

"Volatilitas harian atau mingguan adalah hal yang lumrah dalam siklus komoditas. Pastikan tujuan investasi emas kita dipatok untuk jangka menengah hingga panjang, minimal 3–5 tahun ke depan, agar terlindung dari kepanikan jangka pendek," paparnya.

Dari sisi prospek harga, Wahyu memperkirakan harga emas global bergerak di kisaran US$ 4.300 hingga US$ 5.000 per ons troi menjelang akhir 2026. Dalam skenario moderat, harga emas berpotensi menguji level US$ 4.500 per ons troi.

Jika prospek kebijakan The Fed bergeser lebih akomodatif, harga emas berpeluang melanjutkan penguatan menuju US$ 4.800 hingga US$ 4.900 per ons troi.

Baca Juga: Koreksi Harga Emas Sebatas Konsolidasi, Simak Rekomendasi Analis Berikut

Namun, apabila bank sentral AS kembali mengisyaratkan pengetatan moneter yang lebih agresif, harga emas berisiko terkoreksi ke kisaran US$ 4.000 hingga US$ 3.500 per ons troi.

Memasuki awal 2027, peluang penguatan emas masih terbuka apabila inflasi mulai melandai dan suku bunga riil turun. Permintaan bank sentral global serta meningkatnya ketidakpastian ekonomi juga berpotensi menopang harga logam mulia tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News