KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Pasar komoditas global mengalami tekanan tajam pada Senin (2/2/2026), dipimpin oleh penurunan signifikan harga emas, perak, minyak, dan logam industri, menyusul aksi jual yang dipicu oleh keputusan Presiden Donald Trump menunjuk Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve AS berikutnya. Akibatnya, logam mulia jatuh untuk sesi kedua berturut-turut. Kehancuran di pasar komoditas turut merembet ke pasar saham, seiring investor melepas aset lain untuk menutupi kerugian dari logam mulia. Saham global jatuh untuk hari ketiga berturut-turut, dengan tekanan paling besar terlihat di Asia dan Eropa, di mana saham sektor sumber daya dasar menjadi sorotan utama. Indeks MSCI All-World turun 0,5% pada hari itu, setelah anjlok 1,5% sejak rekor tertinggi pada 27 Januari. Kekhawatiran investor juga tercermin dari kenaikan indeks volatilitas VIX yang mendekati level 20, yang dianggap sebagai tanda meningkatnya ketegangan di pasar.
Harga emas merosot 5% ke level terendah lebih dari dua minggu, sementara perak jatuh lebih dari 7%, meski kedua logam ini mencatat rekor tertinggi pekan lalu. Harga minyak turun hampir 5%, meski sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi beberapa bulan, sedangkan tembaga di London Metal Exchange turun 3%.
Baca Juga: Bursa Eropa Tertekan, Kejatuhan Harga Komoditas Seret Pasar Saham Keputusan Trump pada Jumat lalu untuk menunjuk Warsh, mantan gubernur Federal Reserve, menggantikan Jerome Powell sebagai kepala bank sentral pada Mei mendatang, memicu aksi jual di pasar keuangan. Indeks utama Wall Street juga ditutup lebih rendah pada Jumat: Dow Jones Industrial Average turun 0,36%, S&P 500 turun 0,43%, dan Nasdaq Composite turun 0,94%. Pilihan Trump terhadap Warsh mengejutkan pasar karena menggagalkan ekspektasi bahwa pengganti Powell akan mendorong pelonggaran moneter agresif. Pengumuman ini juga mendorong dolar AS menguat, yang pada gilirannya membuat komoditas lebih mahal bagi pemegang mata uang lain dan menekan permintaan. Meskipun Warsh kini mendukung penurunan suku bunga, reputasinya sebagai “inflation hawk” saat menjabat di Fed sebelumnya membuat investor waspada. “Keputusan pasar untuk melepas logam mulia bersamaan dengan saham AS menunjukkan investor melihat Warsh sebagai lebih hawkish,” ujar Vivek Dhar, pakar komoditas di Commonwealth Bank of Australia. Sikap hawkish The Fed menandakan suku bunga akan tetap tinggi lebih lama, mendukung dolar AS dan meningkatkan biaya peluang memegang emas dan perak, sehingga menurunkan daya tariknya.
Baca Juga: Harga Emas, Perak, dan Tembaga Anjlok Usai Sentuh Rekor Tertinggi Dhar menambahkan, “Dolar AS yang lebih kuat juga menambah tekanan pada logam mulia dan komoditas lainnya, termasuk minyak dan logam dasar.” Meski demikian, ia tetap mempertahankan perkiraan harga emas sebesar US$6.000 pada kuartal keempat.
Penjualan Logam Mulia Mempercepat Kenaikan Margin
Penurunan harga logam mulia dimulai pada Jumat, dengan emas mencatat penurunan harian terbesar sejak 1983, lebih dari 9%, sementara perak jatuh 27% dalam penurunan harian terbesar dalam sejarah. Aksi jual logam mulia semakin cepat setelah CME Group menaikkan margin pada kontrak berjangka logam mulai penutupan pasar Senin. Kenaikan persyaratan margin umumnya berdampak negatif bagi kontrak yang terdampak, karena membutuhkan modal lebih besar, mengurangi partisipasi spekulatif, menurunkan likuiditas, dan mendorong trader untuk menutup posisi. “Skala pelepasan posisi emas hari ini belum pernah saya saksikan sejak krisis keuangan global 2008,” kata analis pasar IG, Tony Sycamore. Sementara itu, pasar energi juga mengalami tekanan akibat indikasi meredanya ketegangan AS-Iran setelah komentar Trump pada akhir pekan bahwa Iran “sedang berbicara serius” dengan Washington, meredakan kekhawatiran konflik dengan anggota OPEC tersebut.
Baca Juga: Bursa Australia Menguat, Ditopang Kenaikan Harga Komoditas Jelang Data Inflasi Sycamore menambahkan, laporan bahwa angkatan laut Iran tidak berencana melakukan latihan tembak nyata di Selat Hormuz juga menunjukkan de-eskalasi. Pasar tembaga dan bijih besi menghadapi tantangan karena kekhawatiran terhadap inventaris tinggi dan permintaan yang lesu menjelang libur Tahun Baru Imlek di China, pembeli terbesar logam industri dan komoditas massal. Transaksi diperkirakan akan lambat sebelum libur yang dimulai pada 15 Februari, menurut analis.
Di komoditas lain, harga karet di Tokyo turun hampir 3%, sedangkan gandum dan kedelai di Chicago masing-masing turun sekitar 1%. “Pertanyaan utama adalah apakah ini menandai awal penurunan struktural harga komoditas atau sekadar koreksi,” kata Dhar. “Kami melihat ini sebagai koreksi dan kesempatan membeli, bukan perubahan fundamental.”