Investor kondotel masih menahan diri



JAKARTA. Memasuki pertengahan kuartal I-2017 ini belum tampak tanda-tanda gairah pasar properti. Tak terkecuali pasar properti investasi yakni kondominium hotel (kondotel). Pengembang properti yakin, investor masih menahan diri.

Vivi Herlambang, Direktur PT Hotel Sahid Jaya International Tbk, menyatakan, pangsa pasar kondotel masih sulit. Kondisi saat ini adalah kelanjutan dari situasi pasar properti yang berat pada tahun 2016 lalu. "Orang jadi memilih investasi ke yang lain," katanya saat dihubungi KONTAN, Selasa (7/2).

Saat kondisi pasar baik, Sahid Jaya biasa menjual 9-10 unit kondotel dalam satu proyek. Namun setahun belakangan ini, perusahaan berkode saham SHID di Bursa Efek Indonesia itu sudah merasa cukup beruntung dengan hanya melego lima unit kondotel per proyek.


Dalam catatan KONTAN, tahun ini Sahid Jaya akan melanjutkan pengembangan proyek kondotel dan apartemen Sahid Bangka di Bangka. Mereka menargetkan proyek tersebut rampung dibangun tahun 2018.

Sahid Jaya juga tengah mengembangkan kondotel dan apartemen di Timika, Papua dengan mengusung nama Sahid Timika. Target penyelesaiannya juga tahun 2018. Sahid Jaya akan melengkapi proyek di timur Indonesia itu dengan proyek lain seperti pusat perbelanjaan.

Fritz Bonar Panggabean, Chief Marketing Officer PT Indra Megah Makmur, juga mengakui bahwa pasar kondotel memang masih lesu. Selain kondisi makro ekonomi, dia mencermati konsep pengelolaan kondotel yang kurang tepat oleh pengembang. Hal itu membikin investor menjadi ragu untuk membenamkan duitnya dalam investasi kondotel.

Mestinya, pengembang memperlakukan investasi kondotel layaknya pusat perbelanjaan. Sasaran pengembang membangun proyek kondotel dan pusat perbelanjaan adalah pendapatan berulang alias recurring income.

Nah, risiko proyek recurring income adalah waktu balik modal lebih lama ketimbang proyek properti jual. Rata-rata bahkan bisa delapan tahun hingga sepuluh tahun. "Banyak pengembang yang mauanya balik modal cepet, mereka lupa kalau kondotel ini long term investment and relation dengan investor," ujar Fritz kepada KONTAN, Senin (6/2).

Meskipun pasar belum panas, Indra Megah Makmur tak ragu mengembangkan Aston Ciloto Puncak Hotel & Resort di Bogor, Jawa Barat. Proyek tersebut akan terdiri dari 100 unit kondotel dan 86 unit hotel. Mereka akan membangun proyek mulai tahun ini dengan modal Rp 200 miliar.

Kondominium juga lesu

Tidak cuma kondotel, pasar kondominium juga bernasib sama. "Industri properti masih flat, ya, termasuk terjadi di pasar kondominium," ujar Theresia Rusadi, Sekretaris Perusahaan PT Intiland Development Tbk.

Saat ini Intiland memiliki proyek kondominium Graha Golf di Surabaya. Kondominium ini merupakan pengembangan dari proyek di kawasan perumahan Graha Famili Surabaya.

Sejak tahun 2015, Intiland menjajakan Graha Golf Tower II. Kondominium tersebut terdiri dari 79 unit hunian. Sebelumnya, perusahaan berkode saham DILD di BEI tersebut sudah meluncurkan Graha Golf Tower I yang juga berisi 79 unit.

Sementara kondominium Intiland yang sudah beroperasi ada di Jakarta Selatan, yakni 1 Park Residence. Manajemen perusahaan ini mengklaim, tingkat keterisian atau okupansi kondominium itu mencapai 95%.

Sedangkan PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk pernah menyatakan tertarik membangun kondominium. Namun, perusahaan berkode saham PJAA di BEI tersebut masih harus mematangkan rencana. "Mungkin ada, tapi belum direalisasikan," tutur Ellen Gaby Tulangow, Sekretaris Perusahaan PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Dupla Kartini