Investor konservatif masih jadi peluang besar pasar reksadana



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Potensi pasar industri reksadana di Indonesia masih tinggi. Maklum, saat ini mayoritas masyarakat masih menempatkan sebagian besar simpanannya dalam bentuk tabungan dan deposito. Dari total 250 juta penduduk Indonesia, baru sekitar 600.000 orang saja yang memiliki produk reksadana.

Potensi besar ini tak mau disia-siakan PT Manulife Asset Management Indonesia (MAMI) dengan menggarap produk-produk reksadana sesuai kebutuhan pasar masyarakat Indonesia.

"Saat ini uang yang tersimpan di sektor perbankan itu ada Rp 5.000 triliun, artinya sebagian besar keluarga Indonesia masih cenderung konservatif dalam berinvestasi," kata Legowo Kusumonegoro, Presiden Direktur MAMI, Selasa (27/3).


Legowo bilang, potensi pasar ini perlu diperkenalkan produk investasi dalam bentuk reksadana dengan tingkat risiko rendah. Meski berisiko rendah, imbal hasil yang ditawarkan masih relatif lebih tinggi ketimbang menyimpan uang dalam bentuk tabungan maupun deposito.

Minat pasar terhadap produk reksadana dengan risiko rendah seperti Manulife Pendapatan Bulanan II (MPB II) pun cukup tinggi. Makanya, meski tak menerbitkan produk baru MAMI tetap memperkaya fitur dalam reksadananya agar tetap digemari pasar.

Ezra Nazula, Kepala Investasi MAMI bilang MPB II memiliki fitur unik. "Dalam produk MPB II, kami mencari obligasi bertenor pendek dengan tingkat volatilitas rendah, dan ada fitur dividen tiap bulan jadi membantu arus kas bagi investor yang membutuhkan dana setiap bulan," kata Ezra.

Selain itu, masyarakat muslim sebesar 85% dari total penduduk Indonesia juga jadi ceruk pasar yang menarik. Tahun ini, MAMI juga akan fokus menggarap produk reksadana syariah. "Selain pasar muslim, kalangan investor muda punya keinginan berinvestasi di bisnis yang ramah lingkungan dan beretika, dan reksadana syariah ini adalah proksi dari investasi yang beretika," kata Legowo.

Meski begitu, MAMI belum mau membeberkan produk baru apa yang akan diterbitkan. Heryadi Indrakusuma, Direktur Marketing MAMI bilang produk baru biasanya menyesuaikan kebutuhan pasar. "Saat ini kami sudah punya produk range yang sangat komplit, dengan produk konservatif hingga agresif, dalam desain produk baru biasanya kami melihat kebaruan apa yang dibutuhkan pasar," kata Heryadi.

Legowo menambahkan, tak mudah melahirkan produk reksadana baru begitu saja. Soalnya, dengan meluncurnya produk baru, MAMI perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk tim manajer investasi baru yang meracik portofolio dan mengatur kelas aset produk tersebut.

Meski tak mengeluarkan produk baru biasanya MAMI meluncurkan produk lama dengan fitur baru. "Bisa juga dengan menambah investor baru dengan menambah benefit produk," kata Legowo.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Sofyan Hidayat