KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Reksa dana pendapatan tetap (RDPT) diperkirakan masih akan menjadi primadona investor pada 2026, seiring tren penurunan suku bunga yang berlanjut meski tidak seagresif tahun sebelumnya. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, total dana kelolaan reksadana pada Desember 2025 mencapai Rp 679,24 triliun. Angka ini melonjak signifikan dibandingkan Desember 2024 yang sebesar Rp 502,92 triliun, atau tumbuh sekitar 35,1% secara year on year (YoY). Adapun reksadana pendapatan tetap masih menjadi reksadana dengan total dana kelolaan terbesar, yakni mencakup Rp 244,45 triliun atau tumbuh 66,94% YoY.
Direktur Panin Asset Management, Rudiyanto menilai dominasi RDPT berpeluang bertahan cukup lama. Menurutnya, kinerja obligasi yang sangat kuat pada 2025, bahkan banyak mencatatkan imbal hasil di atas 10%, menjadi faktor utama melonjaknya minat investor.
Baca Juga: Dana Kelolaan Industri Reksadana Melonjak, Pendapatan Tetap Paling Jadi Incaran Pada 2025 suku bunga turun dan obligasi naik signifikan, sehingga kinerja historis RDPT terlihat sangat menarik. “Ditambah lagi, peluang penurunan suku bunga masih berlanjut di 2026, sehingga penjualan RDPT, terutama melalui selling agent perbankan, cukup masif dan mendorong kenaikan AUM secara signifikan,” ujar Rudiyanto kepada Kontan, Senin (13/1/2026). Dia menambahkan, karakter investor yang mayoritas konservatif juga menjadi penopang utama keberlanjutan minat terhadap RDPT. Sehingga profil risiko yang relatif rendah membuat RDPT dinilai cocok sebagai instrumen investasi jangka menengah hingga panjang bagi segmen tersebut.
Baca Juga: Reksadana Pendapatan Tetap dan Pasar Uang Makin Dominan, Begini Prospeknya Meski demikian, Rudiyanto mengingatkan bahwa katalis positif RDPT pada 2026 tidak akan sebesar tahun lalu. Penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI) masih berpotensi terjadi, namun ruang penurunannya semakin terbatas. “Penurunan suku bunga masih mungkin, tetapi tidak bisa agresif. Kemungkinan level terendahnya berada di kisaran 4%-4,25%. Artinya, potensi kenaikan harga obligasi akan sulit mengulang kinerja 2025,” jelasnya. Kemudian, pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga menjadi sentimen yang perlu dicermati investor. Kondisi tersebut dinilai dapat memberi tekanan terhadap sentimen pasar obligasi, khususnya pada Surat Berharga Negara (SBN). Terkait strategi investasi, Rudiyanto menyarankan manajer investasi untuk lebih selektif dalam menyusun portofolio RDPT.
Baca Juga: AUM Reksadana Pendapatan Tetap Berpeluang Tembus Rp 200 Triliun pada Akhir 2025 Optimalisasi obligasi berjangka panjang dengan kupon tinggi dinilai masih menarik, terutama jika dikombinasikan dengan obligasi korporasi bagi RDPT yang memiliki fleksibilitas kebijakan investasi. “Strateginya adalah memaksimalkan obligasi jangka panjang dengan kupon tinggi, atau kombinasi dengan obligasi korporasi untuk meningkatkan imbal hasil,” ujarnya. Dengan berbagai peluang dan tantangan tersebut, Rudiyanto memperkirakan imbal hasil RDPT pada 2026 akan lebih moderat dibandingkan tahun sebelumnya. Ia memproyeksikan yield RDPT berada di kisaran 5%-7% sepanjang tahun ini. “Meski tidak setinggi 2025, RDPT tetap menarik sebagai instrumen investasi defensif, terutama bagi investor yang mengutamakan stabilitas di tengah dinamika pasar,” pungkasnya.
Baca Juga: Return Reksadana Pendapatan Tetap Masih yang Tertinggi Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News