KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah emiten di berbagai sektor kembali membagikan dividen interim kepada para pemegang saham. Pembagian dividen ini menjadi salah satu peluang bagi investor untuk memperoleh imbal hasil di tengah dinamika pergerakan pasar saham. Berdasarkan data yang dihimpun KONTAN, 14 emiten akan membagikan dividen interim dengan jadwal
cum date pada 6 November hingga 12 November 2026. Daftar saham yang akan membagikan dividen interim tersebut meliputi CNMA, SMSM, AVIA, TAPG, MEDC, SSMS, BWPT, ITMG, IFII, MIDI, META, MARK, ASSA, dan SMAR.
SMAR menawarkan indikasi
dividend yield tertinggi, mencapai 7,72%. Emiten perkebunan ini membagikan dividen interim sebesar Rp 490 per saham dengan total nilai distribusi sekitar Rp 1,4 triliun.
Baca Juga: OJK Jatuhkan Denda Rp 2,23 Triliun kepada 169 Pihak hingga Oktober 2026 SSMS menempati posisi kedua dengan indikasi
dividend yield sebesar 5,51%. SSMS menetapkan dividen interim sebesar Rp 52,9 per saham dengan total pembayaran mencapai Rp 500 miliar. Lalu, CNMA berada di posisi ketiga dengan indikasi
dividend yield sebesar 5,48%. CNMA membagikan dividen interim sebesar Rp 4 per saham dengan total nilai sekitar Rp 333,1 miliar. Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang mengatakan investor masih bisa mendapatkan untung dari memburu saham dividen sebelum
cum date. Alrich bilang dividen interim dapat menjadi salah satu sumber return ketika pasar sedang lesu dan
capital gain relatif sulit diperoleh. Namun, investor perlu memahami bahwa dividen bukan keuntungan yang otomatis didapatkan. Pada saat memasuki
ex-date, harga saham secara teoritis akan mengalami penyesuaian sebesar nilai dividen yang dibagikan. Artinya, jika harga saham turun lebih besar daripada nilai dividen yang diterima, investor tetap berpotensi mengalami kerugian.
Baca Juga: Tiga Kuartal Beruntun Cetak Laba, Saham GOTO Masih di Rp 25 Segini Hitungan Idealnya "Maka dari itu strategi memburu dividen sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan
dividend yield, tetapi juga fundamental perusahaan, valuasi, tren harga, dan potensi pemulihan saham setelah ex-date," kata Alrich kepada Kontan, Rabu (5/11/2026). Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama juga sepakat peluang dividen hunting masih terbuka di tengah pasar yang lesu, terutama pada saham dengan yield menarik. "Namun, investor perlu memperhitungkan potensi penurunan harga saat ex-date. Jangan sampai dividen yang diterima justru lebih kecil dibandingkan capital loss," tambah Elandry.
Emiten yang Menarik Dicermati
Alrich berpendapat SSMS menarik dicermati karena menawarkan indikasi
dividend yield sekitar 5,51%. Selain itu, kinerja keuangan perusahaan selama sembilan bulan pertama 2026 juga menunjukkan pertumbuhan yang solid. SSMS membukukan laba bersih sekitar Rp 1,58 triliun, meningkat 58,43% secara tahunan atau
year on year (YoY). Pendapatan SSMS juga tumbuh 34,85% YoY menjadi Rp 14,83 triliun. Kinerja tersebut menunjukkan pembagian dividen ditopang oleh pertumbuhan operasional perusahaan.
Baca Juga: Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 18.082 Per Dolar AS Hari Ini (5/11), Dolar AS Terkoreksi Saham PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) juga layak dicermati dari sisi fundamental dan pertumbuhan bisnis. Hingga September 2026, pendapatan TAPG meningkat 15,09% YoY menjadi Rp 9,45 triliun. Sementara itu, laba bersih tumbuh 30,82% menjadi Rp 3,51 triliun dan arus kas operasional naik menjadi Rp 2,95 triliun. Dengan indikasi
dividend yield sekitar 3,73%, daya tarik TAPG tidak hanya berasal dari pembagian dividen, tetapi juga pertumbuhan kinerja keuangannya. Berikutnya, SMAR menawarkan
dividend yield paling tinggi di antara emiten dalam daftar tersebut, yakni sekitar 7,72%. Kinerja keuangan perseroan selama sembilan bulan pertama 2026 juga cukup kuat. Laba bersih SMAR tercatat sekitar Rp 4,06 triliun, meningkat 155,34% YoY. Kendati demikian, investor perlu tetap memperhatikan volatilitas harga minyak kelapa sawit mentah atau
crude palm oil (CPO) serta risiko siklus industri perkebunan yang dapat mempengaruhi kinerja. Sementara itu, PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM) dapat menjadi pilihan bagi investor yang mengutamakan konsistensi pembagian dividen. Indikasi yield SMSM sekitar 2,82%. Meski relatif lebih rendah dibandingkan beberapa emiten lainnya, daya tarik saham ini terletak pada rekam jejak pembagian dividen interim secara berkala serta konsistensi bisnis perusahaan.
Baca Juga: OJK Catat Dana Kelolaan ETF Emas Mencapai Rp 110,26 Miliar per Oktober 2026 Selain itu, PT Avia Avian Tbk (AVIA) juga dapat masuk dalam radar investor. Emiten produsen cat ini menawarkan indikasi dividend yield sekitar 4,14%. Dari sisi kinerja, AVIA membukukan laba bersih sebesar Rp 1,38 triliun selama sembilan bulan pertama 2026, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, Elandry menilai saham yang menarik dicermati adalah SMAR dengan yield 7,72%, SSMS (5,51%), CNMA (5,48%), AVIA (4,14%), dan ASSA (4,10%). SMAR dan SSMS menarik dari sisi yield dan eksposur sektor sawit, sementara CNMA, AVIA, dan ASSA menawarkan alternatif dari sektor konsumsi, bahan bangunan, dan logistik. Kendati demikian, investor retap perlu memperhatikan fundamental dan keberlanjutan laba masing-masing emiten. Di tengah peluang memperoleh dividen, Alrich mengingatkan investor agar tidak hanya terpaku pada besaran
dividend yield. Yield yang tinggi belum tentu mencerminkan prospek investasi yang menarik karena bisa saja disebabkan oleh penurunan harga saham akibat memburuknya fundamental perusahaan. Investor juga perlu memperhatikan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dan arus kas. Pembagian dividen yang sehat idealnya ditopang oleh kinerja operasional yang berkelanjutan, bukan semata-mata mengandalkan saldo laba. Selain itu,
dividend payout ratio perlu menjadi salah satu pertimbangan. Rasio pembagian dividen yang terlalu besar dibandingkan laba perusahaan berpotensi sulit dipertahankan dalam jangka panjang.
Dari sisi pasar, investor sebaiknya mengevaluasi valuasi dan tren pergerakan teknikal saham. Membeli saham yang masih berada dalam tren penurunan kuat hanya demi mengejar
cum date dapat meningkatkan risiko kerugian. Dus, level support, volume transaksi, serta indikasi meredanya tekanan jual juga perlu diperhatikan. Terakhir, investor perlu menghitung potensi imbal hasil secara keseluruhan atau total
return, yakni dengan memperhitungkan dividen yang diterima serta perubahan harga saham. "Jangan sampai dividen yang diperoleh justru tidak sebanding dengan
capital loss," jelas Alrich. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News