Investor Masih Hati-Hati, Penawaran Masuk Lelang SBSN Mencapai Rp 33,51 Triliun



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Minat investor terhadap Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) ternyata membaik. Hal ini tercermin dari kenaikan jumlah penawaran yang masuk pada lelang SBSN atawa sukuk negara yang digelar hari ini, Selasa (22/2).

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, jumlah penawaran yang masuk mencapai Rp 33,51 triliun. Angka ini naik jika dibandingkan dengan lelang SBSN dua pekan sebelumnya (8/2) yang mencapai Rp 29.39 triliun.

Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto mengatakan, sebenarnya kondisi pasar saat ini belum banyak berubah. Oleh karena itu, walaupun naik tapi kenaikan penawaran tidak signifikan.


Baca Juga: Penawaran Masuk Dalam Lelang Sukuk Selasa (22/2) Mencapai Rp 33,51 Triliun

Menurut dia, saat ini pelaku pasar cenderung masih mengambil sikap wait and see menanti sikap lanjutan The Fed soal kenaikan suku bunga acuan AS setelah rampungnya tapering pada Maret mendatang. Alhasil, investor pun masih hati-hati dan cenderung tidak terlalu ngotot untuk masuk ke pasar obligasi untuk saat ini.

“Jika dilihat, secara umum pelaku pasar meminta yield yang lebih tinggi karena ekspektasi kenaikan suku bunga acuan ke depan,” kata Ramdhan kepada Kontan.co.id, Selasa (22/2).

Dia bilang, hal ini tercermin dari daya serap pemerintah pada lelang kali ini yang hanya sebesar Rp 9 triliun, atau lebih rendah dari target indikatif yang sebesar Rp 11 triliun. Artinya, pemerintah pada lelang kali ini hanya memenangkan yield yang dirasa sesuai dengan yield sekunder. Keputusan ini disebut sebagai bentuk pemerintah menjaga bargaining power sekaligus menjaga keseimbangan pasar primer dan sekunder.

Baca Juga: Laris Manis, Investor Ritel Pembeli ORI021 Mencapai Rekor Baru

Adapun, pada lelang hari ini, seri SPN-S 09082022 yang akan jatuh tempo pada 9 Agustus 2022 menjadi seri yang paling banyak diburu investor dengan jumlah penawaran masuk hingga Rp 21,47 triliun.

Ramdhan meyakini, kelompok perbankan merupakan yang paling mendominasi pada seri tersebut mengingat SPSN bisa jadi pilihan yang lebih menarik dibanding deposito. “Selain itu, seri ini juga punya risiko yang minim karena volatilitas yield yang minim. Alhasil, perbankan dengan likuiditas yang berlimpah, masuk ke seri ini,” tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati