Investor menunggu Trump, bursa Asia mixed



SINGAPURA. Pasar saham Asia berakhir mixed pada transaksi perdagangan Selasa (28/2). Data yang dihimpun CNBC menunjukkan, pada pukulĀ  15.18 waktu Singapura, indeks Nikkei 225 Stock Average ditutup flat di level 19.118,99. Sedangkan indeks Topix naik 0,09% menjadi 1.535,32.

Sejumlah saham eksporter tak bertenaga akibat penguatan yen. Di awal perdagangan, yen perkasa ke posisi 112,29 per dollar AS. Pada pukul 15.11 waktu Singapura, pasangan dollar/yen ditransaksikan di level 112,44.

Saham Toyota naik 0,64%, saham Nissan naik 0,09%, saham Honda turun 0,26%, dan saham Sony naik 0,69.


Sedangkan saham Takata turun 0,18% setelah perusahaan terbukti bersalah dan setuju untuk membayar denda pinalti senilai US$ 1 miliar terkait cacat produk pada jutaan air bag produksinya.

Di Korea Selatan, indeks Kospi ditutup naik 0,29% menjadi 2.091,64. Saham-saham Grup Samsung berakhir positif kendati beredar berita, hakim akan menyatakan Jay Y Lee bersalah atas keterlibatannya pada skandal korupsi.

Samsung ELectronics ditutup naik 1%, Samsung SDI naik 1,6%, dan Samsung Engineering naik 2,1%. Sedangkan saham Samsung C&T turun 1,6%.

Di Hong Kong, indeks Hang Seng turun 0,74% pada transaksi sore ini. Shanghai Composite naik 0,43% di 3.242,65. Sedangkan indeks Shenzhen Composite naik 0,63% menjadi 2.001,32.

Sementara di Australia, indeks ASX 200 turun 0,21% menjadi 5.712,22. Hampir seluruh sektor tertekan. Hanya sektor energi yang mendaki 0,9% akibat harga minyak yang stabil.

Saat ini, investor menanti pidato dari Presiden AS Donald Trump. Trump memang dijadwalkan berpidato di sesi gabungan Kongres AS pada Selasa (28/2). Investor berharap, Trump akan merilis detail rencananya mengenai reformasi pajak dan deregulasi.

"Cukup sulit untuk mengetahui apa yang market harapkan dari pidato di sesi gabungan ini. Namun, ekspektasi terkait penjelasan lebih jauh mengenai kondisi fiskal, kebijakan pajak, dan infrastruktur sepertinya merupakan harapan yang terlalu tinggi," jelas David de Garis, director National Australia Bank.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie